Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #9

BAB 9

Cerita tentang Gama bergulir dari persidangan ke berbagai tulisan, lalu menyebar lagi untuk mengetuk hati yang selama ini tidur dan diam. Gama tak jadi dikeluarkan dari sekolah setelah semua guru, staf, dan operator sekolah menandatangani petisi. Perbincangan yang terus menyebut namanya sampai ke telinga para petinggi yayasan. Hasilnya, Gama dibebaskan dari biaya, lalu diberi fasilitas tutor untuk setiap mata pelajaran yang ditugaskan untuk mengajar di rumahnya.

“Semua anak yang dilahirkan layak bertumbuh dengan hak-hak dasar seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Kemudian, tidak ada seorang ibu pun yang pantas ditinggalkan sendirian dalam mengasuh anak-anaknya. Kebersamaan adalah kunci kemajuan.” Bapak Yayasan bicara lantang di atas mimbar dalam pidatonya setelah upacara bendera. “Ingat, dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak. Begitulah cara kita bermasyarakat selama ribuan tahun. Ketika ayah mereka berburu, ibu mereka memasak dan menjahit baju, desa yang baik akan memberikan anak-anaknya ruang yang aman untuk belajar dan berkembang.”

Kalimat selanjutnya adalah ajakan Bapak Yayasan kepada seluruh perangkat sekolah untuk memastikan Gama lulus dengan nilai baik dan bisa terus mengejar cita-citanya. Bersama ibu dan bapak lain yang menyempatkan datang ke sekolah untuk pidato spesial pagi itu, May menitikkan air mata. Bukan karena puluhan buket bunga yang—lagi-lagi—dia terima untuk putranya, bukan pula karena dua menit mengheningkan cipta yang dinyanyikan dengan getir dan syahdu oleh kelompok paduan suara. May menangis karena satu anak memiliki harapan. Satu anak masih bernapas dan dikasihi banyak orang. Satu anak membuat keyakinannya tetap hidup; bahwa cinta akan selalu berada di sisi yang menang.

Beberapa hari yang lalu, meskipun kemunculannya melibatkan suster, terapis, dan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya, Gama bersaksi. Dengan penyangga leher dan pinggang Gama duduk tegak di atas kursi rodanya. Dengan kata-kata yang terbata-bata dan vokalisasi yang terbatas dia memaksa lidah dan otot-otot mulutnya yang kaku untuk bercerita. Ketangguhannya hari itu menjadi kepala berita, tentang bagaimana seorang bocah lumpuh mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk mengambil bagiannya memperjuangkan keadilan.

Wajah May memerah ketika Ari menyindirnya perkara sepuluh juta sebulan yang bisa disisihkan dari uang belanja. Ada cara lain. Selalu ada cara lain, Ari bilang. “Kita cuma nggak boleh berhenti coba buka semua pintu dan nyerah ketika nemu jalan buntu.”

May manyun, sebab, “Yang minta pengacara kita untuk mengusahakan kehadiran Gama sampai urus izin dokternya itu aku, lho, Kang!”

Ari mengakui May mampu mengimbangi skornya dalam perkara ini, meskipun dia tetap merungut ketika May memutuskan mengundang Lisa dan Gama makan siang untuk merayakan kemenangan kecil mereka. Di meja makan bundar itu Lisa berhadapan dengan keluarga May dan mendapatkan keinginannya. Opa bahkan menjanjikan keamanan asetnya yang dengan susah payah dia peroleh, dan menjamin Lisa bisa kembali ke rumahnya sesegera mungkin, sebelum bangunan modern dua tingkat itu benar-benar disita. Ketika Oma bertanya apa keinginan Gama setelah ini, jawabannya sangat sederhana. Gama ingin May dan Ari menemui Reka, lalu menanyakan padanya apakah bergabung dengan kelompok preman untuk membunuh membuat masa remajanya bahagia.

** ** **

Sabtu pagi, sebelum Dago Giri dipadati oleh pelancong dan pecinta kopi, SUV yang dikendarai Ari dengan gagah melibas jalur utara, meliuk-liuk mengikuti kontur jalan sempit perbukitan di bawah langit kelabu yang memuntahkan hujan. Setelah 30 menit berkendara, mereka tiba di sebuah pelataran parkir seluas lapangan sepak bola yang rimbun oleh cemara. “Panti Sosial Bina Bangsa” tertulis di plang dekat gerbang.

Bangunan itu kotor, pengap, tercatat masih bagian dari Dinas Sosial. Kata Ari, situasi gedung yang kurang terawat sudah tepat menjadi cerminan keadaan masyarakat. Gedung itu menjadi salah satu tempat yang dituju setiap gelandangan jalanan terciduk untuk “diamankan”. Dari situ akan dilakukan pemeriksaan lanjutan, biasanya untuk memutuskan apakah mereka perlu ditahan di lapas (jika melakukan tindak kriminal berat), atau (jika ada) dikembalikan kepada keluarganya.

“Tempatnya serem amat! Apanya yang ‘sosial’ dari ini?” May menarik-narik lengan Ari, enggan menginjakkan kaki di teras gedung dengan aroma apak bercat krem pudar itu.

Pegawai Dinas muncul dari balik pintu. Dialah yang bertugas untuk mendampingi kunjungan May dan Ari hari ini. “Mari, silakan masuk,” sapanya dengan ramah.

Gedung dengan empat pintu masuk itu memiliki beberapa fungsi, di antaranya adalah tempat rehabilitasi sosial bagi pengguna napza, pusat pembinaan perempuan, serta sebagai “Pusat Pelayanan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Sosial Anak”. Ari menatap sinis plang itu sebelum masuk mengikuti arahan, lalu menceletuk lantang, “Duit pajak kita dipakai buat melayani dan melindungi orang-orang ini, tapi anak kita dibegal sampai mati!”

May mencubit perut suaminya. Pegawai Dinas yang berdiri di antara May dan Ari tertawa hambar. Dia melanjutkan panduannya ke taman belakang. Di sebelah kiri taman yang pepohonannya pun tak terawat terdapat bangunan yang terpisah dari gedung utama. Ia difungsikan sebagai sebagai musala. Tiga keran air berjajar di sisinya. May menghitung ada 13 anak menunggu giliran untuk berwudu. Barisan terbagi ke dalam tiga lajur keran. Anak paling besar usianya 16 tahun, dan yang terkecil tak lebih tinggi dari si kembar. Pegawai Dinas memindai anak-anak itu satu per satu, lalu berkata, “Itu dia yang pakai kaos abu gelap. Di baris tengah, berdiri paling belakang.”

May mengamati anak yang berdiri menyerong sejauh sepuluh meter itu darinya lekat-lekat. Dahi berkerut-kerut. Dia meremas tas di bahunya erat-erat. Anak itu tak sadar sedang diawasi. Dia sibuk menggigiti kuku-kukunya, sesekali menggaruk-garuk rambut, lalu mengelap ingus dengan kerah kaos lusuhnya. Dari lubang kaos itu menjuntai lengan kerempeng, dan May pikir jari-jemarinya pasti lebih kerempeng lagi. May takjub sekaligus ngeri, mengingat otot-otot kerempeng itu sanggup mencengkeram putranya yang bongsor dengan tubuh atletis. Apakah narkoba yang menjadikannya sekuat itu? Atau, seperti kata Ari, anak kumal itu hanya sedang dirasuki setan jahanam penunggu jalanan.

“Anak-anak ini semuanya titipan dinsos sama polsek,” kata Pegawai Dinas memecah perhatian May pada anak itu. “Setelah dapet putusan, mereka baru bisa keluar dari sini.”

“Ke mana?” tanya May polos.

“Nah, nanti ada yang dialihkan ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak kalau kasus kriminalnya berat. Bisa juga dikembalikan ke orang tuanya kalau cuma maling atau tawuran. Ada juga yang harus dialihkan ke RSJ kalau terbukti ada gangguan mental. Ya, macem-macemlah putusannya, tapi sebagian besar balik lagi ke jalanan.”

“Dilepas begitu aja? Bukannya justru jalanan yang bikin mereka menyimpang begitu?”

“Seperti itulah, Bu. Kami juga serba salah, tapi mau bagaimana lagi. Di sini namanya juga ‘rumah singgah’. Kalau tidak ada yang keluar, kita tidak bisa terima yang perlu ditampung sementara. Tempat ini sudah puluhan tahun ya, begini aja fasilitasnya.”

Lihat selengkapnya