Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #21

Kenangan di tepi pantai

Hamparan pasir putih membentang sejauh mata memandang, pecah menjadi buih yang berlari ke tepi. Angin pantai yang berhembus membawa aroma asin dan kesegaran khasnya, membuat dada terasa lapang. Di tepi pantai, jejak kaki dan cangkang kerang nampak berserakan seolah menjadi saksi bisu lalu lalang pengunjung dan permainan alam. 

Ayunda nampak menatap dan memperhatikan Maya, tatapannya sayu dan sendu. Sementara Maya hanya berdiam diri seraya menatap ke hamparan laut dengan gemercik ombak yang datang silih berganti. 

"Bu, lihat! Mela bisa bikin istana di pasir," seru gadis kecil itu, ia tengah sibuk bermain dengan pasirnya.

Maya langsung menoleh, ia tersenyum kecil setelah sejenak ia menikmati suasana pantai dengan riuhnya ombak dan hembusan angin yang terasa tenang dan seolah memeluk jiwa. 

Maya pun menghampiri lalu berjongkok mendekati gadis kecilnya yang tengah sibuk bermain pasir dengan Rendra. Ayunda pun menyusul.

"Liat, Bu. Bagus, kan?" tanya gadis kecil itu.

Maya tersenyum haru. Ia lalu menyentuh rambut Mela.

"Iya, sayang. Ini bagus banget," pujinya.

Mendengar pujian dari sang ibu, ia nampak tersenyum bangga, gadis kecil itu pun semakin bersemangat. Tangan-tangan kecilnya meraup pasir, menepuk-nepuknya hingga membentuk gundukan kecil, dengan di bantu oleh ayahnya, kerang-kerang kecil yang dikumpulkan seolah dijadikan mahkota di puncak menara. Rendra dengan semangat dan fokus menata istana itu, gadis kecilnya nampak menepiskan butiran pasir yang menempel di telapak tangannya, lalu tersenyum puas melihat istana pasirnya perlahan menjulang. Ombak yang tiba-tiba datang seolah memberikan salam pada istana mungil itu, membuat gadis kecil buru-buru melindungi karyanya dengan tangan mungilnya. Lalu membuatnya kembali, menepuk-nepuk dinding istananya agar tidak roboh. Di matanya, istana pasir sederhana itu seolah bukanlah sekedar tumpukan pasir, melainkan kerajaan megah dengan menara menjulang ke atas, membuat imajinasinya berlari bebas. Laut yang berkilau dengan diterpa matahari sore seakan menjadi latar sempurna bagi karyanya. Ombak yang datang perlahan itu hanya menyisakan garis basah di sekeliling kakinya, anak itu sesekali tersenyum kecil, lalu memadang karyanya dengan wajah yang bangga. Angin pantai yang berhembus meniup rambutnya, membuat suasana semakin hidup seolah istana itu benar-benar bernyawa.

"Gimana? Mela suka, kan?" tanya Rendra.

Gadis kecil langsung mengangguk seraya tersenyum manis. Maya dan Ayunda pun ikut tersenyum, keluarga itu nampak bahagia dengan istana yang tengah dibangunnya. 

"Iya, yah. Istananya bagus, iya kan Bu? Kak?" sahut anak itu.

"Iya, sayang. Istananya bagus banget," jawab Maya seraya mengelus lembut lagi rambut Mela. Sementara Ayunda nampak tersenyum kecil.

Ayunda lalu menatap pada laut yang nampak di depannya, ombak yang datang seolah memanggilnya. Ayunda beranjak berdiri lalu berjalan ke tepi pantai. Ia menatap pantai yang membentang luas, pandangannya jauh, seolah mencari sesuatu dibalik birunya laut. Ada tenang yang menenangkan, namun juga getir yang tak terucapkan. 

Rendra menoleh pada Ayunda, ia nampak mengendus dengan pelan.

Lihat selengkapnya