Malam hari, di sebuah kamar mewah yang terasa begitu tenang, seorang lelaki berdiri di depan jendela besarnya. Tirai tipis dibiarkan terbuka, memperlihatkan gemerlap lampu kota yang berkilau bagai bintang. Lelaki itu menatap keluar dalam diam, kedua tangannya bersilang di dada bidangnya, sementara bayangan dirinya nampak memantul samar di jendela kaca.
Di belakangnya, nampak kamar luas dengan ranjang besar dan sprei putih bersih yang tampak rapi, dihiasi bantal empuk yang tertata sempurna. Cahaya lampu hangat terasa hening dan pikirannya seolah sibuk berkelana. Sorot mata pria itu seakan menyimpan sesuatu. Di tengah kesunyiannya, wajahnya nampak berubah sendu, napasnya terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menekan dadanya. Kini ia seolah tengah menatap jauh, namun bukan pada apa yang terlihat di hadapannya, melainkan pada kenangan yang tersimpan di dalam hati.
"Maya?" tanyanya menghampiri.
"Doni?" ucap Maya. Matanya nampak memincing menatap lelaki di depannya karena pandangannya yang tak lagi fokus.
"Maya kamu ngapain di sini?" tanya lelaki bernama Doni itu.
Maya dan Doni tengah berada di sebuah club malam. Cahaya lampu berwarna-warni berputar lincah, menari di antara asap tipis yang mengepul dari mesin kabut. Suara dentuman musik keras seolah menghentak ke setiap sudut ruangan, membawa lantai bergetar mengikuti irama. Orang-orang larut dalam suasana, tubuh mereka bergerak tanpa henti di tengah keramaian.
"May, Maya...!" teriak Doni di samping Maya yang tengah asyik meneguk minumannya.
"Hey, kamu siapa?" tanya seorang wanita menghampiri Doni dan Maya.
"Kamu, siapa?" balas Doni.
"Aku temannya Maya," jawab Wanita itu.
"May, May, May, udah. Kamu jangan minum lagi May, nanti kamu bisa mabuk," ujar Doni dan berusaha menggapai botol minuman di tangan Maya.
"Apa, sih. Kamu ngapain kesini? Ngapain kamu nyamperin aku, hah?" tanya Maya dengan mata yang setengah terbuka, kepala sedikit miring ke samping seakan berat untuk ditegakkan.
"May, ayo kita pulang. Kamu udah mabuk, May," ajak Doni.
"Apa? Mabuk? Aku mabuk? Kamu kali yang mabuk," balas Maya sambil tertawa kecil, suaranya mulai terdengar serak.
"Ayo May, kita pulang. Aku anterin kamu pulang," ajak Doni lagi dan berusaha membawa Maya.
"Eh, eh, eh, mau kemana?" tanya wanita itu dan berusaha mencegah.
"Kamu jangan ikut campur," sungut Doni.
"Ikut campur? Eh, Maya itu datang sama gue, elo yang harusnya jangan ikut campur. Ayo May, kita minum lagi," ajak wanita lalu menarik tangan Maya.
"May, May, May! Aku mohon kamu jangan minum lagi, May," bujuk Doni dan lagi-lagi berusaha mengambil botol bir di tangan Maya.