Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #18

Ana di kantor Rendra

"Yunda...!" panggil Maya.

Sontak Ayunda pun berhenti melangkah, ia terdiam, berdiri seraya menghela napasnya. 

"Kamu baru pulang, Yun?" tanya Maya menghampiri.

"Iya, Bu," jawabnya.

"Kamu, kenapa? Kamu sakit lagi? Muka kamu kok, keliatan pucat?" tanya Maya lagi. Ia nampak terlihat panik.

Ayunda terdiam lagi untuk sesaat seraya menghela napasnya lagi. 

"Engga kok, Bu. lni.. ini kayaknya cuma kecapean aja, soalnya di luar juga masih panas," jawabnya dengan tersenyum. Dari sorot matanya, Ayunda nampak mencoba menyembunyikan perasaannya.

"Ibu bilang apa. Lagian ngapain sih di Mall pake ngajakin teman kamu ngobrol segala. Nanti kalau kamu sakit lagi, gimana?" tanya Maya lagi.

"Engga Bu, ini palingan cuma butuh istirahat aja. Istirahat sebentar juga nanti pasti segar lagi," balas Ayunda.

"Yaudah, sekarang kamu masuk kamar gih, terus istirahat," perintah Maya.

"Iya, Bu," balasnya.

Maya menghela napasnya seraya menatap punggung Ayunda yang tengah naik tangga menuju kamarnya.

"Ana? Ana sekarang lagi di jakarta? Apa Ana akan curiga, soal Mas Rendra dan Widya? Karena tadi, Ayunda sempat membahasnya," batin Maya.

***

Lampu-lampu kota mulai redup, jalanan perlahan sepi, dan langit gelap menggantung sunyi di atas kota.

Ayunda tengah duduk termenung di kasurnya. Matanya nampak kosong, dan napasnya terlihat berat, seperti ada sesak yang tengah ditahan.

Namun, di sisi lain, Ana pun seperti tengah memikirkan sesuatu. Di dalam apartementnya, ia melihat postingan Rendra pada sosial media yang menunjukkan keharmonisan keluarganya, seolah terlihat amat sangat bahagia. Ana lalu, berdiri, melangkah mendekati jendela, ia menghela napasnya seraya menatap pemandangan jalan di balik jendela dengan tatapan sedikit sendu. 


***

Pagi pun menjelang. Cahaya matahari seolah jatuh dengan lembut, angin tipis yang bergerak nampak menyentuh tirai jendela.

Rendra nampak fokus pada layar laptopnya. Namun tiba-tiba telepon di mejanya berdering, tanpa menunggu lama Rendra langsung menyambarnya.

“Halo!” ucapnya dengan mata yang masih menatap layar laptop di depannya.

“Halo, Pak. Maaf Pak, ada tamu yang mencari Bapak,” ucap perempuan dalam telepon.

“Tamu? Tamu, siapa?” tanya Rendra mengernyit.

“Namanya Bu Ana, Pak. Katanya beliau teman baik Bapak dan ingin bertemu dengan Bapak,” jawab sekretaris Rendra itu.

“Ana?” batin Rendra seraya berpikir.

“Saya ke sana sekarang, suruh dia tunggu!” perintah Rendra.

Lihat selengkapnya