Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #2

Tabir masa lalu

Maya menatap foto keluarganya. Dalam foto itu terlihat sangat harmonis dan bahagia. Maya, Rendra dan kedua putri mereka tersenyum bersama dalam foto tersebut. Namun Maya nampak menatap sendu pada foto keluarga yang dipajang di ruang keluarganya. Seketika ia teringat kejadian di masa lalu. Kejadian yang merubah seluruh hidupnya. 

Flash back 

"Mas, maafkan aku, Mas. Aku mohon maafkan aku," ucap Maya bersimpuh di kaki Rendra. 

Mata Rendra nampak nanar, ada kemarahan dan kekecewaan yang mendalam di sana. 

"Kamu tega sekali Maya. Bertahun-tahun kamu bohongi aku," sungut Rendra.

"Mas, aku mohon, aku minta maaf, aku ga bermaksud buat bohongin kamu, Mas. Aku sayang sama kamu, Mas," Maya masih memegangi kaki Rendra seraya terus-menerus meminta maaf. 

"Sayang, kamu bilang?" sungut Rendra.

"Aku mohon Mas, maafkan aku," harap Maya.

"Bagaimana aku bisa memaafkan kamu Maya. Bagaimana?" seru Rendra.

Isak tangis semakin mengguyur wajah Maya.

"Ada apa, ini?" tanya perempuan paruh baya itu, tiba-tiba Ratna datang dan masuk ke dalam rumah. 

"Ibu," ucap Maya.

"Maya, Rendra? Sedang apa, kalian? Maya, kenapa kamu sujud di kakinya Rendra?" tanya Ratna

Maya lalu berdiri dengan dibantu oleh Ratna.

"Ada apa, ini? Kalian, kenapa?" tanyanya.

"Ibu bisa tanyakan sendiri pada anak Ibu," sahut Rendra seraya membelakangi. Tatapan Rendra masih nanar. Ia seolah tak ingin melihat Maya.

"May, ada apa, ini?" tanya Ratna.

"Ibu.. maafin Maya," ucap Maya dengan isak tangisnya. Ia lalu memeluk ibunya.

"Kamu keterlaluan Maya, aku bener-bener tidak menyangka, kamu bisa melakukan hak sehina ini," seru Rendra.

"Apa?" ucap Ratna terkejut.

"Eyang..!" panggil seorang gadis muda.

"Yunda...!"

Tiba-tiba saja ponsel Maya berdering. Maya seolah langsung tersadar dalam lamunannya. Ia lalu menghapus air matanya dan menghela nafas panjang. 

"Halo," ucap Maya saat ponselnya ia letakkan di telinganya.

"Halo. Bu maaf, saya dari pihak sekolah, mau menanyakan, apa Ibu jadi menjemput Mela? Kata Mela, dia akan dijemput oleh ibunya," tanya seorang wanita di sebrang sana.

"Oh iya, Bu. Jadi Bu, jadi, saya akan menjemput Mela," jawab Maya.

"Baik, Bu. Saya tunggu di sekolah ya Bu, soalnya anak-anak yang lain sudah pulang, tinggal Mela saja di sini, nunggu dijemput sama ibunya katanya," 

"Iya, Bu. Saya segera ke sekolah buat jemput anak saya, tolong suruh Mela tunggu sebentar lagi ya, Bu," pinta Maya.

"Baik, Bu," 

Maya langsung menutup sambungannya dan gegas berangkat. 

***

Malam hari yang terasa lengang. Rendra baru saja pulang. Memasuki rumahnya Rendra disambut cahaya lampu ruang tamu yang hangat. 

"Mas, kamu udah pulang?" tanya Maya seraya berjalan menghampiri.

Maya hendak mengambil tas kerja Rendra.

“Ga perlu,” ucap Rendra dan langsung menangkasnya. 

Maya terdiam, ia menghela nafas seraya menelan salivanya. 

Ayunda yang baru saja turun dari kamarnya tak sengaja menoleh ke arah Ayah dan Ibunya. Ayunda mencoba mendekat untuk memperhatikan sambil menggenggam gelas kosong.

Rendra duduk di sofa, ia menghela nafas panjang seolah menunjukkan kelelahannya. 

"Aku bantu ya, Mas,” ucap Maya saat ingin membantu Rendra membuka sepatunya.

“Ga perlu, aku bisa sendiri. Buatkan aku minum, aku haus!” perintah Rendra dengan ketus.

Lihat selengkapnya