Pagi menjelang membawa cahaya lembut yang menyusup lewat sela jendela. Ayunda bangun dari tidurnya, ia lalu merenggangkan tubuhnya, nampaknya kondisi Ayunda sudah membaik. Lalu tak sengaja Ayunda mendengar suara samar di balik jendela kamarnya, membuat dahinya berkerut. Ayunda pun beranjak untuk melihat.
Saat Ayunda membuka tirai jendelanya, ia melihat Rendra tengah asyik menelpon seseorang. Lagi-lagi Ayunda mendapati ayahnya tengah mengobrol lewat telepon yang membuat matanya tiba-tiba menanar.
“Ayah lagi nelpon sama siapa? Jangan-jangan Tante Widya?” batinnya.
Tok, tok, tok.
“Yun..!" panggil Maya mengetuk pintu kamar. Ayunda lalu gegas membuka.
“Iya, Bu?” tanyanya setelah membuka pintu.
“Loh, kok dikunci Yun? Gimana kondisi kamu? Udah mendingan?” tanya Maya.
“Udah Bu, aku udah lebih baik. Badan aku juga udah ga sakit, lemesnya juga udah lumayan ilang,” jawab Ayunda.
“Syukurlah kalo gitu, Ibu senang dengarnya. Itu, Ibu udah masakin bubur buat kamu sarapan, kamu mau makan di kamar atau di meja makan? Nanti biar Ibu siapin buburnya," tanya Maya lagi.
“Aku nanti aja deh makannya Bu, aku juga belum laper,” balas Ayunda.
"Kamu ga nafsu makan? Apa masih sakit? Tapi ga demam," ujar Maya setelah menyentuh dahi Ayunda.
"Engga Bu, aku udah baikan. Cuma emang belum laper aja," balasnya.
“Yun, kamu itu kan baru aja sembuh, jadi harus banyak makan biar ada tenaga juga. Yaudah, Ibu ambilin aja yah buburnya, biar kamu bisa makan di kamar,” bujuk Maya.
Maya nampak perhatian dan sangat peduli dengan kesehatan Ayunda.
“Ga usah Bu, nanti aku pasti makan, aku janji. Ibu ga usah bawa buburnya ke kamar, nanti biar aku ambil sendiri aja di dapur,” ucap Ayunda.
“Bener, yah. Awas yah Yun, kalau kamu sampe ga makan,” tuntut Maya.
“Iya, Bu. Aku juga kan pengen cepat-cepat sembuh,” balasnya.
“Yaudah kalo gitu, Ibu mau siapin makanan dulu buat Mela," ujar Maya.
Ayunda lalu menutup kembali pintu kamarnya.
“Aku yakin ayah tadi pasti abis telponan sama Tante Widya,” gumam Ayunda menerka.
Ayunda lalu mengambil ponselnya.