Anggota Bangor ke-14 terciduk Prabu ketika bersembunyi di masjid. Begitulah kabar yang May terima Opa. Dua minggu penuh mereka bermain kucing-kucingan. Ada yang masuk ke Jalan Dawala menyamar sebagai pengemudi ojek, ada juga yang berpura-pura menjadi pengantar cucian dengan mengendarai motor yang dilengkapi keranjang. May tak tahu berapa lembar isi dalam amplop cokelat yang Opa serahkan untuk membuat pria-pria dengan seragam taktis dan rompi serba hitam itu berpatroli berhari-hari di sekitaran rumahnya. Berapa pun nilainya, Opa bilang dia melakukannya agar anak dan cucu-cucunya tak perlu mencium bau bangkai tikus yang menyengat lagi—yang seolah-olah dikirim ular-ular itu sebagai pesan peringatan kematian.
May paham kini, bahwa ular bermakna kelihaian. Ia mampu meliuk-liuk, menggelincir, dan menyelinap di lubang-lubang sempit untuk menghindari kejaran aparat. Deni pernah hidup makmur mengomando kehidupan gorong-gorong tanpa tersentuh hukum selama belasan tahun, dan sekarang dia terancam vonis 35 tahun penjara. Namun, ada harga yang mesti keluarga May bayar untuk itu. Kepala ular masih utuh, ekornya memecut ke sana kemari.
Untuk sementara, May bernapas lega. Lama dia tak dengar gebrakan di pagar besi dan letuk kerikil di kaca jendela. Tak ada lagi juga temuan kata-kata kotor dengan nada mengancam di tembok pembatas rumah yang ditulis menggunakan cat semprot. May menyambut riang irama khas penjual roti yang selalu menyapa Jalan Dawala dengan sepeda setiap pagi. Siang-siang diramaikan lagi oleh pedagang yang mengumumkan kedatangan mereka lewat denting sendok pada mangkok, sedangkan malam-malam suara pentungan kayu merayu perut yang lapar.
Rindu di ujung lidah May terobati sudah, kecuali oleh seporsi tahu gejrot yang ketinggalan meramaikan lagi. Suatu siang, May mendengarnya—terompet pompa legendaris yang telah digunakan si Mamang berjualan selama lebih dari dua dekade. Ngek … ngok … ngek … ngok. May sedang berada di kamar mandi kalang kabut ingin menghentikannya. “Tunggu, Mang! Tunggu! Tunggu!” Dia memekik seolah gelombang frekuensi dari suaranya bisa menembus dinding berlapis dan mengetuk batin si Mamang. Sebentar lagi May selesai buang hajat. Sebentar lagi … sebentar.
May mendengar sesuatu yang lain. Gebrakan pagar, dentingan, teriakan, adu mulut dengan satpam dengan suara sama besar. Suara si perusuh adalah suara perempuan. Perempuan? Apakah dia termasuk golongan preman? Seingat May tak ada perempuan di kumpulan pria-berkaos-ular-kobra. Selesai dengan urusan toilet, May mengendap-endap di rumahnya sendiri, merunduk untuk mengintip dari jendela.
Perempuan itu tak bergeming meski berkali-kali diusir satpam, pun tak menggubris ketika dilarang memanjat kisi-kisi pagar. Kepada satpam yang (terpaksa) memegangi pinggul montoknya untuk turun, dia berteriak, “Lepasin, Pak! Lepas! Saya harus ketemu sama yang punya rumah ini, lho! Pokoknya harus sekarang juga!”
Napas May tercekat. Siapa dia?
“Mama Jevan! Mama Jevan!”
Bukan, dia bukan bagian dari teror yang menyekapnya selama berminggu-minggu.
“Hoi, Mama Jevan! Ayo, dong, keluar! Mama Gama di sini!”
Gama? Ah!
Ari melarangnya menerima siapa pun yang datang tanpa diundang, tapi May khawatir semua tetangganya keluar akibat lengkingan nyaring perempuan itu. Berkali-kali May mendapatkan teguran dari seisi Jalan Dawala untuk segala huru-hara yang kerap terjadi depan rumahnya. Satpam muda pun gelagapan di hadapan pakaian seksi Mama Gama. Salah sentuh sedikit saja bisa-bisa dia dilaporkan atas kasus pelecehan. Si montok harus masuk.
Namanya Lisa. Seraya memasuki halaman, Lisa menunjuk-nunjuk May yang telah membuatnya terpanggang karena menunggu terlalu lama. Wajahnya semerah kepiting rebus. Kaosnya basah di bagian ketiak. “Saya bukan maling, Pak!” Lisa misuh-misuh, kali ini menunjuk-nunjuk satpam.
Rambutnya lurus seperti spageti kering, dan May kira warnanya terlalu pirang untuk kulitnya yang tak cerah-cerah amat. Lisa mengaku janda, pernah bekerja di Pulau Dewata sebagai manajer hotel bintang tiga. Penampilannya terlampau muda untuk seseorang yang punya anak sebesar Gama.
“Maaf, tapi di sini lagi rawan. Kita bicara baik-baik di dalam. Oke?”
Lisa langsung menyerocos ketika May membukakan pintu dan mengizinkannya masuk. “Kami nggak bisa bertahan lagi, Teh. Saya dipecat, bisnis sampingan juga berantakan. Ibu saya udah tua dan sakit-sakitan. Mau meledak rasanya kepala ini!”
Lisa bilang, Gama mengalami cedera tulang sumsum belakang, dengan kerusakan lumbar (L3, L4, L5) dan sacrum (S1, S2, S3) akibat digebuki dan diinjak-injak, yang berakhir dengan punggung bawahnya dihantam linggis. Dia kehilangan sebagian fungsi motorik dan sensoriknya. Kelumpuhan mengikatnya di kursi roda sebelum kondisinya dinyatakan aman untuk terapi fisik dan okupasi. Bagian paling sulitnya, menurut Lisa, adalah urusan buang air. Kencing tak begitu jadi masalah, hanya saja Lisa enggan menjemur kasur tiap hari. Mengalasi kasur dengan seprei anti air pun malah membuat Gama—yang juga kehilangan kemampuan meregulasi suhu tubuh—alergi sampai kulit sekitar leher sampai pantatnya merah-merah dan beruntusan.
Urusan beol yang paling menguras emosi. Lisa bersungut-sungut mengeluhkan masalah tahi yang selalu dia temukan menempel di celana dalam Gama, sebab otot-otot di sekitar rektum dan kandung kemihnya tak bisa merespons sinyal dari otak untuk menahan dorongan buang air. Andaipun Gama bisa mengendalikannya—barang semenit saja, dengan amat bersusah payah—kaki-kakinyalah yang justru selalu lebih dahulu gugur di medan perang, terkulai lunglai bahkan sebelum dia berpikir untuk berdiri. Popok dewasa pun bukan solusi yang bisa dijangkau dompetnya jika harus dibeli setiap hari.
“Gini, saya tahu Teteh lagi kehilangan, tapi idup kayak begini juga nggak lebih baik.” Lisa melunak setelah menyeruput teh hangat buatan Bibi. “Gama nggak punya masa depan. Saya nggak punya jaminan sosial. Kita nggak tahu besok makan apa, jadi mohon pengertiannya, Teh. Saya mau minta tolong.”
May menyodorkan tisu ketika sebutir-dua butir air mulai menitik di sudut mata Lisa, lalu bertanya lembut. “Saya bisa bantu dengan cara apa?”
“Uang! Saya butuh uang!” Lisa lalu menggerutu soal asuransi kesehatan yang lempar-lemparan tanggung jawab dengan rumah sakit rujukan, lalu lempar-lemparan lagi dengan Jasa Marga. Terlalu banyak area yang tidak termasuk klaim, terlalu sedikit fasilitas penunjang yang diberikan. Dengan proses yang berbelit-belit, daripada anaknya keburu sekarat dan meregang nyawa, Lisa memilih mengorek semua sisa-sisa tabungannya.
“Fisioterapi nggak masuk tanggungan. Alat-alat kayak kursi roda dan berlusin-lusin kantong kencing harus dibeli sendiri. Nanti, kalau aliran ledeng kita diputus PDAM karena nunggak berbulan-bulan, air tampungan kencing si Gama bisa-bisa kita pake buat mandi sama nyuci, tuh!”
Wajah Lisa kuyu. Sepertinya dia lapar, dan May percaya lapar bisa mengubah seseorang. Tebakan May benar. Begitu Lisa dipersilakan ke area meja makan dan disuguhi nasi goreng untuk sarapan, perangainya jauh lebih tenang. Namun, tak lama dari itu, tersebab seluruh energinya telah kembali, selama satu jam penuh dia tak berhenti mengomel lagi soal tinja dan Pak RT yang lelet memberi rujukan pembuatan Surat Keterangan Miskin untuk dibuat di kelurahan.
Lisa mengeluhkan resepsionis balai kota yang terlampau judes untuk seseorang yang berhijab. Padahal, ketika kampanye Pak Wali Kota berjanji untuk menerima warga yang membutuhkan bantuannya dengan tangan terbuka. Datang saja ke Balai Kota, katanya dalam pidato kemenangannya. Semua itu palsu. Palsu! Omong kosong! Lisa juga mengutuk caleg yang menjanjikan bantuan sosial bagi janda dan lansia, sebab justru mereka mengusirnya ketika dia berkunjung ke kantor caleg tersebut (yang saat ini masih berprofesi sebagai juragan tas dan sepatu di Cibaduyut).