Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #23

Lembaran baru

Mentari telah bersinar cerah di langit. Kicauan burung terdengar merdu, menemani langkah-langkah yang penuh semangat. Pagi itu terasa menyenangkan, seolah membuka lembaran baru yang siap diisi dengan cerita. Ayunda nampak turun dari tangga, ia sudah rapi dengan seragam sekolah dan juga tas gendongnya. Langkahnya terhenti, ia berdiri, menghela napasnya pelan seraya menatap keluarganya yang tengah duduk di meja makan. 

"Yun, kamu udah siap? Ayo, sarapan dulu," ajak Maya.

Ayunda menarik lagi napasnya lagi namun kini cukup dalam. Ia lalu berjalan perlahan dan duduk untuk sarapan bersama. 

"Nih, sarapan buat kamu, udah Ibu siapin," ucap Maya seraya memberikan piring yang berisi roti pada putri sulungnya itu. 

"Makasih ya, Bu," ucap Ayunda. 

"Sama-sama. Yaudah, sarapannya cepat diabisin yah, mataharinya udah mau terang, nanti keburu macet," pesan Maya.

"Hari ini, biar Ayah aja yah yang nganterin kalian ke sekolah," ujar Rendra. Sontak semua orang yang di meja makan menoleh padanya, tak terkecuali Ayunda. Ia seketika membeku, matanya membulat dan tak berkedip, alisnya nampak terangkat dan bibirnya sedikit terbuka. Ada keterkejutan yang terpampang jelas di wajahnya.

"Yeee... hari ini dianterin Ayah ke sekolah...!" sahut riang Mela.

"Loh, Mas. Tapi ini udah jam berapa, nanti kalau di jalan macet gimana, kamu bisa telat Mas nyampe kantor?" tanya Maya.

"Ga apa-apa. Sekali-kali aku nganterin anak-anak sekolah," jawab Rendra. 

Ayunda menunduk sedikit. Ia memilih diam, matanya seolah kehilangan fokus, tubuhnya seakan terkunci. Alisnya masih berkerut pelan, namun bibirnya kini nampak rapat tanpa sepatah kata. Ayunda terlihat mengendus pelan melalui hidungnya dan seolah nampak pasrah, meski masih terlihat ada kebingungan yang berputar di dalam benaknya, seperti menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. 

***

Sinar matahari semakin memancarkan cahayanya, memantu indah di antara dedaunan, menciptakan suasana yang cerah dan menenangkan.

Mela, gadis kecil itu nampak semangat di dalam mobil, matanya berlari ke kanan dan kirinya seolah tengah menghafal jalan. Sementara Ayunda, ia hanya duduk diam, tatapannya mengarah ke depan jalan. Sesekali sorot matanya turun dan seolah ingin menoleh pada Rendra yang tengah fokus menyetir di sampingnya. Namun seakan ada keraguan dan kecanggungan, Ayunda memilih diam dalam keheningannya, ia menghela napasnya pelan dan memilih kembali menatap jalan. Dalam diamnya menyimpan riuh pertanyaan, namun semuanya seolah tertahan dan tak bisa diucapkan. 

Kondisi jalanan cukup ramai dan lampu merah seolah membuat jalan semakin macet. Rendra mengendus kasar pada hidungnya, ia lalu menoleh pada kedua putrinya yang sama-sama diam seraya menatap jalan. Namun begitu lampu jalan beralih hijau, Rendra gegas melaju kembali. 

Tak berapa lama, mobil Rendra pun berhenti pada sekolah dasar tempat putri bungsunya menimba ilmu. Rendra turun dan membantu Mela keluar dari mobil. 

"Sayang, yang semangat yah belajarnya," ucap Rendra lalu mencium kening gadis kecilnya itu. 

"Iya, Yah," ucap gadis kecil itu lalu mencium tangan Rendra.

"Mela masuk dulu ya, Yah," ucapnya.

"Daahh kakak...!" teriaknya pada Ayunda.

"Dadaahh. Yang semangat, yah," balas Ayunda. 

Rendra gegas masuk kembali ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah Ayunda.

"Oh iya, katanya kamu lagi sibuk yah, jadi panitia buat acara sekolah?" tanya Rendra seraya menoleh sebentar pada Ayunda.

"Iya. Aku jadi jadi salah satu panitia pensi di sekolah," jawab Ayunda. Matanya masih berfokus ke depan.

Lihat selengkapnya