Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #9

Ketegangan di Kantor

Mobil hitam mewah berhenti perlahan di depan gedung kantor. Pintu mobil terbuka, Widya melangkah turun dengan anggun. Tumit sepatunya menyentuh aspal, menimbulkan bunyi kecil yang cukup nyaring, dengan langkahnya yang anggun, ia lalu masuk ke dalam kantor itu. 

“Permisi Mbak, saya mau bertemu dengan Pak Rendra,” ujar Widya pada resepsionis.

“Maaf Bu, apa Ibu sudah buat janji?” tanya resepsionis itu.

“Sudah, Mbak boleh mengecek atau menghubungi Pak Rendra langsung," jawabnya.

“Maaf kalo boleh tau, dengan Ibu siapa?” tanyanya lagi.

“Widya," 

“Baik, ditunggu sebentar yah, Bu,"

“Halo,” ucap Rendra saat menerima telepon. Rendra masih fokus ke layar laptop yang ada di depannya.

“Maaf Pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak,”

“Tamu? Tamu siapa?” balas Rendra dan langsung memalingkan wajahnya seraya berpikir.

“Namanya Bu Widya Pak dan beliau bilang sudah buat janji dengan Bapak,”

Dahi Rendra langsung berkerut, ia terdiam dan seperti tengah berpikir.

“Oke. Suruh dia tunggu, saya ke sana sekarang,” perintah Rendra lalu menutup sambungannya. 

“Widya? Mau ngapain dia datang ke sini?” Rendra bertanya sendiri sebelum akhirnya ia beranjak dan keluar dari ruangan untuk menemui Widya.

Rendra mempercepat langkahnya seakan ingin segera bertemu Widya.

“Wid,” panggil Rendra.

Widya yang tengah berdiri memadangi suasana jalan di balik jendela kantor langsung menoleh dan membalikkan badannya.

“Mas,” ucap Widya dengan tersenyum manis.

“Mas, maaf yah kalau aku ganggu," ucapnya lagi.

"Oh engga, ga ganggu kok. Kamu ada apa datang ke sini, Wid?" tanya Rendra.

Widya terdiam sejenak seraya menghela napasnya. 

"Aku mau minta maaf Mas, soal kemarin. Jujur, semalaman itu aku kepikiran banget, aku mau bantuin kamu buat ngejelasin semuanya,” jawab Widya. 

Rendra pun nampak ikut menghela napas. 

"Kita bicara di ruang aku aja, yah," ajak Rendra.

Widya mengangguk. 

Keduanya lalu masuk ke ruangan kerja Rendra.

"Silahkan, duduk," ucap Rendra seraya mengulurkan tangannya pada sofa di ruangannya. Dengan langkah anggun Widya berjalan pelan lalu duduk di sofa itu. Widya nampak mengendus pelan.

"Mas, aku.. mau bantuin kamu, buat ngejelasin ke anak kamu, kalau.. apa yang diliatnya itu ga seperti apa yang dia pikir. Aku juga takut, karena masalah ini Maya jadi, lebih salah paham sama kita," jelas Widya sedikit terbata.

Rendra masih berdiri sambil menatap Widya. Ia juga nampak membuang napasnya kasar seraya memalingkan wajahnya dan terlihat resah.

“Wid, aku kan sudah bilang sama kamu, jangan mikirin apapun. Soal keluargaku, itu biar jadi urusan aku, biar aku yang mengurusnya,” ucap Rendra lalu perlahan berjalan menghadap ke jendela.

“Tapi Mas, kalau aku bantu ngejelasin, semuanya pasti akan lebih baik. Aku juga ga akan terus-terusan merasa bersalah,” balas Widya lagi.

Rendra langsung membalikkan badannya ke arah Widya yang masih duduk di sofa.

“Wid, semuanya sudah baik. Justru, kalau kamu ikut ngejelasin, yang ada malah tambah kacau,” tutur Rendra.

“Loh, memangnya kenapa, Mas?" tanya Widya dan langsung berdiri.

"Bukannya bagus kalo aku bisa bantu ngejelasin? Kamu jangan bohong Mas sama aku. Kemarin itu aku liat sendiri, kalau anak kamu benar-benar kecewa sama kamu dan ga mungkin sesingkat itu masalahnya selesai," balas Widya.

Lihat selengkapnya