Ana, Maya dan kedua putrinya duduk bersama pada satu meja di restaurant itu.
“Aku ga nyangka loh May, kita bisa ketemu di sini. Oh iya, aku juga pernah liat Rendra, sekitar 2 bulan yang lalu. Waktu itu kebetulan aku lagi pulang ke Indo, terus aku liat dia di kafe sama perempuan, kayaknya abis meeting,” ujar Ana seraya mengingat.
“Sama perempuan, Tan?" sahut Ayunda.
"Iya," jawab Ana.
Maya sontak menoleh pada Ayunda namun setelah itu langsung menunduk lalu menghela napasnya.
"Maksudnya, Tante liat Ayah di kafe sama perempuan, lagi makan?” sambung Ayunda.
“Iya. Kayaknya itu client ayah kamu deh. Tadinya mau Tante samperin, tapi ga enak, ayah kamu kan lagi meeting. Kebetulan, waktu itu Tante juga lagi janjian sama orang, karena ada urusan. Terus karena orangnya udah dateng, Tante ga jadi nyamperin ayah kamu. Pas Tante selesai sama urusan Tante, Tante liat ayah kamu udah pergi, jadi Tante ga ketemu deh," jelas Ana.
“Tante yakin, itu clientnya ayah?” sahut Ayunda lagi.
“Yun…,” pekik Maya mencoba menangkas pertanyaan Ayunda.
“I-iya,” jawab Ana dengan bingung dan gugup, Ana memperhatikan wajah Maya dan Ayunda yang nampak menegang.
“Emangnya, kenapa? Kok, kamu nanyanya gitu?” tanya Ana yang mulai penasaran.
“Ga apa-apa, An. Biasalah, Ayunda emang suka overthinking anaknya,” timpal Maya.
“Overthinking? Overthinking, kenapa? Memangnya apa yang kamu pikirin? Kamu pikir ayah kamu selingkuh, gitu?” cecar Ana dan langsung tersenyum, ia juga nampak sedikit menggelengkan kepalanya.
Membuat dahi Ayunda mengkerut karena bingung.
“Memangnya kalo meeting itu harus di kafe yah, Tante? Sambil makan gitu?” tanya Ayunda.
Maya langsung menghela napasnya. Pandangannya nampak berlari sembarang arah.
“Ya memang biasanya seperti itu, tapi tergantung clientnya juga. Yang jelas, kamu ga perlu khawatir, ayah kamu itu ga mungkin macam-macam, apalagi selingkuh. Tante kenal betul gimana ayah kamu,” jelas Ana lagi dengan lembut.
“Kenapa Tante bisa seyakin itu? Emangnya Tante kenal baik sama Ayah?” lanjut Ayunda.
“Yunda, cukup!" timpal Maya.
Ana seperti tersentak, ia semakin bingung melihat sikap Maya.
“Sebaiknya, sekarang kita pulang,” ujar Maya seraya berdiri.
“Ada apa, ini? Kenapa Maya bersikap kayak ini?" batin Ana.
"Permisi, ini pesanannya. Silakan,” seorang pelayan membawa dan meletakkan makanan di meja.
“Ibu, aku laper,” ujar Mela.
“May, sebaiknya kita makan dulu. Kasihan anak kamu, dia udah laper,” saran Ana.
“Kita makannya di rumah aja, yah. Ayo Mela. Maaf ya, An,” ucap Maya.
“Tapi aku pengen makan di sini Bu, aku udah laper,” ujar Mela lagi. Gadis kecil itu seolah tak ingin beranjak dari tempat duduknya.
“May, udahlah. Kita makan dulu sebentar, kasihan kalo mereka sampe nahan lapar. Nanti malah masuk angin,” bujuk Ana.
Maya menghela napasnya dan dengan terpaksa duduk kembali.
“Yaudah, kita makan,” ucap Maya.
“Ini sayang, kamu makan yang banyak yah. Biar sehat,” ucap Ana memberikan steak daging untuk Mela.
“Iya, Tante. Makasih," balas Mela.
“Tante, apa yang membuat Tante yakin kalo ayah itu…,"