Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #22

Malam sunyi di resort pantai

Di kamar hotel yang hening, Ayunda nampak duduk di tepi ranjang. Ia termenung tanpa kata, tidak ada suara selain detik jam dan hembusan napas pelan yang sesekali terdengar memenuhi ruangan. Mela nampak tertidur pulas, sementara Ayunda masih terdiam dengan tatapan kosong yang mengarah ke luar jendela. Tirai yang bergoyang pelan oleh hembusan pendingin ruangan menambah rasa dingin yang kian menusuk. Pikirannya seolah berputar dan berkelana, entah antara lelah dalam perjalanan atau karena suasana yang baru dan kaku. 

Tok, tok, tok.

"Yun...!" panggil Maya di balik pintu. Suaranya nampak lembut, namun sangat terdengar jelas. 

Ayunda pun sontak menoleh. Ia sedikit tersentak, pandangannya kembali fokus dan napasnya seolah tertahan sejenak. Lamunannya seolah buyar seketika, digantikan dengan rasa heran dan gugup pada suara yang memanggilnya. 

Ayunda menghela napasnya dan gegas beranjak membuka pintu. 

"Iya, Bu?" tanyanya.

"Yun, kamu belum tidur? Mela gimana? Dia udah tidur?" cecar Maya seraya sedikit menenggok ke dalam kamar hotel Ayunda.

"Udah Bu, Mela udah tidur," jawabnya seraya menoleh dan menatap pada adik bungsunya. Gadis kecil itu nampak tertidur pulas, tangan kecilnya bergerak lalu kembali terkulai lemas dalam tidurnya. 

"Kayaknya Mela capek banget, Bu," ucap Ayunda. 

Maya tersenyum tipis, ia memandangi dan menatap gadis kecilnya itu, sudut bibirnya nampak sedikit naik. Dalam tatapannya ada rasa haru, syukur, sekaligus keinginan kuat untuk selalu melindungi putri bungsunya. 

"Kamu juga istirahat, yah. Kamu juga pasti capek, kan?" tanya Maya. 

"Iya, Bu," jawabnya.

“Yaudah. Ibu balik ke kamar yah,” ucap Maya. 

"Uumm, Bu," ucap Ayunda saat Maya hendak menutup pintu kamarnya. 

"Iya. Kenapa, Yun?" tanyanya.

Lihat selengkapnya