Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #13

BAB 13

Bibi harus keluar dari rumah, kembali ke tempat asalnya di Cimaung, atau ke mana pun, jauh-jauh dari Jalan Dawala. Dia telah melakukan kesalahan besar. Bukan melubangi pakaian dengan setrikaan, bukan juga mencuri sisa-sisa makanan, atau mengorupsi jatah belanja harian. Lebih parah dari itu, dia telah melanggar kode etik keibuan, di mana seharusnya menjadi ibu bagi satu adalah menjadi ibu bagi semua. Dia tak mengerti. Tak terbesit dalam benaknya bahwa seorang ibu yang sedang membersamai anaknya bermain di taman tak hanya mengawasi anaknya sendiri saja. Seorang ibu memiliki mata-mata dan refleks natural yang terlatih untuk menjaga semua anak di sana.

Maka, ketika Kama jatuh terguling dari dingklik sampai jidatnya benjol (May tak tahan untuk segera buang hajat saat itu)—dan Bibi hanya beralasan, “Punten, Kang Ari bilang, untuk urusan itu Bibi dilarang ikut campur.”—habis sudah batas pemakluman May. Ada sesuatu yang sangat hitam di hati Bibi, sampai-sampai terangnya keputusan untuk membantu seorang anak bangkit dari posisi terperosok saja menimbulkan pertentangan. Sungguh, bahkan jika Bibi tak sengaja membakar rumah karena keteledorannya mencolok alat-alat elektronik, May tetap akan menganggapnya orang tua sendiri. Namun, siapa pun yang punya niatan di hatinya untuk menyakiti makhluk rentan dan tak berdaya seperti balita tak layak dipertahankan, bukan? May menarik batasannya di sana—di ketiadaan rasa tergugah untuk melindungi yang tak berdosa.

Dan, jangan-jangan … jangan-jangan … alasan Uki menjerit berderam-deram di rumah sakit begitu dia melihat Bibi adalah karena diam-diam dia dianiaya dan disakiti. May hanya terlalu naif untuk mengakui dan menerimanya.

Bibi harus pergi. Ari tak bersuara perihal ini, tapi Oma datang ketika Bibi sedang berkemas. Konsultan keuangan senior itu protes. Dia meminta Bibi menyimpan barang-barangnya lagi di lemari. “Kamu bisa apa tanpa Idah, Dek? Nggak usah neko-neko, Mama bilang!”

May menyodorkan jidat Kama dengan gumpalan kebiruan. Itu pun tak mempan. Oma malah memaparkan seberat-beratnya human error dalam sistem kerja di dunia perbankan pun tak mesti membuat pelakunya dipecat. May tak perlu berlebihan.

“Berlebihan? Jelas kejadiannya depan Bibi. Kama nggak bangun karena keseleo. Siapa yang tega biarin anak jerit-jerit kesakitan selama sepuluh menit?”

“Tapi Idah cuma jalankan perintah dari suami kamu, Dek!”

“Maka dari itu, Bibi nggak bisa di sini lagi. Kami perlu asisten manusia, bukan robot yang patuh tapi nggak punya hati, Ma.” May mendelik sinis pada suaminya. “Lebih baik betulan sendiri daripada ada orang lain dan kita tetep ngerasa sendiri.”

Ari bergeming. May melongo mendapati suaminya memiliki sisi yang begitu dingin.

“Kamu ingat, Dek, nggak banyak pekerja keras seperti Idah. Kamu mungkin nggak dapet lagi yang setia seperti dia.”

Ibunya Bibi, Mak Popon, adalah orang kepercayaan nenek May. Merekalah yang membantu Oma mengurus anak-anaknya sepanjang hari dan malam. Mak Popon yang membebat perut Oma dengan kemben setelah anak-anak Oma lahir, sementara Bibi-lah yang menyiapkan jamu-jamuan dan memarut bangle untuk dioles ke jempol May dan Martin. Entah sudah berapa dekade almarhum Mak Popon mengabdi pada keluarga May. Oma tak mengizinkan May mempekerjakan asisten lain selain Bibi, atau dia tidak akan datang ketika May mengalami masalah apa pun.

May mendelik pada suaminya sekali lagi. “Aku sanggup urus rumah ini, Kang.”

Malam hari setelah Oma pulang, Ari meminta Bibi berkemas untuk kemudian dia antar ke kampungnya besok. Sebelum itu, Ari masuk ke kamar Jevan ketika May sedang mengganti popok Kama. Mereka tak lagi bertegur sapa dan May sangat merindukannya. Melihat suaminya tiba-tiba muncul di hadapannya dengan membawa secangkir teh jahe yang diberi perasan lemon dan sesendok madu membuat May gelagapan. Dia mesti bisa menahan diri untuk tak langsung melempar tubuhnya ke dada pria itu seperti biasanya. Dia tak boleh lengah.

“Kamu yakin kamu nggak takut lagi ditinggal sendirian?” Pertanyaan Ari terdengar sangat lembut di telinga May.

May mengangguk mantap. “Ya.”

“Mau Akang cari asisten baru? Kamu yang seleksi sendiri.”

“Nggak.”

Celoteh Kama mengisi hening di antara suara buangan napas dari keduanya. May diam ketika Ari bertanya kapan Kama dikembalikan, lalu bertanya ke mana dia ingin pergi liburan semester ini. Dia bertanya, bertanya, dan bertanya lagi sampai kedua tangannya terkepal karena tak satu pun jawaban dia terima. Tidakkah dia sadari bahwa yang ada di kepala istrinya hanyalah siluet perempuan penggoda itu?

Raut wajah Ari seperti habis kerja paksa belasan jam dan hanya diberi empat buah jagung sebagai imbalannya. Dia menua dengan drastis. Rambutnya makin banyak yang memutih, seakan sepuluh tahun telah berlalu dari keceriaan di malam ulang tahun itu. Apakah perempuan itu membuatnya pusing tujuh keliling? May ingin menatap suaminya lekat-lekat, ingin menghitung berapa garis-garis halus yang mulai bermunculan di ujung matanya. Namun, bertemu pandang hanya akan membuatnya semakin rindu Ari yang sedang memakai kaos merah muda sambil meniup balon.

“Besok pagi anak-anak bakal tanya ke mana Bibi pergi. Tugas kamu buat jawab,” katanya sambil menguap dan mengucek kedua matanya. “Dan coba pikirin kenapa belakangan ini mereka selalu di tempat Zazi tiap pulang sekolah. Kamu, kan, tahu mereka nggak pernah betah lama-lama di sana.”

Kamu juga tak lagi membaca dongeng atau bermain sepeda bersama mereka, May ingin membalasnya jika saja dia kerasan untuk bertengkar di hadapan balita.

“Oh, satu lagi.” Ari sudah berada di ambang pintu ketika dia teringat sesuatu. “Anak itu nggak sekalian ikut pulang kampung?”

May membeku. Anak itu? Anak … itu?

Lihat selengkapnya