Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #4

BAB 4

Paket May telah tiba, sebuah boks seukuran kardus mie instan. May berjingkrak riang membaca tulisan “dekorasi pesta” di nota pengiriman. Tak sabar dia menarik perekat selotip di tengah pertemuan katup kardus, tapi raut wajahnya muram ketika dia melihat isi paket di dalamnya. “Merah?”

Semuanya merah: balon, pita, topi kerucut, confetti, bunting flags, termasuk lima lembar kertas kado. Pernak-pernik yang sekarang berserakan di meja membuat May memijat pelipis. May menyesal membiarkan Ari memesan, menyesal berteriak “Terserah Akang!” ketika sedang sibuk mempraktekkan resep saus krim cokelat.

May merutuk di hadapan ponselnya. Di saat yang sama, dari halaman terdengar deru mesin mobil. Ari kembali dari mengantar anak-anaknya ke sekolah, dan May terlonjak puas melihat objek amarahnya justru menampakkan diri begitu saja. Dengan spatula di tangan, May siap-siap membuat perhitungan, tapi Ari sudah lebih dulu berteriak, “Forza Ferrari ...!!!”

May melongo.

“Musim ini bakal jadi kebangkitan Scuderia Ferrari, Sayang!”

May berkacak pinggang. Spatula kayu sepanjang dua jengkal itu dia acungkan tepat di hadapan wajah suaminya. “Merah-merah ini cuma gara-gara Ferrari?”

Ari cengar-cengir makin lebar. Paling tidak, dia menepati janji menepikan kesibukannya di garasi untuk membantu May. Bersenjatakan kemoceng, sapu, lap pel, dan mesin penyedot debu, mereka menyisir seluruh sudut rumah, berjibaku dengan debu di atas lemari dan gumpalan rambut di kolong kasur. Semua ruas dibuat mengkilat sebelum material dekorasi terpasang.

Sembari mengerjakan apa saja perintah May, Ari meracau tentang bagaimana waktu cepat berlalu bagai ban karet yang meluncur mulus di wahana air. 17 tahun berlangsung bagai mimpi indah semalaman, tapi mereka harus bangun. “Udah dewasa dia. Makin bebas ruang geraknya, tapi makin besar juga tanggung jawabnya. Kamu mestinya nggak perlu pusing lagi mikirin isi kotak makan siangnya.”

May menggeleng dramatis. Betapa dia benci label dewasa otomatis menempel pada anak 17 tahun. May pernah mengeluh pada tetangganya saat pemilu. Dia tak habis pikir, hanya dengan bermodalkan KTP, bagaimana bisa masyarakat berharap anak sebesar Jevan memenangkan pertaruhan benar-salah di bilik suara? Tanpa kebijaksanaan mencerna setiap problematika, tanpa analisa sebab-akibat yang komprehensif, apalagi intuisi setajam silet yang lahir dari pengalaman, dengan begitu saja mereka dibiarkan mencoblos caleg dan capres? Dengan begitu saja mereka diceburkan ke sumur pencoblosan hanya untuk ditimba suaranya?

“Kebijakan itu mesti dirombak!” Tapi kemudian, kepada siapa May bisa mengusulkan pembuatan KTP ketika seseorang berusia minimal 25 tahun? Dia yakin para ahli juga berkata kalau baru di usia 25 tahun otak manusia sempurna berkembang.

“Huh, alesan! Bilang aja kamu nggak siap.” Ari mencibir. “Tapi, kamu mesti ngerti. KTP adalah hal yang paling dia tunggu. Buat laki-laki, jadi independen sedini mungkin itu penting.”

Tentu. May hafal daftar kegiatan yang Jevan akan lakukan: lulus ujian SIM, membuat paspor, dan punya rekening bank sendiri. Semuanya agar dia leluasa bepergian. May pernah tak sengaja membaca gulungan esai Jevan tentang “Benda Berharga” dan dia menulis “KTP” di urutan pertama. Kata-kata seperti identitas, bebas, dan merdeka terdapat di paragraf penjelas. Bagi May, kehadiran KTP berbahaya. Ia akan menumbuhkan sayap-sayap yang mampu membawa putranya terbang tinggi, sejauh mungkin dari rumah. Mungkin dia akan berjaya di negeri orang, mungkin juga jatuh dan hilang di antah-berantah. Jalurnya terlalu bercabang-cabang. May tak yakin Jevan bisa memilih dengan benar—yang membuatnya tak kesulitan menemukan jalan pulang.

Namun, May tak bisa melulu gelisah. Tugasnya banyak sebelum keluarga besarnya datang besok lusa. Tatanan bufetnya harus cantik. Komposisi balon, pita, dan bendera hias di dindingnya harus cantik. Dan, dirinya sendiri mesti mengenakan pakaian dan riasan terbaiknya untuk mengalihkan pikirannya yang melulu tertuju ke gang pengap nan gelap itu.

** ** **

Sabtu pagi, aroma ayam panggang dan mentega dari bolu sifon menguar dari dapur, beradu dengan wangi losion melati dari tubuh May setelah mandi. Bufet tertata rapi di atas meja makan bundar dari kayu jati. Kain linen yang mengalasinya memiliki bordiran bunga matahari, dahlia, dan aster di pinggirannya. Dekorasi merah tak jadi masalah ketika May memenangkan pertaruhan dadu tadi malam. May memilih lima dan angka tersebutlah yang keluar. Akibatnya, seluruh keluarganya berpakaian serba pink hari ini, termasuk Ari.

Oma, Opa, para kakak ipar, serta sepupu Jevan telah berkumpul. Luar biasa, semua orang mendapatkan jatah cuti di hari istimewa ini. Jika nanti May sekarat, tiga menit sebelum meninggal, dia yakin hari ini masuk ke daftar sepuluh besar momen terbaik yang akan ditayangkan dalam layar hologram personalnya. Keluarga impiannya bersukacita di rumah impiannya, memeriahkan adegan-adegan sederhana seperti tiup lilin dan potong kue untuk anak pertamanya. Mereka bertepuk tangan, bernyanyi, berjoget mengikuti musik yang disetel lewat pengeras suara. Jika May mendengar seseorang bercerita bagaimana sebuah peristiwa istimewa dapat membekukan waktu, mungkin ini maksudnya—saat semua beban di tubuhnya menguap tanpa jejak dan seluruh sel-selnya kompak merayakan kehidupan.

Kemudian, ke-12 adik asuh Jevan—mereka datang sebentar tadi pagi, lalu pulang sebelum keluarga besar berdatangan. Mereka ditempatkan di ruangan terpisah di dekat taman belakang. Dengan pengawasan para kakak asuh, tak ada yang berulah selain beberapa anak memuntahkan makanan yang terlalu kebarat-baratan. May mengiba, tak menyangka bahwa kombinasi saus putih, keju, dan krim kental bisa sebegitu kuat mengocok perut seseorang.

Jevan memisahkan Uki dari anak-anak lainnya, sebab Uki adalah keponakan Bibi. Maka, ketika yang lain pulang, Uki tetap tinggal. Dia banyak tersenyum hari ini. Bendera hias, kue, serta semua yang manis dan berwarna menjadikan Uki berbeda. Meski begitu, keceriaan Uki terbentur akting Bibi yang terlalu natural. Berani Uki bertingkah sedikit saja, cubitannya sigap mengembalikan Uki menjadi anak paling pendiam yang pernah May kenal.

Seperti tadi—saat Uki berlama-lama menatap ikan-ikan di akuarium dan tak menyadari telah menghalangi koridor menuju kamar mandi—Bibi cukup mengepalkan tangan dengan mata memelotot untuk membuatnya mengkerut. Uki segera duduk manis di pojokan dapur dan lama tak beranjak dari sana sampai May memberinya yoyo untuk dimainkan. Lalu, Uki tak sengaja membentur pinggiran lemari piring dengan yoyo tadi, dan raut galak Bibi dengan mata melototnya lebih dari cukup untuk membuat Uki mengurung diri. Sungguh, May berterima kasih karena Bibi telah membantunya mengawasi. Namun, “Jangan terlalu sering dikunci di kamar lah, Bi. Kalau dia nggak menyakiti siapa-siapa, ya sudah, biarkan aja.”

“Punten, Teh, istilahnya kan dia sekarang keponakan Bibi. Nanti kalau dia dianggap bandel sama keluarga besar, Bibi yang malu, atuh.”

“Santai aja, Bi. Uki nggak bakalan bikin onar. Lagian Jev sampai beliin dia baju baru dari tabungannya sendiri, lho.”

May memuji selera putranya ketika kemarin dia kembali dari hipermarket. Tas kertas yang dijinjingnya berisi satu set pakaian bergaya akademia dengan kombinasi warna bumi—krem, kuning kunyit, dan terakota. Uki terlihat lebih berisi dengan rompi dan celana cinonya yang tebal dan bervolume. Selain menghangatkan, kaos rajut halus lengan panjangnya pun menyembunyikan luka-lukanya. Meskipun tidak pink seperti keluarga May yang lain, Uki tampak necis dan berseri dengan pakaian barunya.

Bocah itu sedang memunguti kerikil berwarna zamrud di pinggiran kolam ikan koi ketika sebuah mobil-mobilan dengan sistem pengendali jarak jauh menabrak kakinya. Mobil itu berwarna kuning, dilengkapi lampu sorot benderang yang menyilaukan. Uki terbelalak. Matanya berbinar-binar. Dia lalu mengangkat dan mengamati benda itu lekat-lekat, tapi secepat kilat dia menjatuhkannya lagi. Mobil itu terlempar dari genggamannya, keras membentur lantai batu. Uki terkejut bukan main, sebab tiba-tiba saja mainan itu mengeluarkan suara aneh dan bising, lalu menekuk, merenggang, dan melipat-lipat bagian-bagian tubuhnya sendiri—berubah menjadi robot.

Lihat selengkapnya