Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #2

BAB 2

May sedang memilih mangga untuk membuat sorbet ketika pemilik lapak berteriak memaki-maki sekelompok anak yang berlarian dan menabrak kerat buah. Dua pepaya matang tersenggol, jatuh dan terbelah-belah menjadi bagian kecil. Si penjual ngambek bukan kepalang, lalu mengambil raket rotan yang biasa dia kibaskan untuk mengusir lalat. Raket itu diacungkannya tinggi-tinggi ke udara. Sontak anak-anak perusuh berlarian mencari perlindungan. Di tengah amukan si penjual, salah satu anak nekat mengutil sebuah jeruk santang dan May refleks memegangi tangannya sebelum jeruk mini itu masuk ke saku celananya.

May terperanjat, tapi tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa dia telah menemukan … Uki?

“Uki?” Bahkan jika May tak percaya metafisika, anggap saja Uki punya aura yang selama ini dia cari. Anak itu berbalik menatap May dengan mimik penuh tanda tanya.

“U-uki? Betul namamu Uki?”

Dia mengangguk samar.

Di bawah gerimis, di tengah semrawutnya langkah orang-orang pasar, semuanya terang-benderang ketika May mengamatinya. Jevan benar. Uki punya banyak luka. Bukan hanya betis dan pahanya yang lebam dari biru ke ungu, tapi di lengannya pun ada titik-titik lepuhan yang meradang meski terbasuh rintik-rintik air.

“Kembalikan jeruknya, ya.”

Uki menurut. Sebagai gantinya, selembar sepuluh ribuan yang lama mendekam di saku celana hitam May diberikan pada anak itu. Namun, jangankan ucap terima kasih, seutas senyum pun tak May dapatkan darinya. Uki hanya menunduk, lalu kabur.

“Eh! Tunggu, Ki!” May mencoba menghentikannya.

Uki berlari makin cepat. Meski terbirit-birit, dia tak menabrak seorang pun. May tak bisa mengimbanginya. Anak itu hebat dalam menerka sisa-sisa ruang di selasar pasar yang pas untuk tubuh cekingnya lewati sampai ke batas luar. Di sana, seseorang sedang menunggunya. May tak yakin betul, tapi sepertinya uang sepuluh ribuan tadi diserahkan Uki pada lelaki berjaket jin belel yang sedang merokok sambil bersandar ke tiang gapura Selamat Datang.

“Tuh, tuh! Alaaah, kalau begini mah percuma, atuh!” Bibi yang juga turut mengamati Uki merajuk seraya menunjuk-nunjuk. “Punten, Teh, lain kali jangan dikasih hati. Tuh, kan! Ujung-ujungnya buat setoran!”

Kenapa? Kaki-kaki May bergeming meski kedua tangannya mengepal sampai urat-urat nadinya mencuat. Ingin dia katakan jangan, tapi bengisnya mimik si preman mampu menciutkan nyali bahkan dari kejauhan. Tangan hitam legamnya menghitung uang, mungkin Uki hanya sedikit kebagian. Lalu, sekarang bagaimana? May masih punya berlembar-lembar rupiah yang lain. Lima, sepuluh, lima puluh … tapi percuma saja jika semua itu mendarat di kantong si preman.

Sore hari, ketika Jevan pulang, May sudah menunggunya di teras. Pemuda itu lengket, tercium sisa-sisa berlatih basket. Dia tetap memeluk ibunya seperti biasa, lalu mengecup pipi kanan dan kiri.

“Kenapa, Ma?” tanya Jevan ketika menyadari ibunya diam seribu bahasa. Biasanya, tak perlu menunggu sampai masuk ke dalam rumah pun May langsung meminta setoran cerita dari sekolah.

Dengan lunglai May menyimpan gunting pangkas untuk dahan dan ranting tanamannya, lalu mencuci tangan. “Masuk, Jev. Mandi, terus makan malam.”

“Ada masalah, Ma?” Jevan menghentikan langkahnya di ambang pintu.

May meremas-remas handuk kecil yang selalu bertengger di bahunya untuk mengeringkan tangan yang baru dibasuh. “Pelatihmu bilang kalau kamu agak lambat dan kurang konsentrasi. Tolong, jangan bolos latihan lagi, kecuali kamu rela kehilangan posisi kapten.”

“Kita belum kalah sparing sama SMA mana pun, Ma. Tenang aja.”

“Pokoknya, kamu jangan lengah dan harus selalu jaga diri. Jaga fisik dan mental juga. Fokus. Istirahat yang cukup, ya. Turnamen, kan, sebentar lagi.”

Malam ini, kantuk tak kunjung datang untuk membebaskan May dari gelisah. Lilin aromaterapi yang biasanya melakukan tugasnya dengan baik pun gagal, bahkan setelah kehabisan sumbu. Ada preman di pasar. Preman—perkara itu disebutkan pula dalam proposal. Namun, melihat langsung penampakannya tentu berbeda dengan sekadar membaca. Sekarang baru terpikir oleh May, entah kenapa mereka menganggapnya normal. Mereka—sinetron, drama picisan, cerita fiksi, dan obrolan iseng di warung kopi—memandang orang-orang menyeramkan itu sebagai bagian biasa saja dalam kehidupan ini, yang sudah sewajarnya diterima oleh masyarakat luas, padahal keberadaan mereka sangat berbahaya.

May merasakannya, mengalaminya, bagaimana kebengisan itu merampas kehidupan kakaknya. Sekarang, dia banyak menelan ludah memikirkan putranya akan bersinggungan dengan mereka juga.

** ** **

Sejak pertemuan di lapak buah, menemukan Uki lebih mudah. Entah kedua mata May kian jeli dalam membidik sosok sekecil itu, entah Uki terlanjur menaruh harap dengan menampakkan dirinya di tempat-tempat terbuka. Atau, mungkin, mungkin, Uki diminta terus bekerja oleh si preman karena kerap mendapatkan uang besar. Setidaknya Bibi berpikir demikian. Katanya, “Punten, menurut Bibi mah jangan dikasih uang lagi, ya, Teh. Nanti yang keenakan malah bosnya, atuh!”

Beberapa hari kemudian, May menuruti saran itu. Dengan susah payah May membujuk Uki agar mau mengikutinya ke gerobak bubur ayam. Lelah merayu, May meninggalkannya untuk makan berdua saja dengan Bibi. Pagi itu Uki tak sendiri. Ada dua anak sebayanya yang mengikutinya ke mana-mana. Meski malu-malu, mereka enggan menjauh. May bertanya sekali lagi, “Yakin, kalian nggak lapar? Buburnya enak banget, lho. Ibu bayarin, kok.”

Mereka masih gamang, tapi May tetap membeli tiga porsi tambahan dan meminta si penjual untuk memakai mangkok yang lebih besar agar bekasnya tidak begitu berantakan.

Tiga hari setelahnya, May dan Uki berpapasan lagi. Pengikut Uki bertambah dua. Lima piring kupat tahu setengah porsi pun mereka lahap tanpa sisa. Seminggu kemudian, pengikutnya bertambah dua lagi. May memergoki mereka mengerubungi penjual tembakan gelembung yang sedang mendemonstrasikan penggunaan alatnya. Anak-anak itu kembali merusuh, dorong-mendorong sampai tumpah semua isi cairan sabun dalam ember kecil yang tertendang.

May mengganti rugi, tapi dua anak terkecil dari kelompok itu terlanjur menangis karena dicepret sapu lidi oleh petugas kebersihan. Sebelum pulang, May membagikan 14 serabi kinca untuk ketujuh bocah yang dia temui hari ini.

Tak ada lagi air mata. Penjual serabi menyunggingkan senyum lebar-lebar sementara May meringis menilik sisa uang belanjanya meski sambil tertawa-tawa hambar. Bibi merajuk lagi seolah turut mengeluarkan sejumlah uang. “Waduh, Teh! Kalau begini terus mah bisa tekor! Punten, apa nggak bakalan jadi soal kalau Kang Ari tau?”

Lihat selengkapnya