SEBAIKNYA KAMU LARI

ken fauzy
Chapter #23

BAB 23. NEKAT

Boba datang menghampiri Agni dengan bergegas. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Agni. “Tunjukkan arah jalannya,” kata Agni. Boba mengangguk. Tak beberapa lama mereka sampai di sebuah komplek perumahan mewah yang dijaga oleh beberapa satpam.

Seorang satpam keluar dari pos menghampiri mobil. “Mau kemana ini malam-malam?” tanya satpam. Boba membuka kaca mobilnya begitu juga Agni. “Wah Boba ternyata, mau ke rumah Mbak Evelyn ya? Kayaknya dia belum pulang, palingan ntar maleman baru datang,” kata satpam.

“Ga apa-apa saya nunggu di sana aja Pak,” senyum Boba.

Satpam itu mengangguk, “Itu siapa?” Boba melirik pada Agni. “Oh ini, ini senior kita di sekolah,” kata Boba. Agni nyengir. Satpam itu manggut-manggut lalu mempersilakan mobil untuk lewat.

Tak lama mobil berhenti. Boba menunjuk pada sebuah rumah besar yang halamannya luas dan berjauhan dengan rumah sekitarnya. Rumah itu terletak di ujung jalan komplek. Lingkungannya pun sepi.

“Itu rumah Evelyn dibeliin papihnya. Dia ada di rumah itu kalau weekend aja, buat tempat ngumpul dan party doang,” terang Boba. “Masuknya gimana?” tanya Agni. “Mudah, hanya kunci-kunci rumah pada umumnya, dan saya masih memegangnya, cuma saya dan Ovi yang dikasih kunci,” cengir Boba menunjukkan anak kunci-anak kunci di tangannya.

“Satpam?”

“Rumah itu ga ada satpamnya, tapi kalau satpam konplek tadi jarang muter, apalagi malam kayak gini, mereka banyaknya cuma nongkrong di pos.”

“CCTV?”

“Ada, tapi udah ga berfungsi seingat saya, rumah itu diserahkan papihnya untuk Evelyn, tapi ga diurus, maklum papihnya orang kaya rumahnya banyak, ga kayak bapak saya, pengen rumah satu aja susah banget.”

Agni manggut-manggut.

“Memang Ibunya Anggi mau ngapain?”

Agni tak menjawab, ia turun dari mobil diikuti Boba lalu berjalan menuju bagasi, membukanya dan mengeluarkan senapan paintball. Boba terkejut. “Ya Tuhan, apa yang mau Ibunya Anggi lakukan?” Agni tak menjawab. Ia berjalan menuju rumah tersebut. “Bukakan pintu-pintunya setelah saya masuk kamu boleh pulang,” kata Agni.

“Tapi ini melanggar hukum bukan?”

Agni menatap lurus Boba dengan dingin. “Ok, ok … baik, saya antar dan saya ga banyak tanya lagi,” ucap Boba lalu mengeluarkan kunci. Ia membuka kunci gerbang rumah. Mereka melangkah melintasi halaman luas. Kemudian Boba membuka kunci pintu rumah. Agni menatap Boba. “Terima kasih.” Boba mengangguk. Agni akan melangkah masuk.

“Ibunya Anggi, kalau saya pulang ga apa-apa?”

Lihat selengkapnya