Sebatas cinta, Sedalam Luka

Ulfah Pauziah
Chapter #32

Hari bahagia

Hari itu, suasana sekolah terasa beda dari biasanya, para siswa telah berkumpul dengan penuh semangat dan antusias untuk mengikuti kegiatan pentas seni sekolah. Halaman sekolah dipenuhi suasana yang meriah, alunan musik mengalun di atas panggung membuat wajah para siswa pun semakin ceria. Di belakang panggung, para siswa yang menampilkan diri tengah bersiap untuk menunjukkan aksinya. Begitu acara di mulai, tawa riuh semangat pun semakin memuncak, penonton saling bersorak untuk menyemangati. Tak terkecuali Ayunda dan Riri, kedua gadis itu tengah sibuk sebagai panitia. Namun dalam kesibukannya, mereka seolah masih tetap bisa menikmati acaranya.

Sepanjang acara, kebersamaan dan keceriaan seolah begitu terasa. Tawa riang dari para siswa semakin bersorak untuk mendukung teman-temannya yang menampilkan bakat terbaiknya, guru-guru pun turut serta menikmati pertunjukan. Setiap momen seolah menjadi bagian penting dari kenangan yang berharga. Pentas seni hari itu bukan hanya sekedar hiburan, akan tetapi tentang keberanian menampilkan diri, kreativitas untuk bisa berkarya dan kebahagiaan yang dibagikan untuk semua. Para penonton dengan kompak dan semangat menyuarakan dan mendukung acara di sekolah mereka.

Ayunda nampak tengah sibuk mengetik pada ponselnya.

"Yun, lo di sini ternyata. Ayo ke sana, kita ditanyain buat foto panitia," ajak Riri.

"Iya, iya. Bentar, bentar lagi," balas Ayunda seraya tetap mengetik.

Dahi Riri pun mengkerut. Ia lalu mengintip dan melihat pada layar ponsel milik Ayunda.

"Revanno?" sahut Riri.

"Ri, apaan deh lo. Kepo banget, pake ngintip-ngintip segala, ga sopan tau," protes Ayunda.

"Lo chattingan sama... Revanno? Revanno... yang kemarin itu?" sahut Riri lagi seraya mengernyitkan dahinya.

"Ri. Apaan, sih. Bukan, ini tuh gue cuma...,"

"Ri, Yun. Loh, ngapain lo berdua masih berdiri di sini? Ayo kita foto," ajak salah satu panitia dari mereka.

"I-iya, iya. Ayo, ayo," balas Ayunda dengan gugup.

Ayunda dan Riri pun ikut foto bersama dengan panitia lainnya. Saat berfoto bersama, Riri nampak menoleh sebentar pada Ayunda yang ada di sampingnya, dahinya berkerut, bibirnya terkatup rapat, wajahnya seolah tengah memikirkan sesuatu.

***

Malam pun turun dengan suasana yang tenang dan hangat. Udara terasa sejuk, angin berhembus dan menyusup melalui celah-celah jendela. Ayunda tengah duduk di meja belajarnya dan nampak tengah menatap ponselnya. Bibirnya tersenyum tipis namun nampak merekah saat ia membaca pesan masuk pada ponselnya itu. Jari-jemarinya mulai bergerak lincah di atas layar, Ayunda pun nampak semangat dengan senyuman manis yang terus tersungging di bibir tipisnya. 

Tiba-tiba saja dahinya mengernyit saat sebuah pesan baru mendarat. Matanya melirik sejenak ke depan, seolah menatap pada satu titik, namun tak lama jarinya mulai lanjut mengetik lalu ia kembali tersenyum. Tak berselang lama, ponsel Ayunda berdering, sebuah panggilan masuk dari kontak bernama Revanno.

"Halo," ucap Ayunda.

"Hai," balas Revanno seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang besarnya.

Sementara Ayunda perlahan beranjak dan melangkah pelan lalu berdiri di depan jendela kamarnya.

"Jadi gue beneran ga ganggu lo, nih?" tanya Revanno pada sambungannya.

"Kalo lo ganggu, ga gue angkat teleponnya," balas Ayunda.

Revanno pun langsung tersenyum.

Semakin malam, suara mereka saling mengisi ruang kosong di seberang sinyal. Jam yang berdetak menunjukkan pukul 23.45, namun Ayunda dan Revanno masih menggenggam telepon di tangannya. Di balik layar ponsel masing-masing, keduanya seolah terhanyut dalam percakapan tanpa jeda. Percakapan mereka mengalir begitu saja dari membahas soal tugas sekolah, acara pensi yang sudah lewat sampai membahas film kesukaan masing-masing. Tawa semakin pecah, sementara malam semakin larut. Namun dua remaja itu seolah masih terjaga.

Tiba-tiba Ayunda terdiam sesaat. Matanya menatap pada satu titik lagi dan alisnya nampak sedikit berkerut.

Lihat selengkapnya