Ayunda dan Revanno tengah duduk berdampingan di sebuah restoran jepang yang cukup ramai. Aroma khas makanan jepang, mulai dari ramen, sushi serta hidangan panggang lainnya seolah memenuhi udara. Para penikmat makanan itu menikmati setiap suapannya sambil saling lempar cerita dan tawa.
Ayunda dan Revanno pun nampak tengah menikmati mie ramennya.
“Bye the way. Thanks ya Yun, karena lo udah mau keluar main kayak gini, sama gue,” ucap Revanno.
Untuk sesaat Ayunda menatap Revanno dalam diam.
“Gue juga thanks, ya. Lo udah mau traktir gue kayak gini,” balas Ayunda.
Revanno sontak langsung tersenyum.
“Kan gue yang ngajakin keluar. Lagian, masa iya cewek yang harus bayar. Apalagi cuma main di Mall kayak gini doang,” ucap Revanno tersenyum seraya mengaduk mie ramennya dan sedikit menggeleng.
“Tapi jujur, gue terhibur banget, sih. Gue jadi ngerasa kayak lagi healing,” ungkap Ayunda.
“Healing? Emangnya selama ini lo jarang healing?” tanya Revanno dengan mengernyit.
“Ya… kadang-kadang, gue kalo keluar gini, biasanya sama Riri, itu juga kebanyakan di Mall kayak gini. Tapi.. Riri kadang suka sibuk belanja, gue berasa kayak lagi jalan sama ibu-ibu,” jelas Ayunda seraya tersenyum.
“Tunggu. Riri… temen cewek lo yang waktu itu?” tebak Revanno.
“Iya. Lo masih ingat kan, mukanya?” balas Ayunda. Revanno pun mampak tersenyum lagi.
“Iya, iya gue ingat. Gue pikir temen lo yang lain,” balas Revanno.
“Kebetulan, teman dekat gue sekarang cuma Riri, sih. Kita temenan dari kita pertama masuk SMA. Dan lo tau, nyokap gue nyangkanya gue sekarang lagi keluar sama Riri,” ucap Ayunda.
“Hah? Kok bisa? Lo.. emang ga bilang, mau keluar sama siapa?” tanya Revanno dengan mengernyit lagi.
“Gue bilangnya mau keluar sama temen. Tapi nyokap gue langsung ngira gue main sama Riri. Saking seringnya gue keluar sama Riri,” jelas Ayunda .
“Oh, tapi kenapa lo ga jujur aja, kalo lo bukan keluar sama Riri? Tapi sama gue,” tanya Revanno lagi.
Ayunda nampak mengedarkan matanya sekilas.
“Umm. Nyokap gue ga nanya lagi sih, jadi gue juga kayaknya ga perlu bilang,” jawabnya.
Revanno nampak masih mengernyit.
“Tapi… nyokap lo ga apa-apa kan, lo keluar main sama gue?” tanyanya lagi. Ayunda lalu menatap Revanno.
“Ya.. ga apa-apa, sih. Tapi… sebenarnya, gue dilarang deket sama cowok,” jawab Ayunda.
“Hah? Lo… dilarang deket sama cowok?” tanya Revanno terkejut. Dahinya berkerut matanya membulat namun dengan sekejap tatapannya berubah kosong dan meredup untuk beberapa detik. Campuran rasa kaget sekaligus juga bingung tergambar jelas di wajahnya.
“Nyokap gue maunya, gue fokus sekolah dulu. Apalagi sekarang kan, udah mau mendekati ujian,” jelas Ayunda.