Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #12

BAB 12

Tidak adil. Saedah harus merasakannya juga. May harus kembali padanya untuk membuat perhitungan. Mereka bertemu lagi di waktu dan tempat yang sama, lalu May bertanya, “Boleh, anakmu kubawa pulang?”

Sisi gang tempat Saedah memilah kardus-kardus bekas bahkan dihindari warga setempat karena rawan dijadikan tempat duduk-duduk orang-orang mabuk yang membawa pisau lipat ke mana-mana di malam hari. Di sana banyak pemulung menyortir barang-barang temuannya untuk disetorkan ke bandar rongsokan. May beruntung, sebab di waktu pagi menjelang siang ini tak ada siapa pun di sana selain Saedah dan balita yang sedang terlelap beralaskan kardus bekas minuman manis kemasan.

Saedah menjerit-jerit ketika May menggendong dan membawa kabur anaknya dengan begitu saja. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa peringatan, tanpa ekspresi apalagi belas kasihan. May hanya yakin dia jauh lebih pandai dalam berbahasa. Dia bisa mengatur narasi sesuka hati. Dia bisa menyajikan faktanya sendiri. Di sisi lain, Saedah gagap. Mungkin yang ada di sakunya yang berlubang tak mampu pula membeli barang satu popok saset sehari. Pantat balita itu bau sekali.

Di kamar Jevan anak itu terlelap setelah mandi dan menghabiskan 200 mili susu formula. May menggosok minyak telon plus anti nyamuk pada seluruh badannya, lalu mengoles krim pelembab pada telapak kakinya yang kering. Dia berhenti menangis dengan mengemut jempolnya sendiri. Dia sudah wangi seperti ketiga bayi May ketika mereka seumuran, tapi bahkan siapa namanya saja tak diketahui.

Kama. May memanggil bayi perempuan berusia dua tahunan itu Kama—yang sebenarnya hanya berarti anak dalam Bahasa Hawai’i, atau cinta dalam kepercayaan Hindu. Kama tidur dengan tenang di sebelahnya, dan May tak mau memedulikan apa pendapat Ari tentangnya. Ari akan pulang tengah malam, tapi tak akan menyukai apa yang kelak dilihatnya.

“Apa kamu gila, May? Serius, apa maksudnya ini?” Ari pulang dan menemukan kamarnya kosong—sesuatu yang tak pernah terjadi sejak Jevan meninggal. Pintu kamar si kembar dibukanya, lalu ditutup kembali sebelum dia memasuki kamar si sulung. Di sinilah Ari menemukan May sedang menimang-nimang balita di bawah lampu temaram.

“Aku mau di sini. Aku mau jaga anak ini.” Hanya itu jawaban May atas ajakan suaminya untuk tidur bersama.

Ari membawa getir dan frustrasi turun bersamanya. Mungkin dia merasakan kesendirian, mungkin juga tidak. Pria itu sudah punya teman tidur yang lain, bukan? Jadi apa yang May lakukan saat ini seharusnya bukan masalah besar.

Setelah itu, Ari berhenti bicara pada May, lalu si kembar mengikuti polah tingkah ayah mereka. Anya dan Ayra tak pernah mau berada dalam satu ruangan dengan Kama. Jika Kama di dapur, mereka di taman belakang. Jika Kama merangkak ke teras, mereka naik ke lantai atas.

“Mama tidak usah baca dongeng kalau sambil pangku dia!” pekik Anya suatu malam.

“Dia berisik, tau! Kenapa dia di sini, sih, Ma?” tanya Ayra.

May meminta keduanya bersikap sebagai kakak yang baik jika Menginginkan jawabannya. Namun, yang mereka beri pada Kama hanyalah penolakan dan pengucilan, juga kata-kata kasar untuk mengusirnya jauh-jauh setiap langkah-langkah kecilnya mendekat. Tiap-tiap mainan yang habis disentuh Kama, si kembar enggan memilikinya lagi. Mereka bahkan menempel sebuah peringatan di pintu kamar: “tidak boleh ada kama”.

Tak biasanya mereka tiba di rumah setelah gelap. Irma selalu datang tepat waktu dari menjemput keduanya di dojang. Namun, di tiga sesi latihan terakhir, si kembar mengulur waktu melulu sampai-sampai Irma mereka buat pening hingga rambut keritingnya makin mengembang. “May! Anak-anakmu nggak mau pulang, nih! Tumben banget mereka akur sama si Zazi. Mereka bilang mau nginep sini. Gimana?”

Sekarang, semua orang di rumah May beraktivitas di kamar masing-masing, baik pada hari-hari sibuk maupun di akhir pekan. Ruang keluarga nyaris tak terjamah. Meja bundar tak lagi jadi saksi celoteh si kembar. Kedatangan Irma di jam makan malam untuk mengembalikan pakaian dobok yang tertinggal di mobilnya pun hanya bersambut aroma mie goreng instan yang tengah May makan dengan Kama di pangkuannya.

“Ini anak si Saedah?” Irma tersedak sampai es kopi gula arennya menodai bagian dada blus flanel katun yang dikenakannya. “Kamu sinting, May!”

“Biar dia merasakan jugalah.” May menjawab santai sambil terus mengunyah. Tangan mungil Kama sudah belepotan karena meraih-raih piring yang berisi mie goreng super pedas itu. “Dia mati langkah, Teh. Dia nggak bisa berbuat apa-apa. Dia yang habis kalau berani lapor polisi.”

“Bahhh! Boleh juga adikku ini!” Irma mengambil Kama yang terus mengganggu May dan mulai merengek. “Tapi, semua orang di rumah ini misuh-misuh, kan, jadinya?”

May mengangguk seraya memasukkan suapan terakhir yang berisi setengah kuning telur. Di piring kecil yang lain tersisa potongan telur rebus. May melahapnya juga setelah tadi Kama menghabiskan 2,5 butir. Perut bocah itu makin membulat sekarang. Setidaknya lengan dan kakinya mulai memiliki bantalan untuk dicubit-cubit. Hanya saja helaian tipis-tipis yang tumbuh di kepalanya masih mogok memanjang. Dari kejauhan, anak itu botak. Dan kini dia sedang menunjukkan dua gigi bawahnya dari balik tawa karena perutnya digelitik-gelitik Irma.

“Ya, sudahlah! Kamu urus anak ini, biar Teteh yang urus anak-anakmu.” kata Irma sebelum dia pulang. “Lagian, kalau suamimu bisa cari cewek lain, kamu juga bisa adopsi anak lain! Anggap aja kalian berduka dengan cara berbeda.”

Duka. Tapi duka bukanlah mengambil jalan berbeda. Duka adalah aliran cinta yang terlalu besar tapi tidak memiliki muara. Ia menggumpal tanpa tahu harus ke mana. Lalu ia menghitam. Lalu ia membuncah ke segala arah untuk mengurangi rasa sakitnya. Bagi May, dukanya datang dari kedua putrinya sendiri yang sedang enggan menampung cintanya. Sekarang May otomatis menjadi tak kasat mata setiap sedang bersama Kama.

Tidak, May tak akan mengembalikan anak itu, setidaknya sampai dua tahun sembilan bulan kemudian. Bahkan jika Saedah kini memindahkan slot parkir gerobaknya ke samping pos satpam dekat pohon tanjung di Jalan Dawala, Kama akan tetap ada padanya, sebab bocah itu akan tumbuh lebih baik di rumahnya ketimbang dalam jarik lusuh ibunya sendiri, apalagi jika dia harus diserahkan ke panti asuhan—seperti kata Oma.

Senada dengan Irma, Oma mengernyit mendengar tangisan balita di rumah May. Ari bungkam ketika ditanya. Bibi pun mengaku tak tahu apa-apa. Oma beruntung mendapatkan sebuah keterangan hari itu, sebab May tak takut lagi.

“Adopsi? Di saat seperti ini, Dek? Kamu waras, tidak, sih?” Wajah Oma yang sudah dipenuhi keriput makin berkerut-kerut. “Kamu jangan neko-neko, Dek! Biar Mama carikan aja panti asuhan yang kredibel dan fasilitasnya oke.”

Lihat selengkapnya