Sebaiknya Kita Berpisah

Aroem Aziez
Chapter #3

Permintaan Dandy

Pagi di rumah itu, terasa semakin dirundung sunyi.

Tidak ada yang benar-benar berubah secara kasat mata—matahari tetap masuk dari celah tirai, udara masih sejuk, dan suara kendaraan dari luar tetap samar terdengar. Namun, ada sesuatu yang menggantung di udara.

Sesuatu yang… terasa berat, menyesaki pernapasan.

Imas sudah berada di dapur sejak Shubuh. Seperti biasa, ia menyiapkan sarapan untuk Dandy. Nasi goreng sederhana, telur mata sapi, dan teh hangat.

Tangannya bergerak otomatis, seperti hari-hari sebelumnya.

Namun pikirannya tidak benar-benar di sana.

Sejak semalam, ada perasaan tidak nyaman yang terus mengusiknya.

Seperti firasat.

Seperti sesuatu yang akan terjadi.

“Mas, sarapannya sudah siap,” panggil Imas dari dapur.

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah ke ruang makan.

Dandy sudah duduk di sana.

Tapi tidak seperti biasanya.

Ia tidak membuka ponsel. Tidak membaca berita. Tidak melakukan apa pun.

Ia hanya duduk diam, menatap meja kosong di depannya.

“Mas…,” panggil Imas pelan.

Dandy mengangkat wajahnya.

Tatapan itu… dingin menusuk tulang.

Bukan lelah. Bukan juga datar seperti biasanya.

Tapi benar-benar dingin.

Imas merasakan dadanya sedikit sesak.

“Ada yang mau Mas omongin,” kata Dandy tiba-tiba.

Kalimat itu membuat Imas langsung mengerti.

Bukan isi pembicaraannya.

Tapi arah pembicaraannya.

“Iya, Mas,” jawabnya pelan, lalu duduk di kursi seberangnya.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Hanya suara detak jam yang terdengar.

Dandy menarik napas panjang.

“Aku capek, Imas.”

Kalimat pertama.

Langsung.

Tanpa pembuka.

Tanpa basa-basi.

Imas menunduk sedikit. Tangannya saling menggenggam di atas meja.

“Capek… sama apa, Mas?” tanyanya hati-hati.

Dandy menatapnya lurus.

“Sama semuanya.”

Jawaban itu seperti pukulan pelan yang terasa lama.

Imas mengangguk kecil.

“Iya…”

Seolah ia mencoba memahami, meski sebenarnya tidak sepenuhnya mengerti.

“Aku ngerasa… hubungan kita ini nggak punya apa-apa lagi,” lanjut Dandy.

Imas mengangkat wajahnya perlahan.

“Apa maksud Mas?”

Dandy menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kita hidup bersama satu rumah, tapi… seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain...”

Kalimat itu menggantung di udara.

Dan untuk pertama kalinya, Imas tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Dandy.

Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahannya.

“Aku salah ya, Mas?” tanyanya pelan.

Dandy menggeleng.

“Bukan salah.”

“Terus?”

Lihat selengkapnya