Sebatang Seribu Akar

Friasti
Chapter #16

BAB 16

Dari semua hal yang masih mengganjal, urusan rembesan air di dinding kamar Bibi akhirnya diselesaikan Ari. Jevan masih di rumah, baik May maupun Ari masih bisa merasakan keberadaannya. Namun, pilihannya akan cat abu muda sudah kadaluarsa periodenya. Penggantinya adalah warna-warni pastel seperti hijau muda dan merah muda dan jingga muda. Kursi berlapis kain velvet berwarna kuning kenari tempat Jevan menghabiskan waktu santainya tak jadi disimpan di gudang. Ia tetap di tempatnya—di titik yang menurut Jevan sempurna. Dia bisa menghadap ke TV jika sedikit menengok ke kanan, dan memandang taman belakang jika sedikit menengok ke kiri.

Itu bagian manis yang May lalui minggu ini, sebelum Irma datang pada Selasa sore.

Dari semua hal di dunia yang tak ingin May dengar, pengakuan dari Irma-lah yang paling membuat batinnya bergejolak: Ari, Opa, seseorang dengan kemeja abu-abu, dan dua pria berpakaian serba hitam sedang makan siang di sebuah rumah makan Padang di jalan sempit pada Selasa siang. Asisten rumah tangga Irma yang memergokinya. Dia sampai mengambil foto sebab menurutnya ajaib melihat orang besar seperti Opa di tempat kecil seperti itu.

Namun, tak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan? Suaminya telah kembali. Anak-anaknya akan menjadi anak manis lagi. Tak ada pesawat, atau kereta, atau restoran seafood di sebelah resor tepi pantai pada masa liburan ini. Namun, momen-momen ini justru menjadi memori yang paling berkesan, sebab keluarga May sibuk bahu-membahu mempercantik rumah.

Setiap lima menit sekali Ari meracau tentang bagaimana dia sangat menyayangi keluarga. Sayang, sayang, sayang, entah berapa ribu kali kata itu dilontarkan. Posisi nomor dua ditempati oleh, “Papa nggak bisa hidup tanpa kalian." Apa pun yang sedang dipikirkan pria itu, apa pun tujuan pertemuannya dengan Opa dan tiga lelaki lainnya di rumah makan Padang sederhana itu, May mencintainya. May sudah sangat mencintainya selama lebih dari dua dekade, dan akan terus mencintainya sampai maut memisahkan.

Kemudian, muncul sebuah kabar. Kabar ini terlalu aneh untuk diabaikan rinciannya. Terlalu tak terduga dan tiba-tiba. Kabar ini kabar baik, seharusnya. Namun, baik May maupun Irma, Julia, dan Oma justru merinding dibuatnya.

Dua kejadian serupa tapi tak sama. Sebuah kebetulan yang setara dengan kemunculan pandemi setiap seratus tahun sekali. Jika ini sudah direncanakan sejak awal oleh Sang Pencipta, May hanya perlu menutup mata sambil merentangkan tangan, lalu dalam damai mengambang mengikuti lajur alurnya, menikmati riak-riaknya. Namun, sebelum berserah pada jalannya nasib, May perlu bukti bawa dua kejadian sama sekali tak berkaitan dan bukan rancangan seseorang.

Deni meninggal di selnya dalam keadaan babak belur dengan kerusakan organ dalam yang mengenaskan. Kepala ular akhirnya terputus sempurna dari keseluruhan badannya. Begitu mendengar cerita ini dari pengacara, Ari merayakannya seperti orang gila.

“Dia meninggalnya kenapa?” tanya May.

“Dihajar sesama napi. Dikeroyok enam lawan satu. Duh! Andai ada siaran live-nya di tv! Atau minimal video amatirnya, deh!”

“Kok, bisa? Apa masalahnya?”

“Katanya dendam lama. Dulu ada bentrokan parah sama kumpulan lain. Buron ketemu buron. Kita mungkin bisa nikmatin adegan selanjutnya nanti, pas jongos-jongosnya berburu manusia di tongkrongan sebelah.”

“Kang! Itu bukan sesuatu yang pantes kita tunggu-tunggu! Lagian, emang di dalem nggak ada yang pisahin?”

“Siapa? Sesama napi? Sipir? Sipir mah kalau udah sekacau itu angkat tangan. Cari amanlah, yang penting kabarnya nggak bocor ke mana-mana.”

Jadi, Deni sudah 100% mati. Dia menyusul Yudi ke alam baka. Terserah apa yang akan terjadi padanya di sana. Namun, di sini, saat ini, May kalang kabut, sebab kenapa pula dia tak berlapang dada? Kenapa dia tak ikut merayakan kemeriahan pesta pizza suaminya dan bergabung dalam keseruan 30 karyawan lain? Ketika dua dari empat begal yang membunuh anaknya bernasib sama, May seharusnya percaya pada Ari bahwa tak akan ada yang menyakitinya lagi. Semua akan baik-baik saja. Mereka bisa saling mencintai dengan tenang.

Alih-alih, May mengajukan satu pertanyaan lagi. “Gimana dengan Teguh?”

“Ah, si cabul itu. Nggak ada yang lebih pas dia terima selain lubang pantatnya harus bocor juga. Napi pun punya kode etik. Pelaku pelecehan seksual, katanya, dianggap spesial. Dia pasti lagi jadi kesenengan penjahat senior di sana.”

“Oh ….” May menggigil sampai kedua tangannya menyilang untuk mendekap tubuhnya sendiri. “Dari mana Akang tahu semua ini?”

“Sayang, bukan Akang yang selalu nolak setiap pengacara kita minta waktu buat ketemu.”

Ah! Benar juga. May bisa menghubungi pengacaranya kapan pun. Untuk menjawab rasa penasarannya, untuk meredam gelisah di malam-malamnya. Justru dia sendiri yang menciptakan gelembung dan memasang filter pada tiap-tiap hal yang membuatnya nyeri dada dan sakit kepala. Sekarang Ari tak begadang lagi, tak pernah pulang lewat petang lagi, dan mereka bercinta setiap malam. Bercinta membantu kantuknya cepat datang dan tidur lebih nyenyak. Bercinta membuat May mabuk kepayang. Dan ketika mabuk, akhirnya dia mengajukan pertanyaan yang benar.

“Akang ada hubungannya sama semua ini? Opa juga?”

“Ya.” Dengan begitu saja dia mengakuinya. Komitmennya untuk selalu berkata jujur sejak awal menikah patut diacungi jempol. May hanya perlu bertanya dengan jelas untuk langsung mendapatkan isi hati dan kepalanya. Dia selalu segamblang itu. Hanya saja pikiran May kerap membuat segalanya jadi keruh.

“Dengan kematian Deni? Yudi juga?”

“Ya. Sekalian buka kasus lama Teguh juga. pedofil yang korbannya anak-anak nggak layak dikasih ampun sedikit pun. Biar semua tahanan lain tahu kasus besarnya dia bukan jadi begal.”

“Kenapa harus sampai kayak begitu, Kang?”

“Biar adil.”

Lihat selengkapnya