Rumah itu terlalu besar untuk dihuni hanya oleh dua orang yang tak lagi saling bicara.
Dandy Prasetyo berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang ke arah taman yang tertata rapi. Rumput hijau dipotong presisi, bunga-bunga mekar dalam susunan yang simetris, bahkan kolam kecil di sudut halaman tampak seperti lukisan yang tak pernah berubah. Semua sempurna. Terlewat sempurna malah.
Seperti hidupnya.
Seharusnya.
Ia menghela napas panjang, lalu meneguk kopi yang sudah dingin di tangannya. Pahitnya masih terasa, tapi tidak cukup kuat untuk mengusir rasa hambar yang sudah lama menetap di dalam dadanya.
Di luar sana, dunia mengenalnya sebagai pria sukses. Pengusaha muda yang berhasil meneruskan—bahkan mengembangkan—perusahaan peninggalan ayahnya. Semua berjalan lancar. Uang, relasi, kekuasaan—ia punya semuanya.
Kecuali satu hal yang tak bisa ia beli.
Perasaan.
Langkah kaki pelan terdengar dari belakang. Dandy tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
“Mas… kopi yang tadi aku buat, sudah dingin ya?” suara itu lembut, hati-hati, seakan takut salah.
Dandy akhirnya menoleh. Imas berdiri di ambang pintu, mengenakan daster sederhana dengan rambut yang diikat rapi. Wajahnya masih sama seperti lima tahun lalu—polos, bersih, dan… terlalu tenang.
“Hmm,” jawab Dandy singkat.
Imas melangkah masuk, mengambil cangkir dari tangan Dandy tanpa banyak bicara. Gerakannya cekatan, terbiasa. Seperti semua yang ia lakukan selama ini—selalu tahu apa yang harus dilakukan, tanpa perlu diminta.
Dan justru itu yang membuat Dandy merasa… lelah.
“Aku buatkan yang baru ya, Mas,” ucap Imas pelan.
“Enggak usah,” potong Dandy cepat.
Imas berhenti. Ia menatap Dandy, sebentar saja, tanpa membantah, tanpa berusaha untuk mendebat, lalu mengangguk.
“Iya.”
Satu kata. Selalu satu kata. Tidak pernah lebih.
Dandy memalingkan wajahnya lagi ke jendela. Hatinya tiba-tiba terasa sesak, tapi bukan karena marah. Bukan juga karena sedih.
Lebih tepatnya … jenuh.
“Ada apa lagi?” tanya Dandy akhirnya metika menyadari wanita tersebut masih berdiri di tempatnya saat ini, tanpa menoleh.
Imas terdiam beberapa detik, seolah menimbang apakah ia perlu bicara atau tidak.
“Itu… makan malam nanti… Mas mau di rumah atau di luar?”
“Terserah.”
“Iya.”
Lagi-lagi satu kata.
Dandy menutup matanya sejenak. Ia tahu, jika ia bilang “terserah”, Imas akan tetap menyiapkan semuanya di rumah. Ia akan memasak makanan kesukaannya, menata meja dengan rapi, menunggu dengan sabar meski Dandy mungkin pulang larut.
Selalu begitu.