Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #5

Tabir kehidupan

Pagi menjelang, langit mulai berangsur pucat dari kelam malam. Ayunda keluar dari kamarnya, ia berjalan menuruni tangga dan menghampiri kedua orang tua serta adiknya di meja makan.

"Yun. Sarapan dulu, yuk," ajak Maya.

Ayunda pun duduk di meja makan.

"Ini Mas, tehnya," ucap Maya meletakkan teh untuk Rendra.

"Siapa yang mau minum teh? Emangnya aku nyuruh kamu bikin teh?" seru Rendra.

"Tapi, biasanya kan kamu minum teh Mas, kalo pagi-pagi," balas Maya.

"Aku lagi ga mau minum teh. Aku mau minum susu," ujar Rendra.

"Yaudah, aku tuangin susunya dulu yah," ucap Maya.

Maya menuangkan susu instan yang memang sudah tersedia. Sementara Ayunda hanya diam seraya lagi-lagi hanya memperhatikan sikap Rendra pada Maya.

"Aku semakin ga ngerti sama Ibu. Kenapa Ibu masih aja baik sama Ayah? Seolah-olah ga tau apa-apa, dan ga terjadi apa-apa. Padahal Ibu juga tau, kalo Ayah ada main sama perempuan itu. Tapi, Ibu masih aja patuh dan nurutin semua perintah Ayah," batin Ayunda yang seolah meronta.

"Jadi kamu kesiangan lagi? Ini udah jam berapa, kalau macet kamu bisa telat ke sekolah. Lagian kamu ini kenapa lagi sih, Yun? Gara-gara berantem di sekolah?" cecar Rendra secara tiba-tiba. 

Dahi Ayunda langsung mengkerut.

"Berantem? Siapa yang berantem?" sahut Ayunda.

"Bukannya kamu katanya abis berantem di sekolah? Sama temen laki-laki kamu,” lanjut Rendra lalu menyantap rotinya.

"Kata, siapa?" tanya Ayunda dengan dahinya yang masih mengkerut.

Ayunda nampak semakin bingung. Sementara Maya terlihat cemas. Ia diam seraya sedikit menunduk seolah menyembunyikan wajahnya. 

"Kata Ibu, semalam Ibu bilang katanya kamu habis berantem sama teman kamu di sekolah. Terus Ibu coba buat nasihatin kamu, tapi kamu malah ga mau dengar," jelas Rendra dengan santai.

"Semalam?" serunya. Ayunda pun mencoba mengingat.

Mata Ayunda sontak langsung tertuju pada Maya. Namun Maya tetap diam, memilih fokus dengan sarapannya dan pandangannya masih mengarah ke bawah seolah tak ingin ikut campur. 

"Kenapa Ibu bilang kalo aku berantem? Jelas-jelas semalem itu aku ribut sama Ibu gara-gara Ayah yang ketauan makan siang sama perempuan lain. Kenapa Ibu malah bohong dan nyalahin aku?" Ayunda bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.

Ayunda terdiam. Napasnya seolah tiba-tiba tersenggal, ia mencoba menahan rasa kesal dan emosinya. Beberapa kali Ayunda menghela napasnya pelan, sorot matanya pun kini berubah nanar, seolah ingin meluapkan emosinya namun tertahan. 

"Kamu tuh seharusnya sekolah yang rajin, yang benar. Jangan malah berantem, apalagi sama laki-laki. Yun, kalo laki-laki udah main tangan, bisa-bisa nanti kamu yang babak belur," ujar Rendra.

"Aku mau berangkat duluan," seru Ayunda dan langsung berdiri hingga kursi yang ia duduki bergeser ke belakang dan menimbulkan suara hentakan.

Sontak Rendra, Maya serta Mela langsung menatap padanya.

"Kamu ini, kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba mau berangkat? Oh, kamu ga suka kalau Ayah nasihatin kamu?" sahut Rendra.

Ayunda menoleh dan menatap pada Maya lagi. Sementara Maya nampak langsung membuangkan pandangannya seraya menghela napasnya.

"Aku ada kegiatan osis. Takut macet,” jawab Ayunda dengan dingin.

"Tapi Yun, kamu kan belum sarapan," timpal Maya.

"Aku sarapan di sekolah aja," ucapnya seraya menahan kesal.

"Aku berangkat," sambungnya seraya meraih tasnya lalu gegas pergi.

Rendra mengeryitkan dahinya. Ia nampak bingung melihat sikap Ayunda yang tak biasa itu.

Lihat selengkapnya