Malam menjelang.
Ayunda membuka matanya secara perlahan. Dengan mata yang masih sayu dan kondisinya yang masih lemah membuat Ayunda hanya bisa memandang buram langit-langit atap kamarnya.
“Yun, kamu sudah bangun?” tanya Maya.
Ayunda pun menoleh ke wajah perempuan yang telah melahirkannya itu.
“Ibu,” lirihnya.
“Udah, kamu istirahat aja, yah. Ibu udah bikinin kamu bubur sama sop, nanti kamu makan, yah,” pinta Maya.
“Yun, kamu sudah bangun?” tanya Rendra mendekat.
Ayunda pun menoleh, tatapannya nampak kosong pada Rendra.
“Mas, kayaknya kondisi Ayunda masih lemah,” timpal Maya.
“Apa ga sebaiknya, kita bawa ke dokter aja?" saran Rendra.
Maya diam sejenak seraya menatap Ayunda.
"Apa kita tunggu dulu sampe besok aja Mas, kalau besok kondisi Ayunda masih sama, baru kita bawa dan periksa ke dokter,” balas Maya.
Rendra menghela napas seraya melihat kondisi Ayunda.
“Kamu ga apa-apa, Yun? Apa kamu mau ke rumah sakit sekarang? Biar kamu enakan dan cepat sembuh," tanya Maya.
Ayunda menggeleng dengan lemas.
"Sebaiknya kita panggilkan dokter saja. Dokter yang biasa menanggani Mela, biar Ayah telpon yah," ucap Rendra.
"Ga usah. Aku ga apa-apa," balas Ayunda dengan lemah. Meski dalam keadaan lemah Ayunda masih bisa menunjukkan sikap ketusnya pada Rendra. Sementara Rendra nampak menghela napasnya lagi dan raut wajahnya seolah mengerti dengan sikap Ayunda padanya.
"Tapi Yun, kamu harus tetap diperiksa, biar kamu juga cepat sembuh," timpal Maya.
"Aku ga apa-apa, Bu," ucap Ayunda.
“Kenapa ayah keliatan peduli banget sama aku?” batin Ayunda.
Ayunda lalu berusaha untuk bangun.
“Eh, Yun. Kamu kok bangun? Kamu mau ngapain?” tanya Maya.
“Aku haus Bu,” lirihnya.
“Oh, ini. Kamu minum dulu, yah,” Maya memberikan segelas air putih lalu meminumkannya pada Ayunda.
“Gimana? Udah enakan?” tanya Maya.
Ayunda hanya menggangguk pelan.
“Kamu makan dulu, yah. Biar Ibu ambilkan buburnya,” saran Maya.
Ayunda menggangguk lagi.