Rambut panjang May yang basah menitikkan bulir-bulir air dan membuat lantai kamarnya licin ketika dia mondar-mandir memasukkan keperluan esensialnya ke dalam tas. Cepat-cepat dia menarik pakaian pertama yang dilihatnya dalam lemari—gaun linen berwarna biru muda. Posisinya terbalik ketika dia mengenakannya dengan serampangan sembari mencari-cari kacamata minus lima yang entah terdampar di mana. May tak punya banyak waktu sebelum makan malam tiba dan keluarganya berkumpul lagi.
May harus menemuinya. Klinik dekat pasar, Uki ada di sana. Dia mengalami penurunan kesadaran ketika ditemukan meringkuk di trotoar oleh kakak-kakak asuhnya. Kemudian, mereka segera menghubungi Julia—yang namanya tercantum sebagai kontak darurat dalam proposal—begitu panas di tubuh Uki membuatnya kejang-kejang.
“Mereka bilang, sejak Jevan meninggal Uki nggak kelihatan lagi di sekitaran pasar,” kata Julia.
May tahu di mana Uki berkeliaran. Dia pernah melihatnya berjongkok di bawah pohon akasia depan lapas, bergelayut di pagar kantor pengadilan, bahkan bersembunyi di pos ronda dekat portal ujung Jalan Dawala. May tahu Uki tak pernah benar-benar menghilang. Dia hanya tak menampakkan dirinya. May hanya sedang tak mau menyapanya.
Uki mengidap hipoglikemia. Kadar gula darah dan oksigen di otaknya sangat rendah. Tekanan darahnya drop, dan dia mengalami cedera engkel karena terjatuh saat menaiki jembatan penyeberangan. Di kulitnya, jejak luka memang memudar, tapi kini ia dipenuhi bintik-bintik merah yang telah digaruknya kuat-kuat sampai berdarah. Entah sudah berapa hari anak itu tak makan. Uki tak seperti Uki yang terakhir kali May suapi sepotong klapertar di hari ulang tahun Jevan.
“Kekebalan tubuhnya mengkhawatirkan. Dia harus dirawat inap di rumah sakit, May.”
Uki. Sumber masalahnya. Permulaan mala petakanya. Menyedihkan melihat tulang-belulangnya hanya terbungkus kulit yang dipenuhi kudis, kurap, dan biang keringat yang merekah merah dengan titik nanah putih di tengahnya. Tapi tetap saja, sore itu dia tak seharusnya menyebrang jalan sembarangan sampai terserempet motor. “Kamu … bisa bantu rawat dia sementara, Jul?”
“Kita punya kode etik.” Julia memakai sarung tangan lateksnya untuk membopong Uki ke mobilnya dari ruang tunggu klinik yang hanya punya tiga deret kursi. “Siapa pun … siapa pun ….” Kepala Uki terkulai lemas dalam sanggaan lengan Julia. “Di hadapan medis, identitasnya nggak penting sama sekali.” Uki tak bergerak dalam gendongan Julia, tapi perempuan bertubuh jenjang itu lupa menyiapkan kunci mobilnya. “Tolong buka pintunya, May. Ambil kuncinya di tas bagian depan.”
Sekarang May punya rutinitas baru, membesuk Uki di rumah sakit setiap jam sembilan pagi dan empat sore. Setelah tiga hari dirawat intensif, Uki telah memiliki kekuatan untuk duduk, juga untuk menggelengkan kepala dan memutar tangannya. Lebih dari itu, dia sanggup menendang-nendang suster yang hendak memberinya obat. Dia kuat meraung-raung sampai suaranya terdengar ke ruang suster jaga di ujung koridor. Dia kerap berteriak tanpa sebab dan berkali-kali turun dari ranjangnya, lalu mendorong pintu, mengabaikan nadinya yang terhubung pada selang infus. Anak malang itu telah tiga kali pindah ruangan gara-gara keluhan pasien lain. Tanpa ada yang pernah menungguinya di setiap malam, dia dimarah-marahi pula oleh penunggu lima pasien lain di kamar kelas tiga yang terganggu dengan jerit tangisnya.
May tak bisa tinggal diam. Mungkin rasa terasing dan kesepian tanpa pendampingan satu wajah pun yang dikenal adalah penyebab percobaan kaburnya. Dan satu-satunya yang bisa menolongnya saat ini adalah Bibi.
“Uki mungkin lebih tenang kalau didampingi orang yang dia kenal, Bi. Tolong, ya ….” May memohon-mohon agar Bibi mau mengemas beberapa potong bajunya demi menemani Uki. “Biar bagaimana pun, Bibi pernah ngerawat dia, ‘kan? Bibi berkali-kali masak buat dia, pernah bantu ajarin dia mandi sampai bersih dan sikat gigi yang bener juga.”
Setelah mendengar permohonan May, sepanjang pagi Bibi serudukan menyelesaikan pekerjaannya di dapur dan tempat cucian. Panci masuk ke kabinet setengah dibanting. Seprai dijemur miring, terlipat pula ujungnya. Soto ayam yang May titipkan padanya menjadi lebih asin ketika May mencicipi kuahnya lagi. Kabar baiknya, mulai malam ini Bibi akan membersamai Uki di rumah sakit, meski May jadi harus mengulang semua pekerjaannya seraya mengoreksi yang tak beres.
Ari masih saja pulang kelewat malam. Namun, esok pagi ketika dia bertanya kenapa May harus menggosok teras luar dan mencegat tukang sayur keliling sendirian, jawaban yang dia terima adalah, “Bibi harus pulang ke Cimaung. Dia izin tiga hari, Kang.”
Selama tiga hari pula Ari pulang lebih cepat untuk membantu May memasak makan malam. Urusan dari mesin cuci sampai mengangkat jemuran kering diambil alih olehnya, pun dengan menggosok noda kerak air di kloset dan wastafel. Kemudian, Bibi pulang dan bersikap seolah baru kembali dari medan perang.
May mengerti, sebab setiap jam besuk dia berada di sana. Mimik serupa juga terpancar dari wajah Uki. Begitu bertemu dengan Bibi, Uki membelalak seperti habis melihat hantu. Anak itu gelisah bukan kepalang. Butuh tiga perawat untuk meyakinkannya bahwa Bibi bukanlah bagian dari orang-orang jahat yang pernah menyakitinya. Bibi datang untuk menjaga dan melindunginya, di saat tak ada satu pun dari keluarganya yang mampu.
Tugas Bibi selesai ketika Julia menyatakan Uki bebas dari komplikasi yang mengancam. Namun, ke mana pula Uki harus pulang sekarang? Satu-satunya pilihan yang ditawarkan Julia adalah panti asuhan yang bekerjasama dengan rumah sakit pemerintah—yang kerap merujuk pasien-pasien ciliknya yang butuh pengobatan. May menyetujuinya, tentu saja. Sekali lagi tanda tangannya diperlukan untuk mengesahkan seluruh dokumen administrasi, untuk menyelamatkan hidup seorang anak.
** ** **
Seminggu kemudian, pada hari Kamis sebelum senja, May mengunjungi Uki di panti asuhan. Keberadaan anak itu, kabarnya, meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan migrain di kalangan para penanggung jawab. Uki tak menyentuh makanannya jika tak dipaksa, tapi memaksa menjejalkan nasi ke mulutnya pun membuatnya muntah-muntah. Dia tak menyahut ketika dipanggil, tak mengerjakan apa pun yang diperintahkan padanya; mandi, sikat gigi, merapikan mainan, mengelap sisa-sisa minuman yang tumpah ke lantai. Tak ada cara untuk membuatnya cepat menurut mengikuti instruksi.
Namun, Ibu Pengasuh bilang, tentu saja mereka mengutuk kekerasan. Tak ada kata-kata yang mencederai hati di panti asuhan ini, apalagi siksaan fisik. Ibu Pengasuh hanya ingin mengeluh ketika May datang, sebab Uki tak lekas berbaring bahkan setelah semua lampu kamar dimatikan, sebab Uki terus melamun di pojokan, menyaksikan teman-temannya bercanda atau bertengkar. Sesekali dia melongok ke jendela dan berpegangan erat pada terali besi. Ibu Pengasuh menganggapnya pertanda yang mengkhawatirkan.
** ** **