Ada ribuan orang, tapi tak satu pun sudi mengulurkan tangan pada anak lusuh yang terperosok ke dalam selokan. Lengan kotornya tadi merogoh botol kosong sampai ke dasar bak sampah sebelum kakinya kehilangan keseimbangan dan terpeleset. May terperangah melihatnya. Dia maju beberapa langkah, lalu bau sayuran busuk bercampur jeroan ayam menyengat hidungnya. Dia maju lagi selangkah, lalu gundukan sampah yang dikerubungi puluhan lalat menyambutnya. Sementara May tercabik antara jijik dan iba, si anak sudah berhasil merangkak naik dengan tiga botol plastik di pelukan tangan kirinya. Anak itu lalu melanjutkan kegiatannya seolah kotoran berlendir yang menempel di betis cekingnya bukan masalah besar, baru, dan berbeda.
“Itu si Uki!” Jevan mengejarnya sembari merogoh-rogoh saku celana. Namun, si Uki tak menoleh meski dipanggil berkali-kali. Kocar-kacir dia menjauh, menyelinap di sela-sela keramaian, lalu hilang tertelan tubuh-tubuh yang jauh lebih besar darinya.
“Kok, dia kabur?” Jevan melirik ibunya. Di antara jari tengah dan telunjuk kirinya terselip selembar sepuluh ribuan yang gagal dia berikan.
“Suaramu keras banget. Dia panik kali, Jev.” May mengangkat bahu. “Lagian, sejak kapan kamu kenal dia?”
“Kemarin sore anak tadi nyebrang sembarangan di perempatan situ.” Jevan menunjuk ke arah gapura pasar. “Dia ketabrak motornya Gama waktu kita mau beli tongkat Pramuka. Kakinya luka, Ma.”
“Kalau dia bisa gerak secepat itu, artinya dia baik-baik aja. Kamu nggak perlu merasa bersalah.”
“Dia nggak baik-baik aja, Ma!”
Menurut Jevan, kaki Uki dipenuhi lebam-lebam biru-keunguan. Menurut May, bisa jadi itu hanya cipratan tanah yang mengerak karena sekarang musim hujan. Dua-duanya sama-sama hanya menebak dengan modal sekilas pandang, tapi Jevan berani mempertaruhkan seluruh uang jajan bulanannya jika dia salah. Jika benar, May perlu melakukan sesuatu. May perlu menemukannya lagi. Kalau tidak hari ini, mungkin besok atau lusa.
“Uki perlu dokter. Coba janjian sama Tante Julia, Ma.”
“Eh … enggak segampang itu, lho.” May mengesah. Tidakkah Jevan berpikir bahwa permasalahannya bukan pada membuat janji? Pertama-tama, menemukan Uki saja tak cukup. May perlu mengurus izin dari orang tuanya juga. Uki perlu dimandikan berkali-kali, perlu beberapa set baju baru yang wangi. Uki perlu dipantau ketika diberi obat, perlu makan teratur sebelum minum obat. May perlu menyediakan banyak waktu, perlu memberi nomor kontaknya jika nanti diperlukan sesuatu. Anak-anak liar tak bisa dicomot sembarangan. Semuanya perlu dipertimbangkan matang-matang.
Uki sulit ditemukan, tapi May sudah berjanji untuk mencoba. Ketika esok dan hari-hari setelahnya May mengintil Bibi ke pasar, bocah itu tak ada di mana pun. May telah memindai seluruh ruas—bahkan ke tempat pembuangan akhir di pojok belakang, bahkan ke ujung barat yang berbatasan langsung dengan pemukiman padat penduduk—anak itu seperti bayangan abstrak yang melebur dalam latar belakang kericuhan. Hari ini, setelah tiga kali putaran May kembali menggigit jari. Bibi pun ikut senewen karena tak tahu mesti berperang dengan becek dan pengap untuk berapa lama lagi.
“Sebenernya Teteh lagi cari apa, atuh?” Tangan kiri Bibi menyeka peluh di dahi, sementara yang kanan mulai bergetar menenteng tas eceng yang isinya sudah meluber melebihi kapasitas. “Punten, di kulkas sayuran masih numpuk, Teh.”
May mengambil sebagian belanjaan dari tangan kasar Bibi yang mulai keriput. Kualat betul jika May terus menyusahkan perempuan baya itu demi memiliki teman untuk mencari si Uki. “Ada anak kecil di sini, Bi.”
“Anak kecil?” Bibi mengerutkan dari. “Memangnya Teteh ada perlu apa?”
“Pokoknya dia beda, Bi. Dia kecil. Kecil banget. Kasihan, kayaknya kurang gizi.”
“Punten … maksudnya gelandangan, begitu?” Bibi memicing sembari garuk-garuk kepala.
May mengangguk.
“Yah … itu mah udah gak aneh, atuh. Lagian biar ceking begitu mereka tahan banting.”
Tidak aneh, katanya, tapi tatapan nanar anak yang terpeleset sampai lututnya berdarah itu terlanjur menyita perhatian May. Kelebat sosoknya kerap menyelinap dengan senyap, tetiba dan tak terduga. Betulkah dia terluka parah karena tertabrak? Bagaimana jika kondisinya terus memburuk dari hari ke hari gara-gara infeksi? Demi Jevan, May terpaksa bertanggung jawab. Apa boleh buat. Toh, tak sulit menambah lima menit untuk menengok kanan-kiri, atau melangkah ekstra seratus meter ke selasar pasar yang jarang dia datangi.
Kemudian, May bertanya pada kuli angkut, tukang sapu, dan petugas parkir. Tak ada yang tahu persis dari mana Uki berasal. Tak ada alamat rumah, tak ada identitas jelas. Untuk sekadar mengaku mengenal saja semua orang enggan, apalagi memedulikan keadaan anak seperti Uki. Orang-orang pasar pun sepakat untuk tak ambil pusing perkara bocah-bocah liar yang jumlahnya selalu bertambah seperti bisa membelah diri. “Pokoknya ada banyak yang begitu mah, Bu. Pergi satu, dateng sepuluh. Bukan asli sini pasti. Mereka suka pindah-pindah, cari yang paling rame. Emang Ibu ada perlu apa?”
May terhenyak. Tak juga bisa hal itu dia jawab sejak Bibi menanyakannya untuk pertama kali. Urung dia jelaskan dugaan kurang gizi yang dialami si Uki. Petugas parkir di hadapannya bekerja sambil menuntun anak laki-laki. Dari hidungnya terus keluar ingus, sepertinya anak itu perlu dokter. Kemudian, tak jauh darinya penjual gorengan melayani pembeli seraya menggendong balita. Di dalam jarik, berbalut jaket tebal, kaos kaki, dan topi rajut, sepertinya bocah itu juga perlu dokter. Yang seperti Uki ada banyak. Banyak sekali. Sesuatu yang berjumlah banyak tidaklah bersifat istimewa, bukan? Aneh saja jika memilih satu untuk diperjuangkan, sekalipun Jevan meyakini bahwa dia telah menabraknya.
Bandung seolah berada di tengah mata badai belakangan ini. Air mengguyur tak kenal ampun—bahkan di pagi buta, bahkan di siang bolong—dan pasar bagian luar pun berubah jadi arena lomba mengangkat sandal yang melesak ke kubangan licin serupa bubur arang. Namun, tetap saja setiap pulang sekolah Jevan bertanya, “Uki udah ketemu, Ma? Kondisi kakinya gimana, Ma?”