Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #7

Permintaan sang Ibu

"Om siapa, yah?" tanya salah satu teman Ayunda.

"Saya Ayahnya, Ayunda," jawab Rendra.

"Ooh. Jadi lo lagi lunch sama bokap lo, Yun? Yaudah deh, sorry yah ganggu, kita ga tau. Maaf yah Om, duluan yah, Yun. Permisi Om, Tante. Bye, Yun," ujar kedua gadis remaja itu. Mereka pun pergi.

"Yunda kamu ngapain, di sini?" tanya Rendra.

Ayunda nampak diam dan tak berkutik.

"Yunda jawab? Apa kamu ngikutin, Ayah?" tanyanya lagi.

Ayunda langsung berdiri dan menatap nanar pada Ayahnya.

"Seharusnya aku yang nanya sama Ayah. Ayah ngapain di sini? Ayah makan berdua sama perempuan lain. Apa Ayah benar-benar ga mikirin perasaan Ibu?" balas Ayunda yang kini menatap nanar pada Rendra.

"Yunda, ini Tante Widya, dia ini rekan bisnis Ayah dan kita lagi bahas pekerjaan di sini," tutur Rendra.

Kini Ayunda menatap Rendra dengan mata yang memincing heran.

"Ayah pikir aku bodoh? Aku ini udah besar Yah, aku ga bisa terus-terusan dibohongin sama Ayah," sungut Ayunda.

"Yunda, sebaiknya kamu pulang sekarang!" perintah Rendra.

"Kenapa? Apa Ayah malu? Karena Ayah kepergok jalan berdua sama perempuan ini?" seru Ayunda.

"Yunda! Jaga sikap kamu," tegas Rendra.

"Ayah nyuruh aku jaga sikap? Tapi Ayah sendiri ga pernah mau jaga sikap Ayah sama Ibu," balas Ayunda.

"Yunda...!" pekik Rendra.

Ayunda nampak menghela napasnya yang seakan berat seraya masih menatap nanar pada ayahnya.

Pengunjung yang berada di kafe pun sontak menoleh ke arah Ayunda dan Rendra.

"Kamu pulang sekarang! Jangan bikin malu di sini," perintah Rendra dengan berbisik.

Ayunda pun langsung lari meninggalkan kafe dengan membawa perasaan sedih dan kecewanya.

"Mas, sebaiknya kamu juga pulang. Kamu jelasin sama Anak kamu. Aku ga mau gara-gara ini, masalah kamu malah tambah berat," saran Widya.

"Kamu tenang aja, Wid. Urusan Ayunda itu urusan aku, kamu ga perlu khawatir," ucap Rendra.

***

Sesampainya di rumah, Ayunda langsung masuk dan berjalan cepat menuju kamarnya.

"Yun," panggil Maya.

Langkah Ayunda pun terhenti. Maya segera menghampiri.

"Kamu baru pulang? Loh, kamu kenapa? Kamu nangis? Ada apa, Yun?" tanya Maya.

Ayunda menatap Maya dengan tatapan kesedihan. Dirinya seolah tak sanggup menahan isak tangisnya. Ayunda lalu berlari naik ke atas menuju kamarnya, tanpa merespons Maya sepatah katapun. 

"Yun...!" panggil Maya.

Ayunda langsung mengunci pintu kamarnya.

Tok, tok, tok.

"Yun, kamu kenapa?" tanya Maya dibalik pintu.

Lihat selengkapnya