Tadi Malam Jevan Meninggal
.
Di telapak tangan Julia, lengan Ari terasa dingin, dan wajahnya lebih dingin lagi ketika laki-laki itu menerobos barikade tubuhnya yang rapuh. Kaki-kaki Ari menjejak menuruni anak-anak tangga, gegas dan mantap. Dengan si kembar berada dalam gendongan ayahnya, Julia mesti berhenti menghalang-halangi jalan jika tak ingin semua orang jatuh berguling-guling.
“Jangan, Ri, jangan!” Julia bersumpah mati, dia tak akan melupakan bagaimana kobaran api begitu membara di kedua mata laki-laki itu. Dia terbakar amarah dan panasnya menjalar ke mana-mana. Rumah ini jadi menyesakkan.
Ari meminta kedua putri kecilnya memperhatikan bagaimana pucatnya seseorang yang sudah meninggal, lalu meminta mereka menyampaikan salam perpisahan. Selesai berdoa, Ari membelai rambut keduanya seraya menatap mereka lekat-lekat. “Di dunia ini banyak sekali orang jahat. Kakak meninggal karena orang jahat.”
Julia terlonjak, dengan cekatan mencoba menyeret Anya dan Ayra keluar. “Mereka nggak siap, Ri! Belum saatnya! Jangan sekarang! Aku janji sama May, tolonglah ....”
Namun, sekeras apa pun Julia meronta, Ari kokoh mencekal kedua tangannya dalam satu genggaman kuat, tanpa memutus kontak mata pula dengan anak-anaknya. “Kita sudah belajar sopan santun dan tata krama, ‘kan? Apa yang harus dilakukan kalau kita berbuat kesalahan?”
“M-minta maaf ...?” Anya menjawab terbata-bata, terperangah melihat Julia kelojotan berusaha melepaskan diri. “Tante Julia?”
“Halus beltanggung jawab!” Ayra tiba-tiba menyambar. Suaranya tegas meskipun r-nya masih tak jelas. Kepada Julia yang sedang dicengkeram ayahnya dia berlarian. “Sudah, Tante! Jangan nangis terus. Kita akan tangkap penjahatnya sama-sama. Oke?”
Julia berhenti memberontak. Habis sudah tenaganya yang tak seberapa. Kepalanya dihantam jutaan denyut menyakitkan yang meletup-letup bagai gelembung di permukaan air mendidih. Setelah perempuan itu lesu, Ari melepas cekalannya. Julia menangis, merintih karena pergelangan tangannya perih, membatin karena dia tak bisa memegang janjinya untuk menjauhkan dua anak manis itu dari jasad kakaknya. Sambil memeluk lutut dia hanya mampu duduk di pojokan, berharap May segera sadar. May harus bangun sekarang untuk menyelamatkan anak-anaknya yang lain.
Di hadapannya, dengan tenang Ari merangkul kedua putrinya.
“Anak-anak baik.” Ari bilang, lalu dia menjulurkan kelingkingnya. “Hari ini kita janji, semua pelaku harus dapet balasan yang seadil-adinya. Oke?”