Anggota keluarga May ada lima. May masih menyebut lima ketika memilih kursi bioskop. May mengetik lima untuk pesanan es krim sundae. Paket kepala sikat gigi elektrik May kelebihan satu—warna biru, milik Jevan. New normal bagi May adalah mengingat Jevan telah tiada dan mengganti angka lima ke empat. Begitu saja dia tak becus menerapkannya.
Sampai sebulan kemudian, buket bunga dari siswi-siswi di sekolah yang pernah naksir Jevan masih berdatangan. Merekalah alasan kamarnya selalu semerbak walau tak mempan juga menutup bau khas tubuh Jevan yang menempel di selimut dan setiap furnitur. May sudah mencuci semuanya untuk didonasikan, tapi aroma membandel itu tetap lekat, sebandel dirinya yang keukeuh mengepel kamar kosong setiap hari untuk menghilangkan jejak-jejak kecil yang mungkin tertinggal.
Bunga. Hanya itu yang bisa mereka berikan, sebab untuk datang langsung ke kediaman May mengancam keselamatan.
Ada 16 rumah di Jalan Dawala, masing-masing delapan di kanan dan kiri. Trotoar selebar 1,5 meter dibangun di sepanjang sisi selokan yang ditutupi kisi-kisi besi. Lebar trotoar dibagi dua; untuk pejalan kaki dan deretan pohon kersen, sukun, dan ketapang. May tak masalah berbagi ruang, atau jika sesekali harus melompati akar-akar yang mencuat. Rimbunnya dedaunan tak ubahnya obat penenang yang membuat irama jantungnya melambat dan napasnya ringan. Namun, kali terakhir May menikmati sore di bawah pohon tanjung besar di dekat pos ronda sambil menikmati segelas es cendol hampir sebulan yang lalu.
Hari ini, ketentraman Jalan Dawala terusik. Belasan motor yang dikendarai segerombolan orang berbaju hitam berhenti di depan rumah May. Mereka melempari kerikil-kerikil kecil, lalu pergi begitu saja dengan mesin menggerung-gerung, mirip seperti konvoi keliling kota setiap Persib juara Liga Super. Bedanya, mereka bukan lautan biru. Mereka mengenakan celana jin robek-robek dengan ikat pinggang rantai dan kaos gelap bersablon ular berapi (atau harimau? May tak yakin).
Sudah tiga kali Ari pulang malam bersambut seplastik hitam kerikil yang baru selesai disapu dan dikumpulkan May, lalu disimpannya dekat pagar untuk diberikan pada pengangkut sampah. Pernah mereka menemukan bangkai tikus dan bangkai anak kucing dekat pot bunga, dan beberapa kali juga halaman mereka dilempari petasan korek pada dini hari. Pada hari keempat, Ari mengumpulkan warga untuk merancang sistem keamanan.
Jalan Dawala sudah tak kenal ronda. Ia hanya punya portal yang bahkan tak bisa dipercaya menjaga saking mudahnya dibuka-tutup. Sesekali warga berkumpul, seperti saat parade 17-an, lalu bubar dan berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Hanya kasus istimewa seperti kematian Jevan yang membuat semua orang berhamburan. Ari mendatangi satu per satu rumah tetangganya dan meminta maaf soal kegaduhan yang terjadi. Hanya sebagian kecil saja yang memaklumi. Kebanyakan terusik dan terancam. “Kenapa semua berandalan itu kemari, Pak?”
Ari menjawab kalau dia tak yakin, tapi keempat pelaku begal telah berhasil diringkus polisi. Salah satu dari mereka mungkin bagian penting dari gerombolan berikat pinggang rantai itu.
“Tolong selesaikan, ya, Pak. Selama bertahun-tahun kami damai, hidup tenang tanpa masalah di sini. Jangan sampailah ada korban lagi,” ujar tetangga Ari di ujung jalan.
Setiap hari Ari menerima keluhan dari seisi Jalan Dawala. Halaman depan rumah mereka dikotori oleh asap kelabu yang mengepul dari knalpot motor-motor butut. Sosok-sosok tak dikenal yang kerap memakai masker berseliweran di waktu-waktu janggal—subuh, lewat petang, tengah malam. Mereka meresahkan dan Ari harus bertanggung jawab.
“Tapi, bukannya ini jalan kita bersama, Kang?” tanya May kecewa. “Di kota besar seperti ini, kita sepertinya makin lupa sama makna saling menjaga.”
Ini musibah yang berada di luar kendali, May ingin berkata. Namun, dia pulalah yang nekat menyembunyikan identitas Uki dari semua orang. Mungkin, mungkin … semua memang bermula dari dirinya sendiri.
“Bukan lupa, mereka takut, jadi percuma aja kita memelas. Jangan berharap apa-apa sama kumpulan pengecut. Mereka ngebela dirinya sendiri aja nggak bisa, apalagi nolong orang!”
Tak butuh waktu lama bagi Ari untuk menerima kalau dia mesti menyelesaikan kekacauan ini sendiri. Minggu pagi ketika libur, dia mendatangkan mekanik untuk memasang CCTV, dan hari itu juga dua orang satpam resmi bertugas dengan sif berbeda. Dua hari sebelumnya, Ari memanggil tukang untuk memperbaiki pos satpam yang terbengkalai di bawah pohon tanjung di ujung jalan dekat portal.
“Separah itukah situasinya, Dek?” tanya Oma saat datang menjenguk lagi.
“Nggak ada yang berani keluar rumah buat nongkrong. Pedagang keliling yang biasa lewat pun nggak dateng.”
“Kita lapor polisi.”
May menjawab lirih—“Janganlah, Ma. Nanti tambah ruwet.”—seraya merenungi 20 skenario kemungkinan terburuk. Berbagai cerita horor dari apa yang pernah dia tonton dan baca membuat telapak tangannya dingin. Setiap malam dia merengek pada suaminya. “Ini bahaya, Kang! Bahaya buat anak-anak, bahaya buat kita semua!”
Dua minggu kemudian, rumah mereka selesai diberi pengamanan ekstra. Pagar besi 1,5 meter ditambah ketinggiannya jadi 2,5 meter dengan gembok tiga rangkap. Gulungan kawat duri dipasang di sepanjang tembok pembatas. CCTV dipilih yang paling canggih, yang merekam gambar dan suara paling jernih, serta dilengkapi sensor gerak. Terali besi dipasang di tiap jendela. May protes karena keberadaannya mengurangi estetika, tapi hasil negosiasinya hanya membuahkan bentuk terali yang sesuai dengan keinginannya—uliran daun rambat yang melengkung simetris, alih-alih motif wajik polos seperti yang Ari pesan. Lagipula, untuk urusan keamanan, May enggan berdebat. Ari telah berkorban banyak uang, tenaga, dan waktu. Tabungannya terkuras habis.
Anya dan Ayra terheran-heran menyaksikan rumah mereka dirombak, tapi kemudian memahami kalau itu diperlukan untuk menjaga diri dari para-lelaki-berbaju-ular-kobra. Satu-satunya hal yang membuat mereka murung sampai mogok makan adalah larangan mengikuti rekreasi dari sekolah ke Lembang. Piknik bersama teman-teman yang telah dinanti-nanti dibatalkan. Bayangan akan para-lelaki-berbaju-ular-kobra yang mengintai di lokasi Persari mampu mengubah murung jadi gusar. Ibu Kepala Sekolah TK turun tangan. Dia berkata pada si kembar, “Tunggu di rumah saja. Kan, keluarga kalian sedang berkabung.”
Kemudian, anak-anak kecil itu menuntut penjelasan dari kata berkabung. Ari menceritakan semua kisah sedih yang dia tahu sehingga anak-anaknya tidur sambil tersedu-sedu. Selama beberapa malam rutinitas membaca berganti genre—dari petualangan menjadi tragedi. Akibatnya, anak-anak jadi sering bermimpi buruk. Tak lama kemudian, kedatangan paket yang berisi aksesoris Barbie membuat si kembar melompat-lompat girang. May dan Ari beruntung, sebab kebahagiaan bocah-bocah itu masih bisa dibeli di toko mainan. Namun, bukan anak-anak kalau tak cepat bosan, apalagi ketika mereka harus tinggal di dunia yang terbatas.
“Kita nggak punya temen lagi!” Mereka terus merajuk. “Kenapa kita nggak boleh main keluar, Ma? Kenapa temen-temen kita nggak boleh masuk?”