Siang itu, langit terlihat cerah.
Tidak ada tanda-tanda hujan. Tidak ada awan gelap. Semuanya tampak tenang—berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dalam rumah itu.
Di ruang tamu, sebuah map cokelat tergeletak di atas meja. Di dalamnya, beberapa lembar kertas yang akan mengubah hidup dua orang.
Selamanya.
Imas berdiri beberapa langkah dari meja itu. Matanya menatap map tersebut tanpa berkedip. Seolah dengan tidak menyentuhnya… semuanya bisa tetap seperti semula.
Namun langkah kaki dari arah belakang mematahkan harapannya.
“Sudah aku siapkan semuanya.” Suara Dandy terdengar datar.
Imas menoleh perlahan.
Dandy berjalan mendekat, mengenakan kemeja rapi seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari penampilannya. Bahkan ekspresinya pun tetap tenang.
Seolah ini hanyalah urusan bisnis biasa.
“Ini suratnya,” lanjut Dandy, menunjuk map di atas meja. “Tinggal kamu tanda tangan.”
Imas mengangguk kecil. “Iya, Mas.”
Ia melangkah mendekat. Tangannya terulur… tapi berhenti di tengah jalan.
Ada getaran halus yang tidak bisa ia kendalikan.
Dandy memperhatikan, tapi tidak berkata apa-apa.
Imas akhirnya membuka map itu. Lembar pertama berisi identitas mereka. Lembar berikutnya… pernyataan perceraian.
Tulisan hitam di atas kertas putih.
Tegas.
Tidak bisa dibantah.
Matanya berhenti di satu kalimat: “Kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri pernikahan tanpa paksaan.”
Tanpa paksaan.
Imas tersenyum kecil.
Pahit.
“Iya… tanpa paksaan,” gumamnya pelan.
Dandy tidak mendengar.
“Atau mungkin… aku yang nggak pernah berani menolak,” lanjutnya dalam hati.
Ia menarik napas panjang. Lalu mengambil pulpen yang sudah disiapkan.
Tangannya kembali gemetar. Namun kali ini… ia tidak berhenti lagi. Tanda tangan itu akhirnya tergores di atas kertas.
Satu garis.
Satu nama.
Dan selesai.
Imas meletakkan pulpen itu kembali dengan pelan. “Sudah, Mas.”
Dandy mengangguk. “Iya.”
Ia mengambil map itu, memeriksa sekilas, lalu menutupnya kembali.
“Aku bakal urus sisanya,” katanya.
“Iya.”
Sunyi lagi.
Beberapa detik yang terasa panjang.
Dandy kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal.
Ia meletakkannya di atas meja. “Ini buat kamu.”
Imas menatap amplop itu.
“Apa ini, Mas?”
“Uang,” jawab Dandy singkat. “Buat bekal kamu ke depan.”
Imas tidak langsung mengambilnya. “Mas…”