Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #31

Malam membawa senyuman

Malam hari perlahan turun, membentangkan langit gelap yang bertabur bintang.

Meja makan penuh dengan hidangan hangat yang aromanya menyebar ke seluruh ruangan. Suara sendok dan garpu saling beradu pelan. 

"Sayang, makannya dihabisin, yah," ucap Maya pada putri bungsunya. 

"Iya, Bu," jawab Mela.

Sementara Rendra dan Ayunda nampak tersenyum kecil. Setiap suapan terasa nikmat karena ditemani senyum ceria satu sama lain. 

"Bu, besok kan ada pensi. Jadi, aku izin pulang telat lagi, ya," ucap Ayunda.

"Lagi? Emangnya kamu suka pulang telat?" sahut Rendra.

"Engga kok, Mas. Baru tadi siang aja, Ayunda izin pulang telat, katanya mau ada acara kumpul panitia pensi, soalnya Ayunda jadi salah satu panitianya," timpal Maya.

Rendra menaruh sendok dan garpunya dengan pelan seraya merubah posisi duduknya jadi sedikit lebih tegap. 

"Yun, kamu kan udah kelas 3, sebentar lagi lulus. Bukannya harusnya kamu udah harus fokus ke ujian?" tanya Rendra.

"Iya, Yah. Abis acara pensi nanti, aku udah bukan anggota osis lagi kok," jawab Ayunda.

"Syukurlah, jadi kamu bisa lebih fokus ke ujian kamu nanti,” timpal Maya.

“Tapi Yun, tadi siang katanya abis kumpul, kamu ke Mall dulu sama Riri? Ngapain?" sambung Maya. 

"Oh, itu. Iya, Riri ngedadak minta dianterin ke Mall, katanya mau beli tas buat Mamanya," jawab Ayunda lagi. 

"Tas buat Mamanya? Tas, apa?" lanjut Maya seraya mengernyit.

"Ya, tas biasa. Katanya Mamanya Riri mau pake tas baru, soalnya lagi mau ada acara, aku juga tau acaranya apa," jelas Ayunda. 

***

Di tempat lain, sebuah rumah mewah dengan pilar-pilar kokoh di depannya, Revanno dan Doni tengah menikmati makan malam bersama. Di ruang makan yang luas dengan langit-langit yang tinggi, lampu kristal yang berkilauan memantulkan cahaya temaram yang elegan, serta meja makan yang dipenuhi hidangan lezat yang ditata rapi di atas peralatan makan yang nampak berkilau. 

"Oh iya Pah, besok Papah berangkat jam berapa ke Jepang?" tanya Revanno. Doni diam sejenak, tatapannya lalu lurus dan nampak tengah menelan makanannya.

"Kemungkinan siang. Papah kan besok mau ke kantor dulu, mau ngasih kado buat karyawan Papah itu. Oh iya Van, makasih yah kamu udah mau Papah repotin, buat nyari kado itu," balas Doni.

"Iya, Pah. Cuma gitu doang kok, tadi juga Vanno dibantuin temen," ujarnya. 

Seketika dahi Doni mengkerut.

"Dibantuin temen?" tanyanya. Revanno nampak sedikit terlonjak. Wajahnya seperti tiba-tiba menegang dan terlihat gugup. 

“Temen kamu, yang mana?” tanya Doni lagi. 

"Umm. Iya, tadi.. kebetulan, Vanno ketemu temen di Mall," jawabnya dan masih terlihat gugup.

"Teman kamu itu... cewek?" lanjut Doni. Nada bicaranya lembut namun seperti mengintimidasi dengan halus. 

"Iya," jawab Revanno seraya menunduk.

Lihat selengkapnya