Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #27

Salah masuk toilet

Rendra masuk ke dalam ruangannya. Ruangan yang begitu nampak tenang, meja kerja yang sudah tertata rapi dengan tumpukan berkas serta laptop yang siap dinyalakan. Ia duduk di kursi besarnya, menarik napas sejenak dan merapikan duduknya. Rendra lalu mulai membuka laptop untuk di nyalakan, tatapannya mulai serius pada layar di depannya. Namun pandangannya tiba-tiba seolah teralihkan. Ia membuka laci mejanya, lalu melihat sejenak sebuah bingkai foto keluarga. Sudut bibirnya nampak sedikit terangkat, dalam helaan napasnya, ia perlahan mengambil lalu mengeluarkan foto itu dari bingkainya. Rendra membuka lipatan dari foto itu, hingga foto itu semakin terlihat besar dan lebar. Di sana foto keluarganya nampak terlihat lengkap, dirinya bersama Maya dan kedua putrinya. Rendra tersenyum kecil menatap foto itu. Ia lalu memasang kembali pada bingkainya, setelah itu ia taruh di atas meja kerjanya di samping tumpukan berkas. Rendra menatap kembali, senyum ramah menghiasi bibirnya. Foto itu seolah menghadirkan semangat baru untuknya. 

Matahari semakin memarcarkan sinarnya, cahayanya menyinari setiap sudut kota, membuat bayangan pepohonan jatuh panjang di sisi jalan. Bel sekolah tiba-tiba berdering nyaring, tanda waktu belajar telah usai. Suaranya menggema ke seluruh sudut ruangan, membuat sekolah yang tadinya tenang langsung berubah ramai. Anak-anak sekolah berhamburan keluar kelas, suasana halaman sekolah pun mendadak riuh, menunjukkan waktunya pulang dan kembali ke rumah.

"Yun, anak-anak ngajakin nongkrong tuh di kafe. Ikut yuk, sekalian bahas agenda kegiatan," ajak Riri.

Ayunda nampak berpikir, dahinya berkerut dan bibirnya condong miring ke samping. 

"Ayo lah Yun, lo udah lama lo ga ikutan kumpul sama mereka. Gue juga udah lama ga pergi ke Mall bareng lo," bujuk Riri. Ayunda menatap Riri sejenak, tiba-tiba senyum manis mendarat di bibirnya.

"Oke, deh. Tapi gue mau ngabarin nyokap gue dulu, yah," ucap Ayunda.

Riri langsung tersenyum riang sambil mengangguk. Ayunda gegas memberi kabar melalui pesan pada Maya.

"Udah, yuk," ajak Ayunda. 

Kedua gadis remaja itu pun melangkah bersama. Sementara di rumahnya, Maya yang tengah sibuk di dapur tak sengaja menoleh pada gawainya yang tiba-tiba menyala dan menampilkan sebuah notifikasi. Maya pun langsung menyambarnya, ia lalu melihat pesan dari Ayunda yang meminta izin untuk pulang terlambat, Maya nampak menghela napasnya, lalu melanjutkan lagi akitifitas memasaknya. 

***

Ayunda dan Riri sudah sampai di kafe. Keduanya nampak mengedarkan mata. Tak lama Riri lalu tersenyum.

"Yun, itu anak-anak di sana," ujarnya seraya mengarahkan pandangannya pada sekelompok remaja yang tengah berkumpul.

Ayunda pun ikut tersenyum.

"Yuk," ajak Riri. 

Kedua gadis itu pun menghampiri teman-temannya.

"Halo, guys. Sorry yah, kita telat," ucap Riri.

"Santai, kita-kita juga baru sampe kok. Eh mau langsung pesan, ga?" sahut salah satu remaja dari mereka.

"Boleh. Yang biasa aja kali, yah," jawab teman lainnya.

"Eh, kalo lo, Yun. Mau pesan apa? Lo kan jarang kumpul," tanyanya pada Ayunda.

"Udah, gue samain aja sama kalian," jawab Ayunda.

Lihat selengkapnya