Tiga hari setelah kematian Jevan, kepolisian meringkus empat pelaku: Deni (39), Yudi (34), Teguh (26), dan Reka (15). Semuanya masuk tahanan polres, termasuk Reka yang menjalani proses pemeriksaannya secara terpisah karena masih di bawah umur. Sekali pun May belum mendatangi kantor polisi meski sudah dapat surat pemanggilan. Alasannya selalu tentang kesehatan fisik dan kondisi mental.
Ari bilang, Deni adalah ketuanya, otak kejahatannya. Yudi dan Teguh hanya kacung, masing-masing mendapat 20% dari total penjualan motor bodong, tapi tak berhak mengeklaim harta rampasan lain seperti ponsel, isi dompet, dan kamera. Reka baru pertama kali terjun ke jalan dan sedang digembleng oleh para seniornya, tapi justru sidik jarinyalah yang paling banyak ditemukan di sekujur tubuh Jevan.
Anak sekecil itu. May meringis membaca Berita Acara Pemeriksaan. Dibandingkan dengan tiga pelaku lain, May paling tak mau bertemu dengan Reka. “Bajingan piyik! Anak setan!” Ari bilang. Reka merokok sekaligus pengguna narkoba. Di tanganyalah Jevan meregang nyawa. “Sidik jarinya ada di mana-mana, di semua badan anak kita!” Ari berteriak seperti sedang kerasukan makhluk halus.
Reka sangat menakutkan bagi May. Bertemu anak itu hanya akan membuat sanubarinya tercabik-cabik demi menjawab satu pertanyaan: Bisakah dia memaafkan seorang anak yang telah membunuh anaknya sendiri? Sebab, May selalu percaya tak ada iblis yang lahir dalam batin suci anak-anak, yang ada hanyalah iblis yang diperkenalkan orang-orang dewasa di sekitarnya. Jika Jevan adalah anak orang lain dan May membaca kisah kematiannya dari media sosial, May akan berkata bahwa pelaku yang masih di bawah umur layak mendapat ampunan dan pendampingan psikologis, sebab dia pun adalah korban kekerasan lingkungan. Namun, ini bukan tragedi di kategori kriminal portal berita. Korbannya adalah putranya. Pelakunya sudah ada dalam jangkauan pengawasannya, tapi May tak tahu mesti menuntut apa.
Wajah Reka mengingatkan May pada anak penjual layangan dan balon helium yang sering ikut bapaknya berkeliling sambil menggendong adiknya. Anak itu kadang mangkal di Jalan Dawala dengan mengenakan seragam SMP, selalu ceria meski direpotkan oleh lincahnya si adik balita. Rambutnya sedikit ikal dan kecokelatan, persis seperti Reka dalam foto-foto pelaku yang dikirimkan Ari.
Foto. May merintih ketika menilik keempat foto pelaku sampai membanting ponselnya. Benda itu terpelanting hingga layarnya pecah. May lalu meminta Ari berjanji untuk berhenti mengirimkan apa pun yang berhubungan dengan tragedi kematian Jevan.
Namun, Ari tak mau berkompromi. “Bukan kamu yang menentukan fakta hidup ini gimana. Kita lagi menjalani realita, jadi jangan pernah tutup mata. Cuma itu cara biar kamu belajar dan paham segala sesuatu lebih baik.”
May mengurung diri berlama-lama lagi. Foto bocah kurus berwajah manis dengan kulit sawo matang itu dengan keji menyiksanya. Mata sayunya, tahi lalat di atas bibir kanannya, tatapan kosong dan raut wajah datarnya ketika difoto oleh petugas penyidik tak meninggalkan jejak rasa bersalah. Mengingat sidik jarinya membersamai napas terakhir Jevan melempar May ke ujung kewarasan. Lagi. Dialah yang dilihat Jevan pada detik-detik terakhir kehidupannya. May iri sekaligus benci setengah mati, sebab dengan biadabnya dia merampok sebuah momen berharga—seuntai kata-kata selamat tinggal yang manis, doa-doa selamat yang menembus langit, serta janji-janji untuk bertemu lagi pada kehidupan selanjutnya—yang selayaknya diucapkan orang-orang terkasih sebagai tanda perpisahan yang layak. Reka mengambil semua kesempatan itu.
Maka, ketika Ari memohon agar May—untuk sekali saja—menghadiri sidang di mana para pelaku akan dihadirkan sebagai saksi utama, pertanyaan May hanya satu. “Reka ada di situ juga?” Gelengan kepala Ari membuat May mempertimbangkan ajakannya.
Hari itu Ari memaksa May duduk tegak. Setiap May menunduk, Ari mengapit dagunya di antara jempol dan telunjuk untuk memastikan May selalu menatap ke arah yang benar. Kursi yang diduduki oleh Deni, Yudi, dan Teguh diletakkan tepat menghadap meja jajaran hakim. May tak akan pernah lupa raut penuh dendam dari ketiga orang itu ketika berbalik badan dan bertemu tatap dengannya. Lengan kiri dan kanan Deni dirambati tato ular. Si pria-bertato-ular itulah yang mengendalikan sekelompok orang untuk melempari rumahnya dengan batu kerikil dan bangkai-bangkai hewan, bahkan petasan korek dan mercon. Di sebelah kirinya ada Teguh. Tubuhnya terlalu sintal untuk disebut rakyat melarat, dan kombinasi antara alis tebal dan mata melototnya membuat May muak. Di sebelah kanan, Yudi duduk dengan bungkuk, rambutnya gondrong sebahu.
Namun, tunggu dulu … tunggu, May mengenalinya. Ketika Ari mengirimkan fotonya, May tak mau memperhatikan betul-betul, tapi melihatnya berada di hadapannya langsung membuat bulu kuduknya meremang. Siapa? Siapa? Siapa? Alam bawah sadar May pernah merekamnya. Samar-samar Yudi ada di sana. May memutar otak, mencari berbagai imaji.
Ah! Jaket Belel! Dia berbeda! Mungkin karena saat itu dia memakai topi dan rambut gondrongnya digulung ke dalam. Mungkin juga karena May selalu menolak keras untuk mengingat-ingat. Ketika bertemu dengannya di gang sempit itu pun May tak pernah benar-benar menatap wajahnya. May melirik Ari di sebelahnya, bersiap mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya tanpa pernah menemukan jalan keluar.
Jika Ari mampu memaksimalkan fungsi mata dan telinganya untuk mengamati, berkonsentrasi penuh pada setiap kata dari mulut jaksa penuntut, May justru sibuk menahan mual, migrain, dan kebelet pipis. Dia tak bisa menyimak bagaimana kronologi kejadian itu dijelaskan rinci oleh para terdakwa. Hanya sesekali dia mendengar sesuatu tentang korban melawan, siapa pun berhak membela diri, kami cuma rakyat kecil. Di ruangan itu May ingin buta, ingin tuli, ingin menembus dimensi lain, melarikan diri melintasi ruang dan waktu untuk menyusul putra sulungnya. May menunduk lesu. Ari buru-buru mendongakkan kepalanya lagi dengan tekanan ujung jempol di dagunya.
“Jangan nunduk! Sekarang kamu pihak yang menuntut. Jangan nunduk!”
Ketiga begal sepakat bahwa awal konflik disebabkan oleh Jevan—yang mereka sebut ngajago karena menolak memberikan ranselnya pada todongan pertama. Di dalam ransel itu hanya ada jaket, ponsel khusus gim yang dia menangkan lewat kompetisi e-sport, serta ponsel pertama pemberian ayahnya yang sudah dia pakai selama lima tahun. Jevan memberontak ketika mereka menyeret dirinya dan Gama menjauh agar motor racing itu bisa dilarikan sesegera mungkin sebelum ada yang melintas. Deni menyebut Jevan petantang-petenteng dan sok jagoan—yang dalam bahasanya adalah néangan cilaka, alias cari perkara sendiri. Yudi dan Teguh mengaku terpaksa buru-buru menghabisi karena khawatir aksinya kepergok warga dan dihajar sampai mampus.
Mereka memberi keterangan bahwa Jevan sempat merogoh saku untuk mengeluarkan sesuatu sebelum tikaman pertama diterimanya di perut atas. Tikaman kedua meluncur ketika Jevan tiba-tiba bangkit untuk menghadang ujung pisau yang mengarah pada Gama. Tikaman ketiga terjadi karena dua tikaman sebelumnya tak membuat Jevan berhenti kelojotan. Memukul kepala Jevan dengan linggis diakui Yudi dan Teguh murni karena kebrutalan spontan yang tak disadari. Pokoknya terjadi saja, istilahnya kagok edan, mau tak mau, kami tak punya pilihan, kata mereka. Semuanya mengaku sedang dipengaruhi arak oplosan, dan semuanya terbukti menggunakan metamfetamin.
“Pulang. Pulang. Kita pulang sekarang.” Bahu May bergetar hebat ketika agenda sidang resmi diakhiri hakim. Sementara itu, Ari mengerang sampai melempar kursi saat Deni berjalan di hadapannya sembari menyeringai. Polisi yang mengawal sibuk membubarkan kericuhan. Dan, di momen singkat nan rusuh itu, Ari berhasil melayangkan satu tinjuan kerasnya untuk Teguh yang berpipi buntal. Setidaknya segumpal kemurkaannya berhasil mendarat pada salah satu dari mereka.
Di mobil, May berikrar tak mau lagi datang ke persidangan selanjutnya. Dia meremas sabuk pengaman yang melintang dari bahu sampai pinggangnya erat-erat, lalu mengembuskan napas yang lama tertahan di tenggorokannya keras-keras.
“Biadab.” May terus bergumam. “Biadab.” Sebulir air mata jatuh, lalu diikuti bulir-bulir lainnya. “Apa salah Jevan?” Gigi-gigi May bergemelutuk menahan guncangan tubuhnya. “Ini salah kita, 'kan? Salah kita yang ngajarin dia buat jadi anak baik?” Lalu, May ingat betapa birunya bibir Jevan ketika menggendong balita yang nyaris tenggelam di danau. “Bocah nekat! Mestinya waktu itu kita hukum dia seberat-beratnya biar nggak gegabah lagi!”
Sikat ajalah! Sikat! Sikat sekalian! Kata-kata Deni membuat May meradang sampai tengkuknya panas. Di mata May, hanya orang-orang biadab yang menganggap Jevan seperti kotoran babi yang harus dihanyutkan ke dasar pusaran air. Hanya orang biadab yang bisa bertingkah bak tukang jagal sapi di hadapan anaknya yang terjebak tengah malam di jalanan sepi. May membayangkan Jevan merintih memohon ampun, mencari sedikit belas kasihan, sedikit cahaya nurani dalam tubuh-tubuh yang menguar kegelapan seperti malam itu sendiri. Namun, semua bajingan itu menganggap rintihannya sekadar cicitan tikus. Di dalam pikiran mereka hanya ada uang. Dan demi uang golok dan linggis mereka hunjamkan tanpa penyesalan.