Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #3

BAB 3

Bulu kuduk May meremang tiap mengingat wajah si preman. Puluhan pertanyaan muncul, dan yang paling mengusiknya adalah hubungan antara Jaket Belel dengan Uki yang sedang berada di rumahnya. Jevan tak peduli semua itu. Gendang telinganya menebal sampai-sampai ocehan May mental semua. Dengan begitu, dia juga bisa fokus pada pertolongan pertama. Dia mengoles obat antiseptik totol dan salep, serta mengompres memar yang membuat Uki meringis menahan nyeri setiap tersenggol. Tak banyak yang bisa Jevan beri. Kotak P3K tak punya semua yang Uki butuhkan. “Coba hubungi Tante Julia, Ma.” Jevan melirik ibunya. Sorot matanya begitu tajam. “Mama juga harus sekalian periksa kondisi badan sendiri.”

May berhenti mondar-mandir tak karuan, lalu mengambil ponselnya. Ada banyak nama yang bisa dia hubungi untuk membuat Uki cepat sembuh, atau membuat dirinya sendiri berhenti gemetaran setelah apa yang menimpanya. Namun, bahkan setelah mematung beberapa menit di hadapan layar pun dia urung mengirim sepenggal pesan pun pada siapa pun. “Kita tunggu dulu, ya, Jev. Kayaknya mereka lagi sibuk.”

May melengos ke dapur. Memasak adalah meditasi baginya, apalagi tugasnya memakaikan pakaian baru pada Uki telah selesai. Seperti si kembar, dari tubuh mungil Uki kini tercium kombinasi minyak telon, bedak tabur, dan kolonye bayi. Hilanglah sudah bau got dan keringat yang sempat menguar di dalam kabin saat tadi dia terpaksa menumpang. Sebelum Ari menghidu sesuatu yang tak biasanya, dengan terburu-buru May samarkan aroma asam itu oleh sekaleng besar pengharum aerosol jeruk.

May melirik jam analog di dinding dan menghitung waktu. Makan malam hampir matang. Ari sebentar lagi datang. Uki masih belum beranjak dari pojok akuarium memerhatikan pergerakan ikan-ikan. “Setelah ke dokter, kita harus kembalikan dia ke rumahnya, Jev.”

Namun, di luar hujan deras. Berita tentang banjir sudah menyebar di berbagai situs. Sementara menunggu badai mereda, Uki dan si kembar duduk di meja kecil bergaya Skandinavia yang terbuat dari kayu pinus. Mereka berbagi buku gambar, pensil warna, dan balok susun. Di bawah atap rumahnya, bagi May semuanya sama. Anak-anak memakan kukis cokelat dari stoples yang sama. Mereka juga mendapatkan selimut harum yang sama lembut ketika angin dingin malam mulai menembus lubang-lubang ventilasi. Uki tak banyak bicara dan berkali-kali nyaris menangis, tapi kemampuannya menenangkan diri membuat May luluh untuk mengizinkannya tinggal barang beberapa jam lagi.

Anak sekecil itu. Entah orang-orang seperti apa yang berada di sekelilingnya sampai membiarkan jejak-jejak lebam di tubuhnya begitu kentara. Atau, mereka semua justru adalah pelakunya? May tak bisa berhenti memikirkannya sampai tersadarkan oleh deru mesin mobil Ari di halaman. Ari telah tiba, dan dia tak akan suka pada apa yang akan dia lihat. Oh … astaganaga! May bisa merasakan langkah suaminya di teras. Di sebelahnya, untuk pertama kalinya May melihat Uki menyunggingkan senyum gara-gara seseorang di televisi memakai kostum dinosaurus. Namun, alamak! Mungkin Uki tak akan senyum-senyum lagi. Mungkin dia akan diperintahkan untuk segera angkat kaki.

Ari membuka pintu, dan seketika menyadari keberadaan sosok asing di dalam rumahnya.

“Keponakan Bibi, Kang,” kata May dengan resah. Hanya itu jawaban yang dihasilkan kepalanya dalam dua menit berpikir. “Ibunya baru meninggal di kampung. Sementara ini belum ada yang bisa urus dia.”

Ari mendekatinya seraya menatap lekat-lekat. Napas May tercekat. Seharusnya dia memilih piyama lengan panjang dengan celana panjang, lengkap dengan sepasang kaos kaki berwarna senada.

“Ini bekas sundutan rokok.” Ari membolak-balikkan tubuh Uki seperti sedang mengulas kualitas perkakas dapur. “Gila! Anak siapa, sih, dia?”

“I-itu … bapaknya … makanya Bibi bawa dia ke sini.”

Sementara Jevan mengambil alih percakapan, May diam-diam menuntun si kembar ke lantai atas dan membacakan kisah Semut dan Belalang. Waktu tidur telah tiba. May harus segera menemui Bibi sebelum Ari mendahuluinya.

“Bi … tolong, dong. Cuma dikit, kok, tempat buat dia tidur. Gedean juga boneka lumba-lumba punya Anya daripada dia.”

Perempuan baya itu mengangguk ragu-ragu meski bibirnya berkata setuju. Raut wajah Bibi masam dan tegang sepanjang membungkus bantal dan guling cadangan dengan seprai bermotif bunga sakura. Tenaga May pun jauh lebih besar ketika mereka bersama-sama menggeser lemari untuk menggelar kasur lipat, sebab Bibi terus saja meracau. Katanya, jikalau benar bapak Ugi adalah preman, tengah malam bisa saja dia datang mengguncang-guncang pagar.

“Ya, ampun, Bibi! Jangan mikir aneh-aneh dululah! Kalau nggak hujan juga udah dari sore kita anter dia pulang.”

“Punten, tapi perasaan orang tuanya ini gimana, Teh? Nanti anak ini disangka ilang, terus jadi Teteh yang harus tanggung jawab kalau ada apa-apa.”

Perut May mendadak mulas. Betul, ketidaksengajaannya menyekap seorang anak mengundang bahaya besar. May meremas rambutnya seolah bisa memerah habis kebodohan dalam kepalanya. Bibi tidak mungkin lebih pintar dari dirinya, bukan? Si Bibi seharusnya hanya boleh mengerjakan pekerjaan rumah, bukannya berpendapat yang tidak-tidak meski dia telah banyak berjasa. Tunggu, tunggu. Entah sudah berapa kali perempuan beruban itu menyelamatkan hidup May; saat si kembar lahir, saat May diopname tiga hari karena preeklampsia, saat Ari keluar kota dan ketiga anaknya diare di waktu yang sama karena keracunan. Kali ini pun mungkin kekhawatiran Bibi bisa menyelamatkan May sekali lagi.

Namun, May tak punya banyak pilihan. “Tolong, Bi, cuma buat malam ini. Nggak mungkinlah preman dateng. Kita nggak ngerasa diikutin, kok. Mereka nggak bakal tahu.”

Keesokan paginya, May meminta Bibi mengawasi keadaan di sekitar Jalan Dawala dan melaporkan setiap wajah-wajah tak dikenal yang mencurigakan. Dengan sangat hati-hati May keluar rumah. Bibi tak boleh membukakan pintu untuk siapa pun selagi dia membawa Uki ke klinik dekat pasar yang belum pernah dia datangi. Sepuluh kapsul, sebotol Paracetamol, dan dua tube krim perawatan kulit kemudian, May kembali ke mulut gang—jalan masuk ke pemukiman kumuh padat penduduk yang pernah merenggut kehormatannya.

Lihat selengkapnya