“Yun, lo kok diem aja sih, dari tadi?” tanya Riri.
“Gue ga apa-apa,” jawab Ayunda dengan dingin.
“Lo lagi ada masalah, yah? Masalah lo berat ya, Yun?" lanjut Riri dan terlihat merasa iba.
Ayunda hanya diam dan nampak tak tergeming, pandangannya menatap nanar ke depan. Jari-jemarinya terlihat saling menggenggam di atas meja, Ayunda seolah menghiraukan sahabatnya itu.
“Yaudah kalo gitu, kita ke kantin aja yuk,” ajak Riri dengan nada bicaranya yang terkesan menghibur.
"Gue ga mau, lo aja sana. Gue males, gue mau di sini,” balas Ayunda ketus.
Dahi Riri sontak mengkerut melihat sikap Ayunda yang tak biasa itu.
“Lo... emangnya ga laper?" lanjut Riri lagi.
“Engga,” jawabnya singkat.
Dahi Riri masih mengkerut, ia juga menghela napas dan nampak kebingungan dengan sikap Ayunda.
“Bukannya lo bilang, kalau lo belum sarapan, yah? Ini udah siang loh Yun, nanti sakit maag lo kambuh lagi kalau lo ga mau makan,” bujuk Riri dan terlihat perduli.
“Gue udah bilang gue ga mau, gue ga mau makan. Kalau lo mau pergi ke kantin, ya lo pergi aja sendiri,” seru Ayunda dengan nada ketusnya lagi.
Riri nampak terkejut melihat Ayunda, yang untuk pertama kalinya marah padanya. Siswa yang ada di kelas pun sontak menoleh ke arah Ayunda dan Riri. Mereka merasa heran dengan sikap Ayunda yang tiba-tiba menaikan nada suaranya.
“Yun, lo kenapa, sih? Gue kan cuma ngajak lo makan aja, gue cuma khawatir lo sakit,” tanya Riri.
“Lo ga perlu khawatirin gue. Gue bisa jaga diri gue sendiri,” seru Ayunda lagi dengan tegas seraya berdiri.
“Yun, lo kenapa, sih? Lo kalo ada masalah, lo boleh cerita sama gue,” bujuk Riri yang masih berusaha mendekati Ayunda, ia pun ikut berdiri.