Sebaiknya Kita Berpisah

Aroem Aziez
Chapter #2

Suami yang Menjauh

Malam itu, meja makan sudah tertata rapi.

Piring putih bersih, sendok dan garpu tersusun sejajar, serta tiga macam lauk yang masih hangat mengepulkan uap tipis. Semuanya adalah makanan kesukaan Dandy—rendang, tumis buncis, dan sayur katu bening.

Imas berdiri di samping meja, menatap jam dinding.

Pukul delapan lewat sepuluh menit.

Ia melirik ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.

Seperti biasa.

Imas menarik napas pelan, lalu duduk. Ia tidak menyentuh makanan di depannya. Hanya menunggu.

Waktu berjalan lambat.

Pukul sembilan.

Pukul sepuluh.

Sampai akhirnya suara mobil terdengar dari luar halaman.

Imas langsung berdiri. Ia merapikan ujung bajunya, lalu berjalan ke arah pintu.

Pintu terbuka.

Dandy masuk dengan langkah santai, jasnya sedikit terbuka, wajahnya tampak lelah… atau mungkin hanya datar seperti biasanya.

“Kamu belum tidur?” tanyanya singkat.

Imas menggeleng pelan. “Belum, Mas. Aku nunggu kamu.”

Dandy melirik meja makan sekilas. “Ngapain nunggu?”

Imas terdiam sebentar, lalu menjawab pelan, “Mau makan bareng.”

Dandy melepas jam tangannya, menaruhnya di atas meja dekat pintu.

“Aku udah makan di luar.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Imas terdiam lebih lama.

“Oh… iya,” jawabnya akhirnya.

Tidak ada protes. Tidak ada keluhan.

Seperti biasa.

Dandy berjalan melewati Imas tanpa menatapnya. Ia langsung menuju ruang tengah, menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Imas masih berdiri di dekat pintu. Tangannya menggenggam ujung bajunya.

Lalu perlahan, ia berjalan kembali ke meja makan.

Ia menatap hidangan yang sudah dingin.

Tangannya bergerak pelan, meraih piring, lalu mulai membereskan semuanya satu per satu.

Tidak ada suara, selain denting kecil dari piring yang saling bersentuhan.

Di ruang tengah, Dandy membuka ponselnya. Ia tersenyum tipis melihat sesuatu di layar.

Notifikasi pesan.

Dari seorang wanita.

Namanya tersimpan dengan emoji kecil di sampingnya.

Dandy membalas cepat, lalu terkekeh pelan.

Sementara di dapur, Imas mencuci piring dengan gerakan yang sama seperti biasanya.

Rapi. Tenang. Tanpa suara.

**

Beberapa hari kemudian, kebiasaan itu semakin terasa.

Dandy semakin sering pulang larut.

Kadang tanpa kabar.

Kadang dengan alasan pekerjaan.

Kadang tanpa alasan sama sekali.

Imas tidak pernah bertanya.

Ia hanya tetap melakukan rutinitasnya: memasak, menyiapkan pakaian, menunggu.

Dan diam-diam… menahan sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan.

Pagi itu, Dandy sedang bersiap berangkat kerja. Ia mengenakan kemeja putih dengan dasi yang belum terpasang sempurna.

Imas berdiri di belakangnya, membantu merapikan.

“Mas, hari ini pulang jam berapa?” tanyanya pelan.

Dandy menatap pantulan dirinya di cermin. “Belum tahu.”

“Oh… iya.”

Lihat selengkapnya