Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #5

BAB 5

May tak peduli pada apa yang sedang terjadi di seluruh dunia. Pada peperangan, pada anak-anak yang kelaparan dan hanya diberi nasi garam, pada para ibu yang menyusui bayi-bayi mereka di kolong jembatan, juga pada bapak-bapak yang terjaga sampai dini hari hanya demi menanti satu pembeli lagi menghampiri gerobaknya. Sebab, saat ini, di ruang jenazah rumah sakit ini, jasad anaknya terbujur kaku. Pucat, bengkak, tanpa pergerakan sama sekali.

Jevan meninggal di TKP—Jalan Siliwangi, 300 meter dari Teras Cikapundung ke arah City Forest, lima menit sebelum Ari tiba di titik yang sama. May hanya menyimak penjelasan polisi sampai pada bagian: kurang penerangan, perlu pengadaan lampu jalan, peningkatan patroli, rawan komplotan begal. Setelah itu, kenapa dan bagaimana dalam kepala May sendiri lebih bising dibandingkan klakson kapal pesiar sekalipun.

“Aku ibu yang buruk, ‘kan?” May menyandarkan tubuh lesunya pada pilar balok bercat putih di sepanjang koridor rumah sakit. Permukaan pilar itu dingin, tapi tak ada yang lebih dingin dari kejadian yang tengah malam tadi merenggut nyawa putranya. “Andai—”

“Sekarang bukan waktunya berandai-andai, nanti kamu capek sendiri. Berurusan sama hukum di negeri ini bakal menguras banyak energi.” Di pilar yang sama, Ari menekan kertas-kertas yang diberikan padanya oleh petugas administrasi rumah sakit, lalu mulai menulis. Kebanyakan kolom hanya memuat pertanyaan-pertanyaan umum seperti tempat tanggal lahir dan alamat.

Setelah selesai mengisi data-data, Ari memasukkan lagi kertas-kertas yang sudah tak lagi mulus itu ke dalam amplop. “Si Gama gimana?”

May menggeleng lemah.

“Keluarganya?”

“Cuma ada neneknya yang juga sakit-sakitan dan belum bisa dihubungi.”

Ari berdecak sembari berkacak pinggang. Nada suaranya meninggi. “Terus, anak ini gimana? Siapa yang urus?”

“Mau gimana lagi.” May mengusap wajahnya dengan kasar, lalu memijat pelipisnya. Mengingat siapa Gama membuat kepalanya makin berat, tapi May seorang ibu. Dia selalu mengingatkan dirinya bahwa ibu untuk satu adalah ibu untuk semua—termasuk teman-teman Jevan.

Kisah tentang Gama baru didengarnya seminggu yang lalu dari Jevan. Anak itu dicurigai teman-teman sekelasnya bergabung ke geng motor dan aktif balapan liar. Jevan bilang, motor penuh modifikasi milik Gama ditempeli stiker-stiker komunitas aneh, dan knalpot racing-nya hampir dicopot paksa oleh satpam sekolah. May sudah ingatkan Jevan untuk menjauh, tapi tak digubris. Alasannya, “Dia keluyuran malem-malem karena di rumahnya nggak ada orang. Nggak pernah ada yang nanya juga dia lagi di mana.”

Malam itu hanya Gama yang bersedia mengantar Jevan mencari-cari Uki, sebelum Ari menemukan keduanya terkapar dalam kegelapan sunyi. Dan Ari menduga bahwa Gama-lah penyebab dia memegang lembar persetujuan autopsi malam ini.

Berdasarkan keterangan polisi tadi (sebelum May pingsan di tengah-tengah pemaparan), motor Gama dihadang dua motor lain. Empat orang pelaku memakai kupluk yang menutup seluruh wajah kecuali mata. Semuanya masuk Daftar Pencarian Orang. Menurut hasil autopsi, kepala Jevan dipukuli benda keras sampai tempurungnya pecah. Kemungkinan oleh linggis, kemungkinan karena Jevan ngotot memberi perlawanan. Jevan juga mengalami pendarahan hebat karena perutnya ditikam golok berkali-kali.

Polisi bilang, salah satu motif begal adalah menarik tas punggung dengan kecepatan penuh saat motor sedang melaju sampai korbannya terjengkang dan jatuh. Lebih mudah “dihabisi”, katanya, apalagi jika melihat calon korban tidak pakai helm. Tas punggung Jevan raib. Tak ada satu pun barang Jevan yang selamat, termasuk topi, kacamata, dan jam tangannya. Nyawa Jevan melayang, Gama bertahan. Anak itu masuk ICU. Polisi akan meminta keterangan darinya jika dia selamat. May sudah tak mau tahu apa pun lagi.

Semakin mendengar kebenaran, May ingin otaknya segera meledak saja. Ada dua hal yang terus berputar-putar sampai dia nyaris menggila. Pertama, kenapa begal punya waktu merampas jam tangan Jevan, tapi tak menghabisi nyawa Gama sekalian? Kedua, bagaimana ibunya Gama—yang entah tinggal di mana, pun jarang menelepon untuk bertanya kabar—melakukan tugasnya lebih baik sebagai ibu dengan menjaga anaknya tetap hidup? Bagaimana mungkin perempuan itu lebih disukai takdir?

Empat jam kemudian, May masih terduduk lesu ketika diminta dokter forensik menunggu. Koridor selebar empat meter memisahkan kamar mayat dengan deretan kursi pelayat. Jevan ada di dalam. May menunggu di luar sampai diperbolehkan masuk. Tubuh May sekaku papan kayu, tapi dalam jiwanya sedang terjadi badai yang menyeret, menggulung, dan menghempaskan kewarasannya ke berbagai arah sampai sampai membentur karang-karang berbatu.

May ingin pulang, lalu menjerit mengingat Jevan tak akan pulang lagi selain untuk prosesi pemakaman besok. Dia tak sadar sudah berapa lama dia termenung menatap pintu kamar jenazah, tapi Ari sudah berkali-kali bolak-balik ke kantin dan berusaha menyuapinya makanan. Sedikit pun tak ada yang menyentuh bibirnya. “Kamu harus makan, Sayang. Inget, urusan ini panjang.”

Makan. Mungkin itu alasannya sejak tiba di rumah sakit Ari sangat kuat dan tegar. Ari menangis sebentar, lalu sibuk mengusap air mata May sambil mondar-mandir bicara dengan polisi dan dokter. Ari bergerak sendiri; menjadi tameng, ujung tombak, sekaligus pengeras suara. Di rumah sakit dia mengurus administrasi, di kantor polisi membuat keterangan saksi. Sementara itu, May bahkan tak menemukan sepatah kata pun untuk meluapkan penyesalannya, jadi dia diam. May bersyukur Ari membiarkannya diam. Permintaannya hanya makan.

** ** **

Kedatangan MPV bertuliskan “Ambulans Jenazah” di Jalan Dawala disambut kerumunan tetangga yang memasang raut prihatin sembari berbisik-bisik. Bocah-bocah yang terkesima pada sirine menghalangi jalan Ari dan tiga petugas menggotong jenazah dalam keranda berbalut kain hijau. May berjalan bungkuk dengan rambut semrawut. Bibirnya pucat, lingkar hitam membingkai bawah matanya. Dengan sempoyongan dia menggapai pagar. May menatap Julia, berharap dia menepati janjinya.

“Enggak. Tenang aja, mereka lagi tidur dan belum tahu apa-apa, kok.”

May segera naik ke kamar si kembar. Dalam kesendirian, May mencoba merancang sebuah narasi, mengantisipasi banyaknya pertanyaan dari anak-anaknya yang begitu saja dia tinggalkan seharian penuh. Kepala May bising dan mengepul oleh kereta pikiran yang berlalu-lalang tanpa henti, tapi sebuah alasan picisan pun tak kunjung lewat. May ingin kebohongan manis, sebuah filter, sebuah kaca berlapis stiker film berwarna biru pastel atau lavender. May menatap dua gadis kecilnya yang telah terbangun, lalu menyadari betapa jernih dan beningnya mata bulat mereka sampai dia sendiri bisa bercermin dari sana. Tepat di momen itu, sebuah kesadaran menyambarnya: Kepolosan adalah sesuatu yang sangat berharga, yang sudah sepatutnya dia lindungi selama mungkin sebelum segala bentuk kebencian membuatnya menjadi ternoda. Mata anak-anak sepatutnya hanya menilik sisi yang indah saja.

Di bawah, semua orang berisik memanggil-manggil namanya. May perlu waktu untuk berduka, dan waktu agar kedua putrinya bisa menjadi anak-anak polos lebih lama. May benci memikirkan setelah hari ini keceriaan kedua putrinya akan tertahan luka. Mereka akan banyak menangis, ketakutan, pun membenci hari ulang tahun. Dan, yang paling parah, mereka akan terus bertanya kenapa manusia membunuh sesama manusia. May ingin tambahan waktu sebelum bocah-bocah itu berhenti tertawa lepas sepanjang hari tanpa beban. Mereka harus tetap hidup di dunia utuh yang baik-baik saja. Mungkin sebulan, atau bahkan seminggu pun tidak apa-apa. Ah, mungkin sehari pun sangat berharga.

Lihat selengkapnya