Boba berjalan terpincang-pincang keluar dari rumahnya. Pagi itu ia akan pergi sekolah, tapi ia terkejut, ketika di depan rumahnya telah berdiri Evelyn, Ovi dan Jon. Ia tahu apa yang akan terjadi, dan ia tahu tidak bisa melarikan diri karena luka tusuk di pahanya belumlah sembuh, maka Boba hanya bisa pasrah mengikuti mereka masuk ke dalam mobil yang membawanya pergi.
***
“Jacob Mencuritama,” ucap kakek, “ya Bapak tahu dia, salah satu pengusaha di negeri ini yang dekat dengan penguasa. Dan dia orang tua dari Evelyn.” Agni mengangguk. “Itulah alasan kenapa Agni khawatir dengan keselamatan Adit dan Anin.” Ia lalu menatap pada anak kembarnya. “Dia bukan lawan kita,” lanjut Agni. Kakek manggut-manggut.
Mata Anindya tiba-tiba melebar. “Sepertinya ibu Gorilla dapet ide tuh Ma,” kata Aditya. “Kalau dia bukan lawan kita, berarti kita harus carikan dia lawan yang sepadan!” cetus Agni, “dan aku tahu siapa!”
Agni, Aditya dan kakek menatap Agni.
“Heh, Bu Gor, apa jawabannya? Kita nungguin nih,” kesal Aditya. “Oh nungguin toh,” cengir Anindya. Agni, Aditya dan kakek mengangguk-ngangguk. “Yang bisa melawan Jacob Mencuritama adalah … netijen!” seru Agni. “Maksudmu?” Agni mengerutkan kening.
Aditya tertawa. “Aku tahu maksudnya Ma! Kita viralkan kasus ini!”
“Viral? Apa itu?” Agni dan kakek belum mengerti.
“Maksudnya kita sebarluaskan cerita tentang Kak Anggi ini di sosial media supaya orang-orang tahu, kalau orang-orang tahu maka mereka akan membuat kepolisian bekerja untuk menangkap orang-orang yang membunuh Kak Anggi untuk diadili,” jelas Anindya.
Agni manggut-manggut baru mengerti.
“Di negeri ini kalau ga viral ga akan diusut Ma, tapi kita butuh bukti untuk netijen,” kata Anindya. “Mama punya rekaman suara waktu kejadian di hape Anggi, itu bisa jadi bukti!” cetus Agni.
“Pas banget Ma, mana? Kita sebarin, tapi pertama-tama aku bikin akun sosial media baru dulu,” ujar Anindya. Agni segera mengambil telepon Anggi dan menyerahkannya pada Anindya.
“Kita ga bisa melawan Jacob secara langsung, maka kita sebarkan bukti ini ke masyarakat supaya mereka yang menuntut para pelaku untuk diadili, ini cara yang bagus buat orang-orang seperti kita yang tidak memiliki koneksi, uang dan kuasa, untuk menekan penguasa yang zalim, pintar kamu Nin,” puji kakek.
“Sudah banyak yang melakukan ini kok Kek,” kata Anindya, “sekarang kita sebarkan!”
***
Rosa berlari-lari dengan wajah tegang menuju ruang kepala sekolah. Setelah tiba dilihatnya di dalam ruangan kepala sekolah sudah ada Jacob beserta istrinya. Rosa membungkukkan setengah badannya. “Maaf saya terlambat,” ucap Rosa. “Masuk Bu, kita sudah mulai dari tadi,” kata kepala sekolah. Rosa masuk lalu menutup pintunya.
“Saya terkejut dan marah dengan hal ini!” geram kepala sekolah, “nama sekolah kita jadi viral! Apakah Bu Rosa tahu soal ini?” Rosa menggeleng. “Saya sudah berusaha mencegahnya, tapi dia memang keras kepala dan saya tidak menduga kalau dia akan memviralkan soal ini.”