Sebaiknya Kita Berpisah

Aroem Aziez
Chapter #6

Awal Baru di Kampung

Pagi di kampung dengan keheningan dan suasana yang syahdu.

Tidak ada suara klakson. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan. Hanya suara ayam berkokok, angin yang menyapu dedaunan, dan langkah orang-orang yang memulai hari dengan sederhana.

Imas sudah bangun sejak subuh.

Seperti dulu.

Seperti sebelum ia mengenal kehidupan kota.

Namun kali ini, hari ini ada yang berbeda.

Ia tidak lagi bangun sebagai seorang istri. Ia bangun… sebagai dirinya sendiri.

Di dapur kecil rumah ibunya, Imas menyalakan kompor. Tangannya mulai bergerak, menyiapkan air panas dan memotong sayuran untuk sarapan.

Ibunya duduk di kursi kayu, memperhatikannya.

“Udah lama nggak lihat kamu di dapur pagi-pagi begini,” ujar sang ibu pelan.

Imas tersenyum kecil. “Kangen juga, Bu.”

Ibunya mengangguk.

Namun tatapannya menyimpan banyak pertanyaan.

Semalam, Imas tidak banyak bercerita. Ia hanya mengatakan bahwa ia sudah tidak bersama Dandy lagi.

Tidak ada detail.

Tidak ada penjelasan panjang.

Dan ibunya… tidak memaksa.

“Dia baik-baik aja?” tanya ibunya akhirnya.

Imas berhenti sejenak.

Tangannya menggenggam pisau sedikit lebih erat. “Iya, Bu. Baik.”

Jawaban yang jujur.

Meski tidak lengkap.

Ibunya menarik napas panjang. “Kamu juga harus baik-baik, Mas.”

Imas mengangguk. “Iya, Bu.”

Meski ia tahu… menjadi “baik-baik saja” tidak akan semudah itu.

**

Hari-hari mulai berjalan.

Imas kembali membantu ibunya di ladang kecil di belakang rumah. Menanam, menyiram, memanen. Pekerjaan yang dulu terasa biasa, kini menjadi cara untuk mengalihkan pikirannya.

Setiap kali lelah, ia akan duduk di bawah pohon mangga.

Tangannya otomatis menyentuh perutnya.

Sudah hampir tiga bulan.

Belum terlihat jelas. Namun ia mulai merasakan perubahan.

Mual di pagi hari. Tubuh yang lebih cepat lelah. Dan perasaan yang… semakin sensitif.

Suatu siang, saat ia sedang menyiram tanaman, ibunya memperhatikannya dari jauh.

“Mas…” panggilnya.

Lihat selengkapnya