Tak ada yang lebih indah dari kebersamaan, bukan? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tak pernah memilikinya?
Libur telah tiba. Di taman ini mereka berkumpul. Alas tikar daun pandan yang dianyam diagonal dengan kontras menjadi panggung atas meriahnya penampilan panganan kebarat-baratan seperti roti daging asap, salad saus yogurt, mayones, dan keju Parmesan, serta berloyang-loyang pasta. Bintang acara hari ini adalah si kembar, Zazi, dan Gama, anak-anak penuh semangat yang berhasil menyelesaikan semester mereka dengan nilai di atas rata-rata.
Dengan gitar dalam pelukannya, petikan-petikan senar Gama mengiringi Anya dan Ayra bernyanyi dan menari-nari meski tak pada tempo dan ritmenya. Namun, tak peduli seberapa kacau pun mereka menampilkan drama Bawang Merah dan Bawang Putih—yang justru mengundang gelak tawa ketimbang simpati dari hati terenyuh—keluarga yang mengelilingi mereka tetap bertepuk tangan sampai gemanya terdengar di gerbang masuk taman.
May kira barangkali inilah esensi yang sebenar-benarnya dari sebuah keluarga; kehadiran mereka adalah untuk membersamai kehidupan. Di bagian senangnya sudah tentu mereka datang. Ketika sebaliknya pun, saat takdir melempar seseorang ke dasar jurang nestapa, berselimut malu, marah, sedih, takut, kecewa, iri, dengki, serta perasaan kalah dan bersalah, mereka tetap memberi uluran tangan, walau terkadang lengkap dengan 1.001 caci maki dan ledekan pula.
Sekarang, taman ini sedang menjadi saksi adegan gembiranya. Di saat semua orang terkapar di atas tikar karena kekenyangan, sambil menikmati langit biru, suara kicauan burung, dan aliran sungai kecil yang berhulu dari perbukitan Tangkuban Parahu, May mengajak anak-anak dan Gama berkeliling. Meski jalurnya menanjak dan menurun mengikuti kontur dataran tinggi, paving blok yang dibangun untuk pengunjung membuat taman ini ramah kursi roda.
Sejak awal May greget. Dia tak bisa diam saja melihat keagungan pohon trembesi yang berdiri kokoh tak jauh dari tempat mereka menggelar tikar. Dari kejauhan, kemegahan pohon raksasa itu mengganggu konsentrasinya ketika menyaksikan penampilan spontan anak-anaknya tadi. May ingin kembali ke sana. Ingin mengenang momen satu tahun yang lalu, di mana Jevan melompat-lompat girang ketika berfoto di hadapan pohon yang kabarnya sudah berusia 150 tahun itu—yang ditanam sejak zaman kolonial oleh seorang generaal dari Belanda.
“Dia namanya Kihujan. Dia melindungi makhluk-makhluk hidup lainnya dari panas. Hebat, ya?” May resmi membuka tur pribadinya sebagai pemandu. “Kakak Jevan jatuh cinta pada pandangan pertama sama pohon ini.”
Gama sibuk mengeluarkan ponselnya. Kamera membidik keindahan dahan-dahannya yang meliuk-liuk seakan sedang menari-nari diiringi angin bersiul.
“Tajuknya lebar, daunnya rimbun, bentuknya kayak kanopi. Kalian tahu, dia salah satu pejuang terbaik yang kita punya dalam menyerap zat karbon. Kemampuan dia dalam menetralisir udara luar biasa, lho.”
Semua orang menengadah di saat bersamaan. Batang kokoh di hadapan mereka menjulang sampai 30 meter ke angkasa. Rerantingnya menjalar dari batang induk ke berbagai sisi. Dedaunannya menaungi makhluk-makhluk di bawahnya sebagai kanopi alami. Berada tepat di bawah pohon itu seperti mengembalikan May ke masa kecilnya—saat dia terpana, bergeming bagai pantatnya dipaku ke tempat duduk di hadapan seorang perempuan cantik berkostum bidadari. Sang bidadari tinggi semampai. Dia memakai gaun putih yang panjangnya menyapu lantai, lengkap dengan sayap dari bulu-bulu halus yang menari-nari genit setiap disorot lampu tembak. Itulah pertunjukkan teater pertama May. Martin yang membelikan tiket untuknya.
“Kalian tahu kenapa dia bisa tumbuh seperti raksasa, Anak-anak?”
“Akarnya pasti kuat!” jawab Gama.
“Betul, akarnya kuat banget, dan dia menyebar ke berbagai sisi, bahkan bisa sampai menjalar dalam radius belasan meter ke sekelilingnya. Jadi bukan cuma batangnya, akar-akarnya pun gemuk, strukturnya juga padat dan kokoh.”
Fakta inilah yang membuat Gama sebal, sebab dia tak bisa mendorong kursi rodanya lebih dekat karena akar-akar buncit itu mencuat dari permukaan tanah.
“Tapi, banyak sekali syarat yang harus dipenuhi biar Kihujan bisa capai potensi maksimalnya, lho.”
“Syaratnya apa, Ma?”
“Untuk pohon semegah ini, dia perlu menyerap sangat-sangat banyak air, perlu banyak nutrisi. Dia mesti tumbuh di tanah yang sehat dan terbuka luas, yang subur, yang penuh dengan unsur hara makro dan mikro. Dia perlu matahari penuh hampir sepanjang tahun. Setelah itu semua terpenuhi, baru dia bisa kembalikan ke kita semua yang udah dia terima, kayak udara yang jernih dan tanah yang aman dari erosi. ”
“Yah, susah banget, sih!” Ayra mengeluh.
“Dia bukan pohon ajaib dari negeri dongeng, Sayang. Tentu aja perlu banyak usaha yang nyata biar dia tumbuh dengan baik.”
Beralih dari Kihujan, anak-anak berlarian menuju ayunan kayu yang diikat oleh tali tambang goni ke dahan pohon. Dari ayunan, mereka menertawakan pohon yang dahannya miring karena ditanam terlalu dekat dengan bangunan kafe berbentuk saung.
“Kasihan, ya, dia!” Seru anak-anak. “Dia aneh banget! Pasti nggak punya temen pohon lain.”
“Eehh, tidak perlu kasihan,” ujar May. “Pohon akan selalu tumbuh ke arah datangnya sinar matahari. Begitulah cara dia bertahan dan terus tumbuh. Bukan berarti aneh, apalagi jelek. Dia normal, kok.”
“Kalau gitu tukang kebunnya yang aneh!” kata Zazi. “Kenapa tanam pohon dekat rumah kayu, sih?”
“Yah … betul juga, sih. Makanya kalian harus ingat, ya. Biar pohonnya nggak aneh, tanamnya harus bener. Dan kalau kita nggak jaga apa yang akarnya perlukan, pohonnya bisa tumbang.”
May tersenyum getir. Tanpa sadar tahun lalu dia juga mengucapkan kalimat-kalimat yang sama pada Jevan. Tak lama kemudian, si sulung pun memutuskan menjadi Kakak Asuh untuk anak-anak jalanan.
“Terima kasih udah ajak kita keliling-keliling, Tante.” Gama memecah lamunan May.
May yang seharusnya berterima kasih. Dia butuh percakapan dan pengalaman ini. Dia memerlukan kemantapan tekad sebelum bertemu Reka.
** ** **