Ayunda nampak sibuk bersiap untuk pergi. Di kamarnya, ia berdiri di depan cermin, Ayunda nampak tengah menggunakan jaket berwarna putih serta topi.
Ia pun lalu mengambil kacamata hitam yang dimasukan ke dalam tasnya. Setelah merasa siap Ayunda gegas keluar kamar lalu turun ke bawah.
"Bu, aku keluar dulu yah. Udah janji sama temen," pamitnya pada Maya.
"Mau keluar? Mau kemana, Yun?” tanya Maya.
"Janjian sama temen Bu. Aku mau nganterin temen beli kado," jawab Ayunda.
"Temen kamu itu siapa? Laki-laki atau perempuan?" tanya Maya nampak penasaran.
"Perempuan Bu, Riri, Ibu kan kenal. Riri minta aku buat nemenin dia nyari kado buat keponakannya. Katanya keponakannya mau ulang tahun, terus aku udah janji mau nemenin dia,” jawabnya.
"Yaudah. Kamu hati-hati, yah," ucap Maya.
"Iya, Bu. Aku berangkat yah," Ayunda mencium tangan ibunya.
"Eh tunggu dulu. Kamu kok, tumben pake jaket, Yun? Emang ga kepanasan pake jaket kayak gini?" tanya Maya seraya melihat penampilan Ayunda.
"Oh, ini... ya karena panas Bu, makanya aku pake jaket. Aku juga pake topi, aku mau naik ojek soalnya," jawab Ayunda sedikit gugup.
Maya nampak mengeryitkan dahinya.
“Ngapain naik ojek, Yun. Kenapa ga naik taksi aja,” saran Maya.
“Naik taksi macet Bu, tadi aku liat maps juga macet banget. Udah yah Bu, aku juga takut Riri nungguin aku,” jawabnya.
"Yaudah, kamu hati-hati,"
“Iya, Bu,”
Ayunda pun gegas pergi, dahi Maya nampak masih mengkerut seakan merasa aneh dengan sikap Ayunda.
"Neng, gimana ini? Jadi pergi ga?" tanya tukang ojek.
"Aduh, Pak, bentar dulu. Orangnya belum keluar, Bapak sabar yah. Nanti saya bayar dua kali lipat," jawab Ayunda.
"Sebenarnya kita lagi nungguin siapa sih, Neng?" tanya tukang ojek.
"Aduh.. Pak, Bapak bisa ga, ga usah kepo sama urusan saya? Bapak cukup anterin saya aja,” Ayunda nampak kesal seraya terus menenggok ke belakang.
"Ya ampuun neng. Saya dari tadi nungguin neng di sini. Sekarang masih harus nunggu juga," keluh tukang ojek itu.
“Ya sabar, Pak. Kayaknya bentar lagi juga keluar orangnya,” balas Ayunda.
"Nah, Pak, udah ada tuh. Ayo Pak, kita ikutin mobil putih itu," ajak Ayunda seraya menunjuk pada mobil Rendra.
Ayunda siap-siap dengan memakai topi lalu dibalut dengan penutup kepala jaket serta memakai juga kacamata hitamnya. Ayunda mengikuti Rendra dengan menaiki sepeda motor tukang ojek.
Mobil Rendra lalu berhenti pada sebuah cafe yang cukup besar.
"Pak, Pak, Pak, udah sampe sini aja," Ayunda menepuk pundak tukang ojek dan menyuruhnya berhenti dengan jarak yang tidak begitu jauh dari mobil Rendra.
"Ini Pak, makasih ya, Pak," Ayunda memberikan uang kertas berwarna merah.
"Aduh Neng. Uangnya gede banget, ga ada kembaliannya," ujar tukang ojek.
"Udah, itu buat Bapak semua," balas Ayunda.
"Hah? Ini buat saya semua Neng? Beneran, Neng?” tanya tukang ojek seakan tak percaya.
“Iya, Pak, itu buat Bapak,” jawab Ayunda seraya memperhatikan Rendra yang berjalan masuk ke dalam cafe.