Agni berjalan cepat menuju parkir mobil. Dilihatnya Boba tengah berdiri di sudut gedung pengadilan yang temaram. Agni menarik dan menghela nafasnya, ia berjalan terus tidak mempedulikan Boba. Ia sudah kecewa.
“Ibunya Anggi,” panggil Boba. Agni menghentikan langkahnya lalu melihat pada Boba. Boba meneteskan air matanya. “Maafkan saya Ibunya Anggi,” isak Boba. Agni tak sampai hati, ia pun menghampiri Boba lalu memeluknya. “Sudah Ba, ga apa-apa, ga apa-apa,” bisik Agni. Boba sesunggukkan.
“Saya … saya dan keluarga saya diancam Bu,” bisik Boba di tengah isaknya. “Dan luka-luka ini, mereka yang melakukannya?” tanya Agni. Boba mengangguk dan bercerita.
Pagi itu waktu Boba dijemput. Ia dibawa ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Evelyn, Ovi dan Jon menyiksanya bergantian. “Pengkhianat lu!” tampar Ovi. Boba hanya diam, wajahnya semakin terlihat memar. “Kenapa lo ngebela orang yang baru lo kenal dibanding gue yang udah banyak nolong lo dan keluarga lo?!” bentak Evelyn.
“Karena mereka tidak membunuh orang,” kata Boba.
“Apa?Anjing satu ini bilang kalau gue pembunuh?” Evelyn geleng-geleng. “Kira-kira anjing pengkhianat kayak gini enaknya diapain Jon?” tanya Ovi. “Dihajar aja lah Beib!” seru Jon lalu memukul pelipis Boba dengan kayu hingga patah dan meninju bibirnya hingga pecah ujungnya.
Boba tak menjerit, ia hanya diam dengan darah mengalir dari pelipis dan ujung bibirnya. “Lo mau bilang gue pembunuh atau bukan bodo amat, tapi inget, saat di pengadilan nanti lo ikutin skenario yang udah kita buat, paham?! Atau bapak dan ibu lo akan kehilangan pekerjaannya atau mungkin nyawanya,” ancam Evelyn.
Boba terdiam. “Bilang paham!” sentak Ovi. Boba masih diam. Jon lalu memiting lengan Boba dan membantingnya hingga pangkal bahunya retak. Boba baru berteriak karena rasa sakitnya luar biasa. Ia tertelungkup di tanah dan tangannya masih dipiting oleh Jon. Air mata rasa sakit menetes.
“Jadi paham tidak?” tanya Evelyn.
“I … iya … gue paham,” ucap Boba menahan sakit.
Setelah Boba selesai bercerita, Agni menghela nafas, ia sudah menduga itu. “Terus sekarang gimana Ibunya Anggi?” lirih Boba. Agni menggeleng, “Saya belum tahu.” Boba menangis lagi. “Gara-gara saya nama Anggi jadi rusak.” Agni menepuk-nepuk bahu Boba. “Bukan gara-gara kamu. Ini memang sudah direncanakan mereka.”
Boba menatap Agni, “Katakan apa yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan saya ini?” Agni menggeleng. “Saya belum punya ide.” Boba menunduk. “Ini tidak adil buat Anggi.”
“Keadilan nanti akan menemukan jalannya sendiri atau kita yang membuat jalannya,” ucap Agni.
***
“Jacob ini, tidak percaya dengan apa yang kukatakan,” kata Hakim Febri dengan gelas berisikan champagne Dom Perignon di tangannya. “Tidak percaya apa Pak?” tanya pengacara sembari menyuap kaviar.
Saat itu Jacob, istrinya dan Hakim Febri tengah berpesta di sebuah privat klub elit, hadir juga pengacara Evelyn dan jaksa penuntut. Mereka menikmati champagne-champagne bermerk mahal, makanan-makanan kelas atas serta cerutu import dari Kuba. Tak lama datang bergabung Rosa. Mereka menyambutnya.