“Mereka mendatangi saya di sekolah, dan mengancam saya untuk mengikuti keinginan mereka, kalau tidak mereka akan menyiksa saya!” seru Ovi.
“Ovi benar Yang Mulia, kami punya bukti CCTV-nya,” kata pengacara.
CCTV itu diputar dan terlihatlah Agni, Kakek, Aditya dan Anindya yang sedang mengepung Ovi.
Jaksa menghela nafas berat. Agni berbisik pada jaksa, “Itu tidak seperti yang terlihat Pak!” Kakek menepuk tangan Agni untuk tenang. Rosa yang duduk di sudut ruangan tersenyum tipis. Hakim Febri geleng-geleng.
“Sekarang ceritakan yang sebenarnya Nona Ovi,” kata pengacara.
“Baik … Evelyn adalah korban! Dia hanya mencoba mendisiplinkan Anggi yang selalu membuat masalah dan melawannya,” kata Ovi. “Tidak mungkin Kak Anggi begitu,” desis Anindya kesal, diikuti anggukkan kepala Aditya yang sudah mengepalkan tinjunya. Kakek memberi tanda untuk diam dan tenang pada cucu-cucunya.
“Dia bandel tidak menurut, bahkan saat permainan paintball, dengan sadar dia melepas jaketnya dan menyerahkan pada Dina untuk menantang kami. Saya yakin Evelyn yang sudah menahan kesabarannya selama itu akhirnya tak sabar lagi melihat polah Anggi, maka ia melepaskan tembakan itu!”
Hakim Febri manggut-manggut lalu bertanya, “Apa yang terjadi di malam ditemukannya Anggi dalam kondisi mengenaskan itu?
“Saat itu adalah malam terakhir orientasi, kami sedikit berpesta tapi tidak ada alkohol sedikit pun Pak Hakim … tapi kami melihat Anggi sedang menggunakan narkoba dan mencampurnya dengan minuman soda,” jawab Ovi.
Agni mengepalkan tangannya, wajahnya memerah. Ia menahan rasa amarahnya.
“Kami menegur dan mengingatkan Anggi tapi dia tidak menggubris malah memaksa saya dan Evelyn untuk meminum pil itu juga, kami menolak, tiba-tiba Anggi menjadi gelisah, kayaknya dia memakai pil itu terlalu banyak, dan itu membuatnya kena serangan kejang lalu kami bergegas menolongnya dan membawanya ke tenda UKS,” lanjut Ovi.
“Bohong kau Ovi! Jangan memfitnah anak saya yang sudah tidak ada!” teriak Agni meledak. Ia sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.
“Kak Anggi tidak pernah memakai narkoba dan bikin masalah, Kak Anggi kakak yang baik! Dia bohong!” timpal Anindya menunjuk Ovi.
“Ya dia bohong!” susul Aditya.
Ruang persidangan menjadi ricuh.