Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #1

Luka tak terlihat

Rendra duduk diam dan termenung di sebuah taman rumah sakit. Pandangannya kosong, alisnya sedikit terangkat dan rahangnya nampak tertutup rapat menunjukkan ketegangan dan kekecewaan yang mendalam. Nafasnya seolah berat, seperti ada sesak yang ia tahan. Perlahan Rendra memejamkan matanya lalu membuang nafas dengan kasar seraya menunduk. 

"Permisi, Pak," ucap seorang suster. Perlahan, Rendra pun menoleh.

"Maaf Pak, Bapak diminta untuk masuk ke dalam," sambung suster itu.

"Baik, sus," jawab Rendra.

Dengan gerakan lemah, Rendra mencoba beranjak. Ia berjalan mengikuti suster itu. Langkahnya nampak lemah dan lemas, seperti kehilangan semangat dan gairah hidup. 

Rendra lalu masuk ke sebuah ruangan di rumah sakit.

"Silahkan, Pak," ucap seorang dokter.

Rendra berjalan pelan mendekati ranjang rumah sakit. 

"Bu, ini, Pak Rendra sudah ada, Bu," ucap dokter itu. 

"Pak Rendra, sepertinya Bu Ratna mau menyampaikan sesuatu pada Anda," ucap dokter lagi. 

Seorang wanita paruh baya yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan memakai oksigen di wajahnya. Ia menggerakan tangannya yang mulai melemah, Rendra lalu menyentuh lembut tangan wanita itu.

"Rend, I-ibu mi-nta ma-af," ucapnya lirih. Wanita itu berusaha untuk berbicara meski terasa sulit dan sesak.

"Ibu ga usah minta maaf, Bu," balas Rendra.

Dengan mata yang berkaca-kaca Rendra menatap dingin wanita itu. 

"I-bu mo-hon, jan-gan cerai-kan Ma-ya," lirih wanita itu lagi.

Tatapan Rendra berubah nanar, ia seperti tengah menahan amarahnya. Bibirnya terkatup rapat, nafasnya berat, di sisi lain ia juga seolah berusaha untuk tegar.

"To-long, maaf-kan dia. Jan-gan.. pi-sah sa-ma Ma-ya," ucapnya lagi dengan tertatih.

Sambil menggenggam tangan wanita itu, Rendra menunduk dan menangis. Air matanya perlahan mengalir.

"I-bu mo-hon, Rend," pintanya lagi.

Rendra mengangkat kepalanya seraya menarik nafasnya dalam.

"Bu, Ibu ga usah mikirin ini dulu. Sekarang Ibu fokus aja sama kesehatan, Ibu," pinta Rendra.

"l-ibu, u-dah ga ku-at. I-bu mo-hon, jang-an pi-sah sa-ma Ma-ya," wanita itu terus memohon dan membujuk dengan ucapan yang sama. 

"Pak Rendra, sepertinya itu sebuah amanat," sahut dokter.

Dengan sisa tangisannya, Rendra memejamkan matanya lagi seraya menarik nafasnya panjang.

"Ibu...,"

"I-bu mo-hon," harap wanita itu. Ia nampak semakin lemah dan tak berdaya. 

Rendra lagi-lagi menarik nafasnya.

"Iya, Bu. Saya janji, saya tidak akan menceraikan Maya. Tapi Ibu juga harus sembuh ya, Bu," ucap Rendra dengan berat dan gemetar.

"Ma-kasih," ucapnya. 

Tiba-tiba saja wanita itu langsung mengalami sesak yang hebat. Tubuhnya menenang, dadanya langsung naik tinggi, nafasnya terputus, seolah tak mampu lagi menampung udara. 

"Bu, Ibu..!" seru Rendra panik.

"Maaf, Pak, sebaiknya Bapak keluar dulu," pinta dokter.

"Tapi, dok," ucap Rendra.

"Tolong, Pak. Bapak sekarang keluar dulu," perintah dokter.

Lihat selengkapnya