Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #8

Strategi Ayunda

Malam kian larut, menyelimuti bumi dengan keheningan yang pekat. Ayunda masih diam dengan segala perasaannya, ia duduk di meja belajarnya, tangannya bergerak perlahan mengambil sebuah buku kecil di laci belajarnya. Ayunda pun mengambil pena lalu ia tulis semua perasaan yang ia rasakan pada buku hariannya.

Dear diary.

Aku semakin bingung dengan sikap Ibu. Aku ga tau harus berbuat apa, keluarga yang aku inginkan semakin tidak sejalan dan tidak sesuai harapanku.

Hampir setiap hari aku selalu melihat sikap Ayah yang tak menghargai Ibu, namun Ibu tetap saja membelanya. Bahkan Ibu melarangku untuk ikut campur, Ibu juga selalu menyuruhku untuk tetap hormat pada Ayah. Bagaimana mungkin aku bisa menghormati Ayah, yang bisanya hanya menyakiti istrinya dan juga sudah mengkhianati keluaganya. Ibu memintaku seolah aku harus tutup mata atas semua sikap dan perilaku Ayah. Sebenernya apa yang ada dipikiran Ibu.

Selalu menuruti semua perintah Ayah, meskipun Ayah tak pernah menghargainya. Bahkan Ayah selalu seenaknya menyuruh Ibu dan memperlakukan Ibu seperti seorang pembantu, tapi Ibu tidak pernah membantah apalagi protes. Ibu juga tidak pernah mengeluh jika setiap hari harus membersihkan rumah dan juga mengurusi keluarganya, meskipun aku tau Ibu juga lelah mengerjakan semua itu. Bahkan Ayah tidak pernah memberikan dukungan, atau pun hanya sekedar pujian pada Ibu. Ibu selalu bilang, kehidupan pernikahan tidak selalu tentang perasaan, ada hal-hal yang lebih penting dari itu.

Apakah menjadi seorang istri harus sesakit itu? Menerima apapun sikap yang ditunjukkan suami? Apakah kehidupan pernikahan harus selelah ini? Apakah hanya seorang istri saja yang harus berkorban demi keluarganya? Meskipun itu mengorbankan hati dan perasaannya? Aku menyanyangi Ibu, aku juga mencintai keluarga ini, tapi sikap Ayah selalu mematahkan hati dan perasaanku.

Ayunda menulis dengan air mata berlinang, lalu mengalir jatuh dan membasahi buku hariannya. Ayunda lalu mengambil foto keluarganya. Ia menatap sendu bingkai foto itu, lalu melepaskan dan mengeluarkan foto itu dari bingkainya.

Ayunda meletakan foto itu di dalam buku hariannya, persis pada lembar tulisan yang baru saja ia curahkan. Ayunda lalu membuang bingkainya ke tong sampah. Ia lalu menutup buku hariannya.

Isak tangis Ayunda pun pecah, ia menangis sendu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

***

Pagi menjelang, suasana terasa begitu hidup. Suara langkah kaki para siswa terdengar riuh memasuki gerbang, disambut senyum hangat para guru yang berjaga, udara pagi pun masih terasa segar. Ayunda berjalan masuk ke dalam kelasnya, tatapannya nampak kosong, ia lalu duduk di bangkunya.

“Yun…!” panggil Riri yang baru saja masuk kelas.

Riri pun menghampiri dan duduk di sampingnya.

“Lo udah dateng? Gimana, lo udah enakan?" tanya Riri yang terlihat perduli. 

"Udah enakan? Maksudnya?" balas Ayunda mengeryit.

"Katanya kemarin lo ga enak badan?" sahut Riri.

"Oh, itu. Gue udah sehat kok sekarang," jawabnya.

"Syukur deh, kalau gitu," ujar Riri.

“Lo juga tumben udah dateng jam segini?” balas Ayunda.

“Iya, soalnya kan mau ada rapat osis, buat nanti pensi, tapi paling cuma sebentar,” jelas Riri.

Lihat selengkapnya