“Ok, ok … dengar, kita sama-sama seorang ibu, jadi atas dasar itu lepaskan Evelyn, kita bisa bicara baik-baik,” bujuk mamih.
“Kalau Anda seorang ibu, Anda seharusnya bisa merasakan perasaan kehilangan saya!” balas Agni, “lakukan apa yang saya minta atau ….” Agni mendorong pelipis Evelyn dengan ujung senapannya dan jari telunjuknya telah siap menarik pelatuk.
Evelyn menjerit. “Jangan!! Mah … tolong Mah … Ev belum mau mati Mah,” rengek Evelyn denga air mata bercucuran.
“Hentikan ini semua!” teriak Jacob. Ia mengepalkan tangannya marah. “Atau Anda akan menyesal seumur hidup,” ancam Jacob. Mamih memberi tanda pada Jacob untuk memberinya waktu berdialog dengan Agni.
“Tolong … jangan sakiti Evelyn … dia masih muda, dia masih bisa berubah dan tidak akan mengulangi lagi kesalahannya, saya bisa menjaminnya,” rayu mamih.
“Lalu bagaimana dengan anak saya yang juga masih muda, berhak untuk hidup dan mengejar cita-citanya? Sekarang dia sudah ga ada,” tanya balik Agni.
“Saya bisa merasakan rasa sakitnya Ibu.”
Agni menggeleng, “Tidak, Anda tidak bisa merasakan bagaimana sakitnya sebelum Anda benar-benar kehilangan!”
“Ok, ok … tunggu dulu!” teriak mamih melihat Agni bersiap untuk menembak. “Saya akan memenuhi permintaan Ibu, Evelyn akan mengakui perbuatannya tapi sebelumnya lepaskan Evelyn,” pinta mamih, “plis ….”
Agni terdiam untuk beberapa saat.
“Saya akan membantu Anda untuk sidang ulang, ya sidang ulang, Anda sedang mencari keadilan untuk anak Anda bukan? Saya akan membantunya, tapi lepaskan Evelyn dulu,” kata mamih.
Agni perlahan menurunkan ujung senapan itu dari pelipis Evelyn tanpa bicara.
“Ibunya Anggi, apa yang kau lakukan?” bisik Boba melihat itu.
“Ya betul begitu Bu, saya tahu Anda bukan orang jahat, lepaskan Evelyn,” mamih terus membujuk. Jacob melihat istrinya berhasil membujuk Agni maka ia menunggu kesempatan, dan mengeluarkan senjata karambit dari samping pinggangnya perlahan.
Senapan itu sudah turun sama sekali.
Mamih memberi kode pada Evelyn untuk lari padanya.
Evelyn berdiri perlahan dengan gemetar lalu berlari ke mamihnya.
Tiba-tiba Agni tersenyum sinis, berkata, “Lagi pula siapa yang mau mencari keadilan sekarang? Saya hanya ingin pembalasan!”
Pelatuk senapan itu pun ditarik oleh Agni berkali-kali hingga terdengar berondongan suara letusan. Nyaring dan bergema di halaman belakang. Evelyn berteriak kesakitan. Rosa menjerit kencang melihat hal itu, lalu memanggil nama anaknya. Jacob terkejut tak menyangka. Dan Agni terus menembakkan senapannya hingga pelurunya habis.
Dengan kemarahan yang memuncak, Jacob berlari menghampiri Agni dengan mengangkat karambitnya. Boba melihat hal itu. Ia melompat untuk menjadi tameng bagi Agni. Karambit itu menancap di dada kanan Boba, darah muncrat menciprati wajah Jacob. Ia mencabut karambitnya lalu menendang Boba hingga Boba terkapar di tanah.
Sedang Mamih tengah meraung menangis sambil memeluk Evelyn yang tergeletak dalam pelukannya.
“Boba!” teriak Agni. Jacob yang mengamuk mengarahkan karambit itu pada Agni. Agni menangkisnya dengan senapan tapi kekuatan Jacob yang besar membuat senapan itu lepas dari tangannya.
Ia lalu menyerang Agni dengan membabi buta. Agni berusaha menangkisnya dengan tangan kosong. Karambit itu menyobek-nyobek kulit tangan Agni. Jacob pun menyerang kaki Agni hingga menyobek-nyobek celana dan juga kulit kakinya. Agni menjerit kewalahan. Ia terus mundur karena mendapat serangan tak henti dari Jacob, sungguh bukan lawan yang seimbang. Hingga kaki Agni tersandung pot tanaman yang membuatnya jatuh terlentang.
Jacob dengan wajah dan pakaian terciprati darah menatap buas pada Agni. “Kau akan mati!” umpat Jacob mengarahkan karambitnya pada organ vital jantung Agni.
“Coba lihat ini … Sang Iblis beraninya sama ibu-ibu rumah tangga dan sama cewek SMA,” ledek Agni tertawa. Boba pun ikut tertawa sambil memegangi dadanya. “Dia bukan iblis tapi Bu Lilis,” Boba menambahi. Agni tertawa meski sekujur tubuhnya sakit.
Ditertawai dan diledek begitu membuat Jacob bertambah murka.