Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #28

Pergi ke Mall

Lelaki muda itu melangkah keluar dari kafe. Pintu kaca di belakangnya menutup perlahan. Pandangannya nampak tenang dan teduh meski sinar matahari seolah langsung menyorotnya. Sesekali matanya menyipit karena cahaya, namun senyum tipis di ujung bibirnya membuatnya terlihat semakin menawan. Dengan gerakan santai namun penuh percaya diri, ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di area kafe. Tangan kirinya memegang kunci sementara tangan kanannya membuka pintu. Tanpa ragu, ia langsung masuk ke dalam mobilnya lalu duduk di kemudi dan menutup pintu mobilnya dengan mantap. 

Namun saat ia akan menginjak pedalnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Pemuda itu langsung mengambil gawainya di saku celananya.

"Papah?" ucapnya seraya mengernyit.

"Halo, Van. Kamu dimana?" ucap lelaki di sebrang sana.

"Aku... lagi di luar, Pah. Ini lagi di mobil mau jalan, tadi abis makan di kafe," jawabnya.

Doni menyandarkan kepalanya di kursi direkturnya. Ia menghela napasnya seraya menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinganya 

"Terus sekarang kamu mau kemana? Kamu sibuk ga? Kalau kamu bisa, Papah mau minta tolong sama kamu," tanya Doni.

Dahi pemuda itu nampak sedikit berkerut. Ia adalah anak Doni dan bernama Revanno. 

"Engga, si Pah. Emangnya Papah mau minta tolong apa?" balasnya.

Doni lalu beranjak berdiri seraya merapikan jasnya. Ia juga nampak menghela napas lalu melangkah dan berdiri di depan jendela.

"Gini Van, karyawan Papah besok ada yang ulang tahun. Karyawan di sini sepakat mau memberikan kado, dan Papah.. juga mau ikut kasih kado," jawab Doni. 

Lagi-lagi dahi Revanno mengkerut, bibirnya nampak mengerucut dan mengatup rapat, matanya pun terlihat sedikit menajam. 

"Karyawan Papah yang mana, Pah? Laki-laki atau perempuan?" tanyanya dengan dingin.

"Van. Ini cuma karyawan Papah aja, dia besok ulang tahun. Papah cuma mau ngasih kado aja sebagai apresiasi," jelas Doni dengan lembut.

"Papah belum jawab pertanyaan aku. Dia laki-laki atau perempuan, Pah?" tanya Revanno lagi, namun kali ini nada bicaranya terdengar sedikit tegas.

Doni nampak menghela napas seraya menunduk. 

"Perempuan," jawabnya. 

Seketika Revanno membuang wajahnya, bibirnya terkatup rapat, helaan napas dari hidungnya seolah menunjukkan ketidaksukaan. 

"Tapi dia cuma karyawan Papah, Van. Papah tau, kamu ga akan percaya, tapi Papah ga bohong. Van, kamu tau kan, seberapa berharganya keluarga kita? Papah ga akan ngelakuin sesuatu yang bikin kamu kecewa," jelas Doni lagi. 

Ekspresi Revanno perlahan melunak, wajahnya seolah berubah teduh, senyum tipis pun tersungging di bibirnya. Ada kilatan rasa tenang sekaligus tersentuh di wajahnya.

"Iya, Pah. Terus Papah mau kado apa buat karyawan, Papah itu?" tanyanya.

Doni nampak diam, alisnya sedikit berkerut, napasnya pelan seraya menatap pemandangan jalan yang tampak ramai oleh lalu-lalang kendaraan. 

Lihat selengkapnya