Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #14

BAB 14

Dari pohon tanjung, May tampak seperti sedia kala. Normal, nyaris seragam dengan rumah-rumah lain di Jalan Dawala yang kebanyakan mengusung estetika modern-kontemporer. Tak tertinggal jejak kerusuhan yang sempat membuat dinding pagar luarnya dipenuhi cat semprot. Aroma bangkai pun hilang dengan sendirinya, tertelan oleh wewangian sedap malam yang ditanam di salah satu sudut taman. Jalan Dawala masih seperti dulu—rindang, sejuk, syahdu. Ia surga bagi para pecinta ketenangan yang menjadikan rumah sebagai tempat peraduan mutlak dari lelahnya menjalani kesibukkan dan ingar bingar tanpa henti di tengah kota besar.

Namun, di mata Opa, apalah arti estetika jika penghuni di dalamnya berjalan dalam retakan kulit telur yang bisa pecah dalam satu senggolan saja. Opa mengomel habis melihat taman depan May bertelanjang tanpa pengamanan, tak peduli bahwa barikade semacam itu malah membuatnya aneh dan terlalu mencolok. “Apa yang kamu perbuat sampai suamimu marah begini, Dek?”

May tak mengerti obsesi para lelaki pada peperangan. Tidakkah melelahkan menghabiskan setiap detik untuk merumuskan strategi menyerang dan bertahan? Mengintai, menjebak, memangsa, mereka bicara seakan-akan Bandung masih rimba belantara pada zaman Kerajaan Pajajaran. Kota ini sekarang dipenuhi universitas. Seharusnya ada ahli untuk setiap problematika, seperti penertiban preman dan pembinaan anak-anak terlantar.

“Kamu tahu apa yang baru-baru aja mereka lakukan, Dek? Si Deni itu harus tetep diwaspadai!” kata Opa setelah May menjelaskan bahwa CCTV tak diperlukan untuk alasan privasi.

“Iya, tapi enggak dengan cara bikin rumah kelihatan angker juga, dong.”

“Dek, dari dalem sel, Deni tunjuk ketua baru buat pimpin gerombolannya. Mereka baru jarah gudang barang elektronik bekas.” Opa lalu menunjukkan pesan singkat yang dikirim oleh pengacaranya. “Yang punya gudang ngeyel. Gak mau mereka kerjasama dan bagi-bagi jatah.”

“Sudah lapor polisi?”

“Apa kamu kira itu bisa balikin semua kerugian pedagang? Kamu kira kelompok preman sanggup bayar denda?” tanya Opa dengan bersungut-sungut. “Enggak, Dek. Di penjara pun hidup mereka berjalan seperti biasa. Pemilik gudang yang susah payah bangun usaha mesti tanggung sendiri akibatnya. Kamu ngerti apa pelajaran dari semua ini?”

May menggeleng lemah, malas bangkit kursi rotan di taman, malas mendengar ceramah Opa.

“Selama otak kejahatannya hidup, kaki-kakinya terus ngerusak tatanan dan bikin onar. Ada kemungkinan mereka balik ke area sini, Dek. Sekarang lihat kelakuanmu itu. Kamu malah seenaknya aja, nekat lawan suamimu segala. Kalau terjadi apa-apa gimana?”

Kemudian, Opa mengeluarkan setumpuk kertas dari sebuah map cokelat. Isinya adalah 140 lembar cetakan berwarna yang menampilkan foto-foto anggota Bangor (yang sempat ditahan sementara di polsek, lalu dilepaskan lagi ke jalanan).

“Ari yang cetak semua ini. Nggak tahulah dari mana dia bisa identifikasi semua anggotanya. Ini butuh usaha yang luar biasa, Dek. Mungkin ini juga sebab dia selalu begadang dan pulang malam.”

“Tapi, buat apa?”

“Harapannya, kalau foto-foto mereka semua terpampang di sepanjang Jalan Dawala sampai ke ujung Astrajingga, mereka bakal mikir dua kali buat menyakiti kamu dan anak-anak.

“Tapi kemarin Ari kasih semua ini ke kantor. Dia bilang, kamu udah nggak butuh pertolongannya lagi.”

May menggigit jari. Sekarang tak ada pilihan lain baginya selain benar-benar meyakini pernyataannya sendiri; bahwa kekerasan bukan cara menyelesaikan perkara, bahwa untuk sembuh dari duka adalah dengan mencinta, dan bahwa semuanya akan segera baik-baik saja begitu mereka berhasil menapak ke tahap selanjutnya—ikhlas. Ikhlas adalah arah yang harus mereka tuju. Cara menggapainya akan sangat melelahkan. Dan untuk itulah May harus memusatkan seluruh energinya pada perjalanan itu.

Tujuan kedatangan Opa sore ini sebenarnya hanya untuk menyerahkan ke-140 lembar cetakan. Namun, seperti biasa, Opa tak bisa bicara pada anak-anaknya tanpa membuat mereka merasa bersalah, tanpa pernah bertanya alasan, tanpa mau mengerti perbedaan sudut pandang. Sebelum pulang, Opa bertanya soal perempuan yang tinggal dalam gerobak, yang menurut Ari akan mencelakakan May jika tak berhati-hati. Dari depan rumahnya, May menunjuk ke arah pohon tanjung yang dedaunannya bergemerisik karena embusan angin sore. “Biasanya dia di situ dari jam sepuluh malam sampai jam enam pagi. Gerobaknya dilukis bunga-bunga, kebanyakan warnanya merah muda. Saedah nggak salah apa-apa, Pa.”

"Saedah? Kamu berkenalan?" Opa terkekeh-kekeh. “Dan kamu cat gerobak itu biar kelihatan ceria? Ini pasti gara-gara kamu sebetulnya takut, Dek.”

Takut? Tapi warna-warni adalah ekspresi, dan menunjukkan ekspresi adalah sebuah keberanian. May akan membuktikan pada Opa kalau bukan perempuan seperti Saedah yang membuatnya takut. Iba, mungkin. Iba dan pilu dan risih dan muak. Kombinasi semua itu yang membuat May menjaga jarak, tapi sekarang May tak gentar untuk menyelami kehidupannya.

Namun, ketika tengah malam May melongok keluar, ada gerobak lain terparkir di sana. Sekarang bukan hanya satu, tapi dua. May terperangah, sebab dua gerobak akan menimbulkan masalah. Dua gerobak akan menghalangi belokan ke Jalan Dawala, menghambat jalur keluar-masuk mobil penduduk. Dua gerobak lebih menarik perhatian. Dua gerobak—apalagi salah satunya berwarna hijau gelap keabu-abuan dengan seng yang sudah menguning—membuat lahan di bawah pohon tanjung menjadi kumuh. Dan, kelak dua gerobak akan menjadi tiga, empat, dan lima jika diberi ruang dan waktu.

May tak jadi mendekat. Dua gerobak membuatnya takut. Bukan pada Saedah, tapi pada semua tetangga yang akan segera mempermasalahkannya. Tak akan ada yang lengah soal ini. Tak akan ada yang bermurah hati memberi ruang dan waktu, terutama jika harga yang harus dibayar adalah rasa aman dan damai di sekitar rumah mereka sendiri.

Keesokan harinya, ketika May menanti kedatangan Mamang Gober untuk menyerahkan kotak makan, dua tetangganya sedang ribut-ribut di ujung jalan karena mobilnya hanya punya sedikit sekali ruang untuk berbelok. May meremas pagar kuat-kuat. Sebentar lagi para tetangganya akan angkat bicara soal tata tertib dan aturan hidup bersama. Saedah—dan entah siapa yang dia ajak bersamanya—harus pergi sebelum gelombang protes yang lain terbentuk lagi. Dan Ari tak akan melindunginya lagi.

May masuk ke dalam rumah. Dia bersandar ke pintu, lalu tubuhnya yang mendadak lemas merosot ke lantai. Tujuh kotak makan yang telah disiapkannya ikut berdebum. Dentingan besi dari pagarnya membuat May menutup telinga. Mamang Gober pasti menunggunya di sana, bertanya-tanya kenapa May terlambat pagi ini. Dia pasti mengkhawatirkan waktu yang terus berlari. Saedah pergi mencari nafkah sebentar lagi.

Kemudian, Ari keluar dari kamarnya. Wangi, tampan dengan rambutnya yang sedikit basah, bersemangat mengantar kedua putri kecilnya ke sekolah. May membuang muka ketika suaminya menghampiri. Saat ini dia merasa jelek sekali. Kekalahan pagi ini membuatnya tak berdaya. May tak mau dikasihani ketika sedang rapuh begini.

Ari mengambil tujuh kotak yang sudah May tata dalam kantong plastik hitam, lalu beranjak untuk menyerahkannya pada Mamang Gober yang terus membuat pagar berdenting. “Berisik,” katanya.

Kemudian, Ari duduk bersila di hadapan May. Dengan lembut ujung telunjuknya menekan bulir air di sudut mata istrinya.

“Terima kasih,” ujar May lirih.

“Kenapa kamu begini?”

Karena arusmu berbelok ke cabang lain dan aku membutuhkan muara untuk semua cinta ini, May ingin berkata. Namun, “Sebentar lagi sekolah. Kita nggak perlu bahas ini sekarang.”

“Kenapa harus kayak begini?”

May mendelik sinis. Dari lantai atas, Anya dan Ayra sedang berebut sisir. 15 menit yang lalu, May seharusnya sudah beres mengepang rambut mereka. Sekarang sudah terlambat. Mereka mesti menghadiri festival akhir semester hanya dengan rambut yang dikucir miring, yang tak terikat semua helainya.

“May—”

“Enggak semua seperti Akang. Nggak semuanya bisa isi kekosongan sama kehadiran orang lain. Ada yang cuma bisa sibuk di dapur dan cari kesenangan dengan berbagi.”

Lihat selengkapnya