Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #11

BAB 11

Setiap orang berduka dengan cara berbeda. Ada yang mengeluh pada bunga-bunga. Ada yang menghabiskan sepuluh jurnal untuk menarasikan rasa. Ada yang bercinta, bercinta, bercinta sampai kebas semua lara. May tahu itu. Hanya saja dia tak pernah tahu suaminya termasuk ke golongan yang mana.

Ada seorang perempuan di situ. Siluet anggunnya menantang gelapnya filter kaca mobil Ari. Dalam gerak lambat siluet itu menyisir rambutnya dengan jari-jemari, tenang menunggu Ari kembali dari toko roti. Relung dada May terbakar merasakan dialah penyebab ranjang sebelah kanannya dingin setiap malam. Semua kejanggalan menemukan penjelasannya pada perempuan itu. Sekarang ada alasan untuk malam-malam Ari pulang terlambat, dan untuk pagi-pagi yang disambutnya tanpa sisa lelah kemarin.

Dia yang setiap hari menyulut kobaran asa itu, bukan?

May memutar ulang rekam jejak semua polah tingkah suaminya, semua pesan tersirat dalam kata-katanya, juga intonasi di setiap percakapan mereka. Tak ada yang sebegitu mencurigakan, yang menekan tombol peringatan akan tenggelamnya bahtera sampai semua alarm sensornya berbunyi nyaring. Ikatan Ari dan si kembar pun makin berkelindan dalam setiap perjalanan antar-jemput ke sekolah. Apa yang salah? Apakah mengisolasi diri dan menghindari keterbukaan telah menumpulkan kepekaan dan mematikan radarnya? Tidak sadarkah May bahwa dirinya sudah sangat membosankan dan menyebalkan? May bahkan tak ingat kapan terakhir kali dia dan Ari berciuman. Setiap malam, Ari hanya melingkarkan lengannya di lekukan pinggang istrinya yang kian mencekung, lalu mendengkur.

Petunjuk, petunjuk, petunjuk. May mencari-carinya di mobil, di dalam tas, di semua saku baju, jaket, dan celana. Nihil, tapi seharusnya ada. Semestinya ada satu atau dua barang bukti untuk menggenapkan prasangkanya, ada secercah informasi tentang dari mana perselingkuhannya dimulai. May membabi buta membuka semua lemari, mengacak susunan berkas dalam laci. Nihil, tapi seharusnya ada. Sebab, walau terkadang Ari begitu asing perangainya, begitu berjarak isi hatinya, May yakin pada sebuah kepastian: Suaminya lihai menyusun strategi.

Ulangi sekali lagi. May menyisir semua tempat penyimpanan barang milik Ari, untuk yang kelima kalinya. Dari sekian banyak kotak yang dia buka lalu tutup kembali, juga banyaknya tas dengan resleting macet yang dia tarik dengan paksa, sebuah buku catatan pengeluaran bulanan memenangkan perhatiannya. Isi di dalam buku itu membuat May memesan makan siang alih-alih membuang waktu di dapur. Kesempatannya tak banyak. Semua setruk belanjaan itu mesti diteliti satu per satu.

Tidak ada yang aneh dari barang-barang yang Ari beli. Kebanyakan hanya produk kebersihan harian seperti sampo dan sabun abal-abal dari minimarket. Samponya mengandung mentol dan zinc, sabunnya berkomposisi sulfur. Perempuan gatal. Seluruh tubuhnya pasti sedang gatal-gatal, tapi setidaknya yang dikonsumsinya tak menguras kantong. Dia menyukai nanas honi dan pepaya California. Ari membelinya di toko buah langganan May—yang mana logo dalam setruknya dia kenali dengan baik. Ari juga berkali-kali membeli donat susu, roti nugat, dan martabak, padahal dia selalu menghindari yang manis-manis.

May akan langsung meninggalkannya jika dua tahun kemudian pria itu mengidap diabetes. Biarlah kelak perempuan itu yang menanggung semua kepahitan dari berakhirnya manis-manis yang Ari berikan. Semua akan menjadi sepah pada waktunya, bukan? Dalam isak tangis, dengan sekuat tenaga May menekan dada demi menghentikan dorongan ingin memuntahkan semua isi perut. Sebab, berkhianat adalah satu hal, tapi yang lebih mengenaskan adalah jatuhnya pilihan Ari pada perempuan murahan itu—perempuan yang produk perawatannya saja tak bermutu dan dijual sebagai barang diskon di minimarket.

Tunggu … tunggu dulu. May meneliti semua setruk itu lagi satu per satu. Lagi, lagi, dan lagi, sampai terkuak sesuatu dari sana. Semua belanjaan itu—mereka berasal dari toko-toko yang familiar. Minimarket itu, toko buah itu, toko kue itu—semuanya sering May lewati ketika dia menjemput Jevan di posyandu setiap Jum'at sore. Ah! Mungkin Ari dan perempuan itu tak pernah pergi jauh, dan kencan mereka tak bermewah-mewah pula. Mereka hanya berputar-putar di sekitar situ, di perkampungan kumuh, tempat yang tak akan May datangi seberapa kuat pun keinginannya untuk menjadi detektif dadakan.

Kelurahan Pasirlebak, letaknya di kotamadya, diapit oleh pasar, terminal bayangan, dan anak kali Cikapundung. Keempat begal berasal dari situ, mengintai dalam kegelapan, sembunyi dalam liku-liku yang sulit dipetakan hulu, hilir, dan cabang-cabangnya.

May tak sudi kembali ke sana untuk kemudian terbakar seorang diri. Irma harus tahu kalau adik laki-lakinya sedang bermain api.

** ** **

“Hah?” Irma menggebrak meja. “Muke gile! Sempet-sempetnya itu orang meleng di situasi begini! Nanti sekalinya kesandung bakal bikin repot semua orang!” Dia lalu meminta May segera bersiap-siap. “Ayolah, kita damprat dua-duanya sekalian!”

May—dengan wajah kuyu, mata sembab, dan rambut awut-awutan yang terus menyerap air mata—meraih handuk merah muda di jemuran dengan lunglai. Handuk itu yang selalu dia pakai ketika merasa perlu mandi selepas bercinta. Handuk itu pernah menjadi alas ketika mereka coba-coba melakukannya di lantai kamar mandi. Memikirkan apa yang telah Ari lakukan pada perempuan itu di ranjang rumahnya membuat May ingin menggunting handuknya sendiri sampai buyar setiap serat-serat mikrofibernya.

“Cepet, dong, ah!” pekik Irma seraya menyeret adik iparnya ke kamar mandi. “Kamu jangan malu-maluin begitu! Dandan yang cantik biar cewek kampungan itu senewen mikirin salon mana yang bisa menyamakan kedudukan! Ayolah!”

90 menit kemudian, di situlah May, berdiri dengan kikuk di mulut gang tempatnya meninggalkan Uki dengan sebotol Paracetamol dan salep oles untuk mengobati luka. May memakai gaun pink berbahan linen dengan aksen renda pada bagian dada. Panjangnya di bawah lutut—seperti semua gaun yang dibelikan oleh Ari di lemarinya. Meski May ingin memasangkannya dengan sepatu Mary Jane, dia telah belajar untuk mengenakan sepatu datar dengan bantalan empuk yang akan setia memberinya kenyamanan ketika harus berlari.

Di belakang Irma, May berjalan limbung, tapi mata dan telinganya terbuka lebar-lebar. Gang itu hanya muat berjalan untuk satu orang. May harus memiringkan badannya dan berhenti sejenak tiap berpapasan dengan pejalan lain, tapi tetap saja warga membuka jendela mereka untuk mengizinkan udara bersirkulasi di rumah masing-masing.

Setelah beberapa menit berjalan, menilik dan menerka dan mengawasi setiap gerak-gerik perempuan dengan rambut panjang sebahu, May mematung. Suara aneh menyeruak melalui jendela terbuka yang tak jauh darinya. Desahan, decit kayu, rintihan yang tertahan, dan tubuh yang berdebum pada dinding melebur jadi satu. Buku-buku jari May tergerak untuk mengetuk dinding. Dia pun berjinjit untuk mengintip ke dalam jendela.

“Ngapain, sih?” Irma mencoleknya. “Nanti kamu disangka maling, loh!”

Lihat selengkapnya