Sebaiknya Kita Berpisah

Aroem Aziez
Chapter #5

Rahasia Kecil di Dalam Perut

Bus itu melaju perlahan meninggalkan kota.

Suara mesin yang bergetar halus berpadu dengan gemuruh roda di atas aspal, menciptakan irama yang monoton. Penumpang di dalamnya sebagian besar tertidur, sebagian lagi sibuk dengan pikiran masing-masing.

Di kursi dekat jendela, Imas duduk diam.

Tangannya memeluk tas kecil di pangkuannya. Pandangannya lurus ke luar jendela, mengikuti bangunan-bangunan tinggi yang perlahan tergantikan oleh hamparan sawah dan pepohonan.

Ia tidak menangis.

Sejak keluar dari rumah itu… bahkan air mata seaan enggan keluar dari matanya, entahlah.

Seolah air matanya sudah habis tertinggal di sana.

Namun dadanya masih terasa sedikit sesak.

Sangat sesak.

Perlahan, tangannya bergerak.

Bukan ke tasnya.

Bukan ke ponselnya.

Tapi ke perutnya.

Sentuhan itu ringan. Hampir tidak terasa.

Namun cukup untuk membuat napasnya tertahan.

Imas menunduk.

Matanya menatap perutnya sendiri.

Masih datar.

Belum terlihat apa-apa.

Namun ia tahu.

Ia sangat tahu.

“Aku… harus bagaimana, ya…” bisiknya pelan.

Suara itu tenggelam di antara deru mesin bus.

Beberapa hari yang lalu, ia sempat merasa mual. Tubuhnya lemas, dan kepalanya sering pusing. Awalnya ia mengira hanya kelelahan.

Namun firasat itu datang. Dan ia memeriksakan diri… diam-diam.

Hasilnya sederhana. Tapi cukup untuk mengubah segalanya.

Ia hamil.

Dua bulan.

Anak Dandy.

Imas menutup matanya perlahan.

Kenangan pagi itu kembali muncul.

Saat Dandy mengatakan ia ingin berpisah.

Saat ia sendiri memilih diam. Dan saat kesempatan untuk berkata jujur… ia lepaskan begitu saja.

“Maaf…” gumamnya.

Entah untuk siapa.

Untuk Dandy?

Untuk dirinya sendiri?

Atau untuk anak yang kini ada di dalam perutnya?

Ia tidak tahu.

Lihat selengkapnya