Agni sampai di halaman belakang yang tak kalah luasnya dengan halaman depan. Banyak pepohonan rimbun dan tanaman-tanaman hias berukuran besar di sana. Agni memasang mata karena di sini banyak sudut-sudut gelap yang bisa membuat Evelyn menyergapnya tiba-tiba.
Ia memegang erat senapannya dan menyusuri tanaman-tanaman hias yang ditanam di pot-pot besar. Ia melihat ke kiri kanan dan sesekali menengok ke belakang. Suasana sepi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang tegang. Ia terus berjalan perlahan, berhati-hati dan tak menyadari saat Evelyn mengendap-ngendap lalu melompat cepat untuk merebut senapan paintball tersebut. Agni terpekik mendapat serangan mendadak itu tetapi ia berusaha mempertahankan senapannya.
Mereka berdua jatuh berguling-guling memperebutkan senapan.
------------------------------------
Ovi menusukkan pisau itu dan dengan tangkas Boba menangkap tangannya, menahannya hingga wakjah mereka berdekatan. “Hentikan Vi, sebelum ada yang terluka,” kata Boba. “Yang jelas bukan gue yang terluka tapi lo,” balas Ovi sambil menanduk wajah Boba dengan kepalanya. Boba terhuyung-huyung mundur. Kerasnya tandukkan itu membuat hidung Boba meneteskan darah.
“Ini kesempatan terakhir buat lo, gabung lagi sama kita, kita habisi ibu-ibu pos yandu itu dan gue akan memohon pada Evelyn untuk memaafkan lo!” kata Ovi.
Boba mengusap hidungnya. “Tawaran yang menarik, tapi engga dulu, gue lebih suka gabung sama ibu-ibu pos yandu, lebih sehat!”
“Emang lo tu manusia miskin yang ga tahu diri! Anjing pengkhianat!” maki Ovi sambil menyerang. Boba yang telah bersiap melangkah mundur seraya menghindari sabetan pisau yang brutal itu. “Tadi kata lo gue babi pengkhianat, sekarang anjing pengkhianat,” kata Boba lalu melompati sofa dan pisau Ovi hanya menancap di sofa.
“Yang bener yang mana nih? Kayaknya lebih pantas disebut anjing penjilat, tapi itu buat lo,” ledek Boba. Ovi berteriak marah mencabut pisaunya lalu menaikki sofa dan melompat sambil mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Boba mendongak menyambut kedatangan Ovi.
Pisau itu datang menghujam dengan tenang Boba menggeser tubuhnya ke samping sehingga pisau itu tidak mengenainya dan dengan sepenuh tenaga sesuai tubuhnya yang besar ia mengirimkan pukulan sekeras geledek ke wajah Ovi bahkan sebelum ia mendarat di lantai! Tubuh Ovi terlempar jauh hingga menghempas dinding. Lalu diam tak bergerak.
Boba menarik nafas lalu menghelanya panjang.
------------------------------------
Agni dan Evelyn masih saling berebut senapan.
Evelyn dengan cepat menyarangkan pukulannya pada Agni. Pukulan itu mengengai pipi Agni, ia mengaduh tapi tidak melepaskan pegangannya pada senapan. “Tidak semudah itu anak manja!” cetusnya.
Ia berdiri dengan tetap mempertahankan senapannya lalu dengan tendangan kencang Agni berhasil melepaskan pegangan Evelyn dari senapan. Evelyn merintih memegangi perutnya tapi ia tak menyerah, ia berusaha menyerang lagi tapi Agni dengan sigap berhasil memukulkan popor senapan itu di pelipis Evelyn dengan keras membuatnya menjerit.
Evelyn sempoyongan dengan darah mengucur dari pelipisnya. Agni segera mengarahkan senapannya pada Evelyn lalu menembakkannya. Peluru-peluru cat itu berdesingan keluar dari ujung senapan, melayang cepat dan pecah menghantam tubuh Evelyn bersusul-susulan. Evelyn berteriak kesakitan lalu jatuh terlentang di halaman belakang.
Agni menghentikan tembakannya. Ia mendekati Evelyn yang melenguh kesakitan. “Ampun … saya minta ampun Bu,” mohon Evelyn pada Agni yang telah berdiri di sampingnya dengan senapan mengarah pada wajahnya.
“Apa salah anak saya?” tanya Agni dalam suara yang bergetar.
Evelyn menelan ludahnya tak bisa menjawab.
“Apa salah anak saya sehingga kamu berhak untuk membunuhnya?!” pekik Agni.
Evelyn menggeleng, “Maafkan saya Bu ….”
“Maaf tidak membuat Anggi hidup kembali.”